Sekarang ini tak sedikit para content creator yang mengatakan karya mereka bercerita atau bernarasi, tetapi sebenarnya belum benar-benar paham apa itu cerita. Yang terjadi justru malah sebatas pelabelan istilah storytelling saja. Oleh karena itu, penting bagi para kreator ini memahami kembali konsep dasar: apa itu cerita? Storytelling? Dan bagaimana menghidupkan karya dengan kekuatan berkisah yang menghantam?
Tak selesai di situ, kekuatan berkisah ini diharapkan tidak berhenti pada medium baca, tulis, merekam video atau foto, atau menciptakan ilustrasi saja. Tetapi mampu mengembangkan gagasan ini menjadi platform atau model karya lainnya. Seperti yang telah dilakukan Windy Ariestanty sebagai jurnalis perjalanan, editor, sekaligus penulis. Selain buku dan artikel, bekal storytelling pun bisa dimanifestasikan melalui seminar, workshop, atau gerakan lain yang menstimuli masyarakat mengakrabi dunia cerita. Bila boleh diistilahkan — kreator yang mumpuni dalam berkisah ini bisa diberi — Story Diversity, sebuah pengembangan produk dari storytelling.