Istilah attachment style merujuk pada gaya seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
Teori attachment digagas oleh psikoanalis John Bowlby pada tahun 1950. Bowlby mendeskripsikan attachment sebagai “keterhubungan psikologis yang langgeng antarmanusia”.
Mary Ainsworth kemudian mengembangkan teori Bowlby dan melakukan eksperimen pada tahun 1969 untuk mengetahui tipe attachment pada bayi.
Dari eksperimen yang diberi nama Strange Situation itu, Ainsworth mengidentifikasi adanya empat tipe attachment yakni secure attachment, anxious attachment, avoidant attachment, dan disorganized attachment.
Apa perbedaan dari keempat attachment style tersebut?
Secure attachment
Secure attachment adalah tipe attachment yang paling ideal. Dalam eksperimen Strange Situation, bayi akan menangis saat ditinggal oleh orang tuanya, dan berhenti menangis setelah orang tuanya kembali.
Pada orang dewasa, mereka yang memiliki attachment style jenis secure akan mudah membangun hubungan yang sehat dan awet. Mereka biasanya punya rasa percaya diri yang tinggi dan mampu menjaga hubungan baik dengan orang di sekitarnya.
Hal ini dapat tercipta karena pola asuh dan didikan yang baik di masa kanak-kanak, yang membuat seseorang merasa aman dari segi fisik dan emosional.
Anxious attachment
Anxious attachment merupakan bentuk insecure attachment yang membuat seseorang dipenuhi oleh perasaan kecemasan ketika berhubungan dengan orang lain.
Orang yang memiliki attachment style jenis anxious memiliki perasaan takut akan penolakan, takut ditinggalkan, dan cenderung bergantung pada pasangannya atau kodependen.
Sifat-sifat ini biasanya muncul pada seseorang yang terlalu dimanjakan di masa kecilnya, atau justru diabaikan oleh orang tua atau walinya. Akhirnya, anak menjadi tidak mudah percaya dengan orang lain.
Avoidant attachment
Avoidant style dikenal juga dengan admissive attachment. Seseorang dengan attachment style ini kerap mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan jangka panjang. Sebab, mereka sulit untuk terhubung secara fisik dan emosional dengan orang lain.
Seseorang dengan attachment style jenis avoidant cenderung memiliki rasa kemandirian yang kuat. Mereka merasa tidak perlu bergantung dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Biasanya orang dengan karakter avoidant attachment tumbuh di lingkungan yang sering mengabaikannya, memaksa mereka untuk mandiri, dan jarang mendapatkan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya.
Disorganized attachment
Tipe attachment terakhir yakni disorganized, dicirikan dengan perilaku yang tidak konsisten dan terkadang sulit diprediksi. Orang dengan tipe attachment ini biasanya takut akan penolakan, kesulitan mengatur emosi, cenderung menghindar, hingga sulit percaya dengan orang lain.
Penyebab munculnya disorganized attachment pada seseorang bisa beragam, mulai dari trauma masa kanak-kanak, pelecehan yang pernah dialami, hingga pengabaian dari orang lain.
Tipe disorganized attachment biasanya berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang dialami penderitanya, seperti gangguan suasana hati atau gangguan kepribadian.
