Cara Teroris Rekrut Pengikut

Lembaga-lembaga pemerintahan tak menjadi jaminan seseorang untuk direkrut jadi teroris. Hal ini terbukti dari pengalaman lulusan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), Yudi Zulfachri.

Yudi Zulfachri pernah meninggalkan status PNS-nya dan bergabung dengan jaringan teroris. Ajaran terorisme pertama kali ia dapatkan justru dari sekolahnya. “Awalnya ingin ikut pengajian biasa. Awalnya di kampus itu belum ekstrem, agak-agak mirip dengan ISIS ini,” katanya.

Lebih lanjut, saat di SPTDN pengajian-pengajian sangat terbuka. Bahkan pengajarnya berasal dari luar. “Pengajian itu orang dari luar. Ajarannya intoleran,” kata Yudi.

Untuk menjadi sangat keras dalam pemahaman radikal, Yudi mengaku butuh waktu lama.

Hal senada diungkapkan Sofyan Tsauri, mantan teroris Aceh. Untuk memiliki paham radikal dia butuh waktu hingga 5 tahun.

Sofyan sebelumnya sudah 12 tahun menjadi polisi akhirnya berujung menjadi teroris, dan kini kembali menjauh dari terorisme. “Saya tinggal di asrama dari kecil. Saat itu mungkin terlalu baper terhadap penderitaan kaum muslimin,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat itu ia mencari jawaban. Akhirnya masuk ke dalam sebuah pengajian. “Masuk pengajian, salah kamar. Saya masuk ke dalam. Jadi semua itu dari aktivitas bacaan dulu,” katanya.

KOMENTAR

SELANJUTNYA

TERPOPULER