Advertisement

Apa Itu Fenomena Bediding yang Membuat Suhu Dingin Ekstrem di Pulau Jawa?

18 July 2024 13:15 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi orang yang merasa kedinginan. Sumber: Freepik. .

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Selama Juli 2024, masyarakat di Pulau Jawa merasakan suhu dingin yang luar biasa. Suhu dingin di tengah musim kemarau ini normal terjadi dan sering disebut fenomena bediding. Apa itu fenomena bediding?

Fenomena bediding adalah kondisi di mana suhu terasa dingin selama musim kemarau. Istilah tersebut berasal dari kata “bedhidhing” dalam bahasa Jawa yang berarti dingin. Fenomena ini normal terjadi di puncak musim kemarau, sekitar Juli hingga September.

“Fenomena bediding ini fenomena kondisi cuaca yang biasanya cuacanya dingin mendekati ekstrem karena biasanya lebih dingin dari normalnya,” ujar Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Riefda Novikarany pada Minggu (7/7/2024).

Suhu dingin yang ekstrem ini akan terasa mulai sore, malam, hingga pagi hari. Fenomena ini juga hanya terjadi di wilayah-wilayah tertentu. Biasanya daerah dataran tinggi atau pegunungan akan terpapar dingin yang cukup ekstrem. Bahkan tak jarang sampai ke titik beku.

Salah satu daerah yang mengalami suhu dingin ekstrem yaitu dataran tinggi Dieng. Pada Jumat (12/7/2024) pukul 04.00 WIB, suhu di sana mencapai -1,77 derajat Celcius. Hal ini membuat rumput dan daun di Komplek Candi Arjuna mengkristal.

Penyebab fenomena bediding

Penyebab suhu dingin ekstrem saat musim kemarau ini adalah Angin Muson Australia. Pada Juli, Australia sedang mengalami periode musim dingin. Angin yang bertiup dari Australia menuju Asia melewati Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang notabene memiliki suhu permukaan laut rendah.

Angin Muson Australia bersifat kering dan membawa sedikit uap air. Hal ini dapat memengaruhi musim kemarau di Indonesia. Selama musim kemarau, udara cenderung lebih kering karena kurang air. Udara seperti ini tidak bisa menahan panas sehingga suhu cepat dingin pada malam hari.

Akibatnya, matahari yang bersinar tanpa hambatan awan di siang hari tidak akan terasa menyengat. Sebab, udara dingin dari Muson Australia lebih dominan memengaruhi penurunan suhu udara pada siang hari.

Wilayah terdampak fenomena bediding

Fenomena bediding lebih banyak dirasakan oleh wilayah Indonesia dekat khatulistiwa hingga bagian utara seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Beberapa daerah Pulau Jawa akan terasa lebih dingin karena memiliki topografi pegunungan atau dataran rendah. Wilayah tersebut yaitu Wonosobo dan Temanggung (Gunung Sindoro dan Sumbing), dan Banjarnegara (Dieng) di Jawa Tengah.

Di Jawa Timur, fenomena bediding dapat dirasakan di Lumajang hingga Pasuruan (Semeru dan Bromo). Sementara di Jawa Barat, wilayah yang terdampak bediding yaitu Lembang, Bandung. 

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan karena perubahan suhu yang ekstrem dapat memicu penyakit.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement