Advertisement

Negara di Asia Darurat Resesi Seks, Apa Definisinya dan Dampaknya bagi Perekonomian?

26 June 2024 22:08 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi anak-anak. (Sumber: Freepik/felicities) .

Penulis: Rusti Dian

Editor: Rizal Amril

Thailand dilaporkan mengalami penurunan populasi imbas resesi seks. Bahkan, warganya disebut lebih memilih adopsi kucing. Hal ini tentu menjadi masalah serius, khususnya di negara Asia Timur. Lantas, apa itu resesi seks dan apa dampaknya?

Menurut survei National Institute of Development Administration (NIDA) pada September 2023, sebanyak 44 persen responden di Thailand kurang berminat memiliki anak.

Alasannya lantaran biaya pengasuhan anak yang tinggi dan kecenderungan tidak ingin terbebani kewajiban mengasuh anak.

Beberapa pasangan di sana lebih memilih adopsi kucing sebagai pengganti anak. Mereka khawatir jika kondisi sosial sekarang berdampak negatif bagi pertumbuhan anak.

Tentu saja ini menjadi masalah serius bagi Thailand. Mengingat populasi di sana yang terus menurun.

Tak hanya Thailand, negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Singapura juga mengalami resesi seks. Hal tersebut dibuktikan dengan tingkat kelahiran yang semakin menurun.

Situasi tersebut diprediksi akan terus berlangsung di saat warga justru mengalami penuaan yang cepat dalam beberapa dekade pasca pesatnya industrialisasi.

Apa itu resesi seks?

Resesi seks adalah istilah untuk menggambarkan pasangan yang tidak mood untuk berhubungan seks dan punya anak. Hal ini dapat berimbas pada rendahnya angka perkawinan dan enggan berhubungan seks, terutama memiliki anak.

Ada berbagai alasan yang menjadi pemicu resesi seks. Salah satunya adalah masalah ekonomi yang berdampak jangka panjang. Harga kebutuhan yang semakin mahal serta kondisi sosial politik yang tidak stabil membuat pasangan enggan memiliki keturunan. Mereka tidak ingin jika anaknya mengalami kesulitan di masa mendatang.

Seperti yang terjadi di Thailand, biaya pengasuhan anak yang semakin tinggi membuat pasangan enggan memiliki anak. Mereka tidak ingin terbebani dengan kewajiban mengasuh anak. Selain itu, tingkat kesuburan di Thailand juga tergolong rendah yaitu sebesar 1,08 kelahiran sepanjang 2023.

Alasan lainnya yaitu terlalu lelah bekerja. Di Jepang, sebanyak 17,4 persen perempuan mengaku lelah bekerja sehingga tidak punya waktu berhubungan seksual. Bahkan, mereka juga menganggap aktivitas seksual itu mengganggu produktivitas.

Resesi seks bisa berdampak pada lesunya perekonomian. Sebab, menurunnya jumlah keluarga otomatis dibarengi dengan berkurangnya keinginan untuk membeli rumah atau kebutuhan rumah tangga. Padahal, kegiatan ini berguna untuk memutar ekonomi masyarakat.

Apakah Indonesia berpotensi resesi seks?

Sejumlah negara di Asia memang mengalami resesi seks. Pemerintah berusaha semaksimal mungkin agar warganya dapat menghasilkan keturunan demi menyeimbangkan populasi di negara tersebut.

Di Indonesia sendiri, Presiden Joko Widodo menepis kekhawatiran soal resesi seks. Sebab, pertumbuhan penduduk di Indonesia masih meningkat. 

Ditambah angka perkawinan yang juga semakin tinggi. Hal ini juga diamini oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo.

“Indonesia itu setiap tahunnya ada 4,8 juta orang hamil. Kemudian setiap tahunnya ada dua juta orang menikah. Dari yang menikah itu, 1,6 juta hamil di tahun pertama,” ujar Hasto, mengutip BBC Indonesia pada 28 Januari 2023.

Meski begitu, banyak generasi muda Indonesia yang memutuskan untuk menunda menikah. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 68,29 persen generasi muda usia 16-30 tahun belum menikah. Ke depan, generasi muda yang tergolong usia gen Z ini diprediksi semakin banyak yang menunda menikah.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement