4 Fakta Menarik Pembayaran Uang Kuliah dengan Hasil Bumi di Universitas Muhammadiyah Maumere

28 Mei 2024 21:05 WIB

Narasi TV

Kampus Universitas Muhammadiyah Maumere di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Sumber: Muhammadiyah)

Penulis: Moh. Afaf El Kurnaiwan

Editor: Rizal Amril

Di tengah maraknya isu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai semakin mahal, Universitas Muhammadiyah Maumere memberlakukan skema pembayaran perkuliahan inovatif dengan hasil bumi.

Langkah yang diambil kampus yang terletak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut bertujuan untuk menjadikan pendidikan tinggi lebih terjangkau bagi semua kalangan.

Menurut keterangan Rektor UM Maumere, Erwin Prasetyo, kebijakan pembayaran uang kuliah menggunakan hasil dari bumi tersebut sudah diterapkan sejak tahun 2018 silam.

Berikut beberapa fakta menarik terkait kebijakan tersebut:

1. Kebijakan pembayaran dengan hasil bumi

Rektor UM Maumere, Erwin Prasetyo, menjelaskan bahwa skema pembayaran uang kuliah dengan hasil bumi tersebut merupakan cara UM Maumere mengimplementasikan visi UUD 1945, yakni pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat kaum miskin., 

Dalam pelaksanaannya, jelas Erwin, mahasiswa diizinkan membayar uang kuliah dengan berbagai hasil bumi seperti pisang, kelapa, ikan kering, kain sarung, selendang tenun, bahkan batu merah.

2. Awal mula penerapan kebijakan

Menurut Erwin, kebijakan ini bermula pada tahun 2018. Kala itu, terdapat insiden berupa seorang mahasiswa yang tak dapat mengikuti ujian akhir semester karena menunggak uang kuliah.

Setelah melakukan investigasi, pihak kampus menemukan bahwa mahasiswa tersebut memiliki hasil bumi berupa pisang dan kelapa.

"Kami meminta dia membawa hasil bumi tersebut ke kampus. Dia datang dengan satu truk kayu tanpa merasa malu," kata Erwin dilansir dari detikcom (28/5/2024).

Dari peristiwa tersebut, kemudian mahasiswa lain yang keberatan dengan uang kuliah namun punya hasil bumi pun melakukan skema pembayaran serupa, seperti buah alpukat.

Menurut Erwin, mahasiswa-mahasiswanya bukan kekurangan materi, namun kekurangan uang. Kampus kemudian membantu menjual hasil bumi tersebut kepada dosen, pegawai, dan jaringan lainnya.

"Permasalahan sering kali bukan pada ketersediaan hasil bumi, tetapi sulitnya menemukan pasar yang mau membeli," imbuhnya.

3. Tak hanya hasil bumi, tapi juga cicilan murah

Selain menerima pembayaran uang kuliah dalam bentuk hasil bumi, UM Maumere juga menerapkan skema pembayaran uang kuliah yang fleksibel dengan cicilan.

Erwin menjelaskan jika mahasiswanya dapat mencicil pembayaran hingga tiga kali dalam satu semester. Bahkan, kampus memberikan dispensasi khusus, yang memungkinkan cicilan dilakukan selama enam tahun untuk program studi yang berlangsung empat tahun.

"Dengan cicilan sekitar Rp 300 ribu per bulan, kebanyakan mahasiswa mampu membayarnya," jelas Erwin.

4. Ciptakan UMKM yang dikelola mahasiswa

Tak berhenti sampai di situ, UM Maumere juga mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang digerakkan oleh mahasiswa.

Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan modal kegiatan wirausaha yang dapat membantu masyarakat setempat.

"Dengan mengembangkan UMKM, kami berharap dapat meningkatkan pendapatan kampus sehingga biaya kuliah bisa ditekan seminimal mungkin," tambah Erwin.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR