Apakah kamu pernah mendengar istilah emotional blackmail? Kondisi ini terjadi ketika seseorang ingin mendapatkan sesuai dengan memanipulasi pihak lain. Caranya adalah dengan mengancam. Lantas, apa itu emotional blackmail?
Mengutip Medical News Today, emotional blackmail atau pemerasan emosional adalah kondisi ketika seseorang berusaha mencapai tujuan dengan mengorbankan orang lain. Tindakan ini melibatkan manipulasi emosional dan cenderung dengan kekerasan psikologis.
“Ini berarti menekankan seseorang agar memenuhi tuntutan atau keinginan,” ujar Konselor Profesional Mentalyc, Marissa Moore kepada Medical News Today.
Emotional blackmail tidak melibatkan tindakan fisik, melainkan dapat mempengaruhi alam bawah sadar kita. Tindakannya cukup halus dan berbahaya. Bahkan seringkali kita tidak sadar pernah mengalami atau menjadi pelaku emotional blackmail.
Bentuk emotional blackmail misalnya: “Aku ingin kamu menemaniku pergi. Kalau tidak, kamu bisa kehilangan aku”. Orang yang mendengarkan seperti tidak punya pilihan untuk menolak. Sebab, ia tidak mau kehilangan orang tersebut karena tidak menemani pergi.
Tanda-tanda emotional blackmail
Berikut tanda-tanda emotional blackmail atau pemerasan emosional:
- Membuat seseorang merasa bertanggung jawab atas masalah pelaku.
- Mengancam akan membalas dan menghukum jika keinginan pelaku tidak dituruti.
- Mempermainkan korban.
- Memanipulasi dengan air mata.
- Menyalahkan orang lain secara terus menerus (gaslighting).
Fase emotional blackmail
Berikut tahapan seseorang melakukan emotional blackmail:
- Demand
Pelaku akan meminta korban melakukan apa yang menjadi permintaannya. Ia bisa saja memainkan mimik atau gestur tubuh tanpa mengungkapkannya secara verbal.
- Resistance
Jika tidak ada perlawanan dari korban, pelaku akan merasa puas. Namun, jika permintaan ditolak oleh korban, maka pelaku akan merasa terpojokkan. Dari sinilah pelaku akan mulai melakukan bentuk-bentuk emotional blackmail.
- Pressure
Pelaku akan bersikeras meminta sesuatu yang diinginkan. Tak jarang ia akan menciptakan rasa takut dan rasa bersalah. Dalam fase inilah korban mulai mempertanyakan tindakan atau keputusan yang sebenarnya tidak salah sama sekali, tetapi seperti dianggap salah.
- Threats
Fase terakhir yaitu pelaku akan mengancam korban. Ia mulai menjalankan bentuk-bentuk emotional blackmail agar korban merasa tidak nyaman dan harus menuruti permintaan pelaku.
Bentuk emotional blackmail
Berikut bentuk emotional blackmail menurut Moore:
- Rasa bersalah
Ketika pelaku menginginkan barang, bisa saja ia menyebutkan barang tersebut di depan korban. Hal ini semata-mata ingin menunjukkan bahwa ia menginginkan barang tersebut, tetapi tidak mampu membelinya. Dan ia tahu, korban memiliki pendapatan lebih untuk bisa membelikannya barang tersebut.
- Silent treatment
Pelaku akan diam karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Tujuan silent treatment ini agar korban merasa bersalah karena tidak memenuhi keinginan pelaku.
- Ancaman dan ultimatum
Pelaku cenderung akan mengancam dan memberikan ultimatum kepada korban jika tidak memberikan apa yang diinginkan. Misalnya mengajak putus, bercerai, mengadu ke orang lain, dan masih banyak lagi.
- Menjadi korban
Pelaku akan berakting seperti menjadi korban yang tersakiti jika keinginannya tidak dipenuhi. Hal ini dilakukan untuk meraih simpati dari orang lain, terutama dari korban yang sebenarnya.
Cara mengatasi emotional blackmail
Agar tidak terlarut dalam emotional blackmail, berikut beberapa cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengatasinya:
- Mengenali jenis perilaku pengendalian agar tidak dikendalikan.
- Kenali apakah sedang berada dalam bahaya atau memiliki pasangan yang membahayakan.
- Ambil tindakan untuk mengakhiri hubungan.
- Temukan dukungan agar dapat kembali bebas.
