Tindakan manipulasi yang dilakukan pelaku kekerasan seksual sangat merugikan bagi korban. Tindakan tersebut dikenal dengan istilah taktik DARVO. Lantas, apa itu taktik DARVO dan dampaknya pada korban kekerasan seksual?
Taktik DARVO merupakan singkatan dari "Deny, Attack, Reverse Victim and Offender". Taktik ini adalah metode manipulatif yang digunakan oleh pelaku kekerasan untuk mengalihkan tanggung jawab dari tindakan mereka kepada korban.
Dalam situasi kekerasan seksual, pelaku sering menyangkal bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Ia juga menuduh korban berbohong atau berusaha merusak reputasi pelaku, serta berupaya membalikkan peran sehingga mereka dianggap sebagai korban.
Tentang taktik DARVO
Taktik DARVO sering digunakan terkait dengan sifat egois dan manipulatif dari pelaku. Biasanya pelaku adalah individu dengan kepribadian narsistik. Dalam konteks ini, pelaku mungkin merasa terancam dengan potensi konsekuensi dari tindakan mereka dan berusaha melindungi diri.
Taktik ini juga umum terjadi di lingkungan di mana stigma terhadap korban masih kuat, sehingga pelaku merasa lebih mudah untuk menggunakan cara ini tanpa takut mendapatkan sanksi.
Taktik DARVO terdiri dari tiga langkah utama, diantaranya:
-
Deny (Menyangkal)
Pelaku menyangkal dengan tegas bahwa tindakan kekerasan yang dituduhkan kepada mereka benar-benar terjadi. Mereka dapat menganggap bahwa korban terlalu sensitif atau berpikir bahwa masalah tersebut tidak begitu serius.
-
Attack (Menyerang)
Pelaku berusaha menyerang karakter dan kredibilitas korban. Mereka menyebut korban mengada-ada cerita atau meragukan kesehatan mental korban. Semua ini bertujuan untuk merusak kepercayaan masyarakat terhadap pengakuan korban.
-
Reverse Victim and Offender (Membalikkan Peran Korban dan Pelaku)
Dalam fase ini, pelaku tidak hanya membela diri, tetapi juga merubah narasi untuk menunjukkan bahwa merekalah yang dirugikan oleh tuduhan korban. Cara ini tentu menempatkan korban dalam posisi bersalah.
Media memainkan peran penting dalam menyajikan narasi yang dapat memperkuat taktik DARVO. Seringkali cerita media lebih fokus pada dampak emosional terhadap pelaku dan kurang mengeksplorasi pengalaman korban.
Hal ini berpotensi mengaburkan fakta dan memberikan ruang bagi pelaku untuk melarikan diri dari konsekuensi tindakan mereka.
Dampak taktik DARVO pada korban
-
Efek psikologis pada korban
Korban yang mengalami serangan DARVO mungkin merasakan dampak psikologis yang signifikan. Mereka bisa mengalami kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, dan kesulitan dalam membangun kepercayaan diri.
Terus-menerus dijadikan sebagai pihak yang bersalah bisa mengakibatkan gangguan post traumatic syndrome disorder (PTSD), di mana mereka merasa terjebak dalam siklus berpikir negatif yang sulit diatasi.
-
Perubahan persepsi masyarakat
Penggunaan taktik DARVO seringkali mempengaruhi bagaimana publik melihat korban kekerasan seksual.
Ada kecenderungan bagi masyarakat untuk lebih mempercayai pelaku dan meragukan kredibilitas korban. Apalagi jika pelaku pandai membangun narasi mereka sendiri. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak mendukung yang membuat korban merasa terisolasi dan diabaikan.
-
Menginternalisasi Kesalahan
Salah satu konsekuensi terburuk dari taktik DARVO adalah bahwa korban dapat mulai merasa bersalah dan menginternalisasi kesalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pelaku.
Korban mungkin meragukan pengalamannya sendiri dan merasa bahwa dirinya yang memicu tindakan agresif dari pelaku. Hal tersebut membuat korban semakin enggan untuk berbicara atau melapor.
Melawan dan Mencegah Taktik DARVO
Langkah-langkah Melawan Taktik Ini
Menghadapi taktik DARVO memerlukan pendekatan yang strategis. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
-
Edukasi diri tentang tanda-tanda DARVO dan rekam kejadian yang terjadi secara terperinci.
-
Kembangkan jaringan dukungan dari teman, keluarga, atau profesional yang memahami tantangan yang dihadapi korban.
-
Jaga kesehatan mental dengan mencari terapi jika diperlukan untuk membantu memahami dan mengatasi manipulasi yang dialami.
-
Masyarakat harus menciptakan lingkungan yang tidak hanya mendukung tetapi juga memberdayakan korban, serta memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa takut akan konsekuensi.
-
Memberikan pendidikan tentang kekerasan seksual dan pemahaman tentang DARVO dapat menurunkan risiko bagi korban.
Taktik DARVO merupakan tantangan serius bagi korban kekerasan seksual. Melalui pengertian dan kesadaran yang lebih besar tentang taktik ini, masyarakat dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi penyintas, serta mendorong pelaku untuk menghadapi tanggung jawab mereka.
