Mama-Mama Pendekar Terang dari Timur Indonesia

Sebanyak 8 orang ibu-ibu yang berasal dari sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur mendapat kesempatan untuk belajar ke India. Di India mereka dilatih untuk merakit, merawat serta memperbaiki panel listrik tenaga surya (LTS).

Maklum, tak semua desa di NTT bisa menikmati listrik, sehingga LTS menjadi harapan untuk menerangi malam. Berdasarkan catatan Perusahaan Listrik Negara (PLN), 4 dari 10 rumah di NTT belum dialiri listrik. Perusahaan setrum negara ini juga mencatat sampai tahun lalu sebanyak 1200 desa di NTT belum dialiri listrik.

Delapan ibu-ibu ini berusia di atas 50 tahun. Sebagian dari mereka buta huruf.  Di usia mereka, masyarakat biasa memanggil sebutan sebagai mama-mama.

Dominggus De Jesus dan Rasmi adalah 2 dari 8 mama yang mendapat kesempatan untuk belajar di India. Keduanya menjadi harapan bagi warga desanya sebagai “pendekar” dalam menerangi kampung halaman.

Selama 6 bulan mereka dilatih merangkai panel listrik tenaga surya. Mereka belajar dari lempengan PCB kosong hingga merangkai menjadi panel listrik.

“Awalnya selama 2 bulan itu, kami harus menghapal warna dan peralatan listrik tenaga surya. Hapal warna, karena resistornya itu ada warna-warnanya,” kata Mama Rasmi.

Setelah menghapal komponen-komponen LTS, barulah mereka diajarkan untuk merakit panel surya. Mereka mulai menyolder lempengan PCB kosong, hingga memasukkan komponen-komponen LTS.

“Setelah kami pulang dari India, itu kampung baru terang,” tambah Dominggas De Jesus menimpali.

Kedelapan mama ini di masing-masing kampungnya juga telah membuka bengkel. Peralatan baru dikirim satu tahun setelah mereka belajar dari India. Peralatan ini dikirim oleh Yayasan Wadah Titian Harapan, yang memfasilitasi mereka belajar ke India.

KOMENTAR

SELANJUTNYA

TERPOPULER