Marburg Virus Disease (MVD) tengah merebak di Rwanda, Afrika Tengah. Pemerintah setempat mengonfirmasi adanya 26 kasus yang teridentifikasi positif virus Marburg.
Kementerian Kesehatan Rwanda juga mengonfirmasi pada Minggu (19/9/2024) bahwa 8 pasien virus Marburg, dari 26 kasus yang teridentifikasi, meninggal dunia.
Melansir BBC, Menteri Kesehatan Rwanda Sabin Nsanzimana menjelaskan bahwa mayoritas korban meninggal akibat virus Marburg adalah petugas medis di unit perawatan intensif rumah sakit.
Seiring temuan puluhan kasus infeksi virus Marburg, Pemerintah Rwanda kini tengah melakukan pelacakan terhadap sekitar 300 orang yang telah melakukan kontak dengan pasien yang terkonfirmasi.
Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika, Matshidiso Moeti, menyatakan bahwa kasus infeksi virus Marburg di Rwanda dilaporkan terjadi di 7 dari 30 distrik yang ada di negara tersebut.
Moeti juga menyatakan bahwa pihaknya tengah memobilisasi petugas medis, peralatan tanggap wabah, dan pasokan medis darurat untuk mendukung upaya mitigasi yang dilakukan Pemerintah Rwanda.
"Kami segera menyiapkan semua aspek tanggap darurat wabah yang penting untuk mendukung Rwanda menghentikan penyebaran virus ini dengan cepat dan efektif," ungkap Moeti, dikutip dari laman resmi WHO.
WHO sendiri mengategorikan virus Marburg sebagai salah satu virus yang ganas dengan tingkat kematian (case fatality rate) sekitar 25 hingga 88 persen.
Lantas, apa sebenarnya virus Marburg, seperti apa gejala dan bagaimana mencegahnya?
Apa itu virus Marburg?
Melansir laman web Infeksi Emerging Kemenkes RI, penyakit virus Marburg adalah penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh infeksi virus Marburg. Virus Marburg sendiri merupakan virus yang masih satu famili dengan virus Ebola, keduanya termasuk dalam famili Filoviridae.
Virus ini tergolong langka namun dikategorikan berbahaya dan infeksi virus ini menyerang manusia dan sejumlah primata seperti kera dan monyet.
Penyakit virus Marburg umum ditandai dengan demam tinggi, sakit kepala parah, malaise parah, dan nyeri otot yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut dapat memburuk hingga 7-15 hari setelah muncul gejala.
Fase kritis pada penyakit ini dapat ditandai dengan pendarahan yang terjadi di beberapa area tubuh, seperti hidung, gusi, dan vagina. Pendarahan ini menjadi alasan yang paling sering terjadi pada kematian pasien penyakit virus Marburg.
Mengutip Pusat Pencegahan dan Kontrol Penyakit Amerika (CDC), gejala virus Marburg dapat muncul dalam rentang 2-21 hari setelah terjadinya infeksi.
Sementara itu, pola transmisi virus Marburg umumnya terjadi karena penularan antar-manusia atau dari kelelawar ke manusia.
Penularan virus Marburg dari manusia ke manusia umumnya terjadi melalui kontak langsung lewat darah, sekresi, dan cairan tubuh (termasuk sperma) orang yang terinfeksi.
Hal tersebut menjadi alasan mengapa petugas kesehatan merupakan salah satu kelompok yang paling rentan terinfeksi oleh virus Marburg karena seringnya bertemu dengan pasien.
Sementara penularan yang terjadi dari kelelawar ke manusia umumnya terjadi akibat kontak manusia dengan air liur, urin, dan feses kelelawar yang terinfeksi.
Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1967 lalu di Jerman dan Serbia. Pasca diidentifikasi, infeksi virus ini sempat merebak secara sporadis di berbagai negara Afrika, seperti Angola, Republik Rakyat Kongo, Kenya, Afrika Selatan, dan Uganda.
Sejak diidentifikasi pada 1967, penyebaran virus ini terjadi di berbagai negara di Afrika, Amerika, dan Eropa.
Apa saja gejala virus Marburg?
Terdapat beragam gejala yang mungkin dirasakan oleh orang yang terinfeksi virus Marburg, berikut di antaranya:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Ruam dengan benjolan datar dan menonjol,
- Nyeri dada,
- Sakit tenggorokan,
- Mual, muntah, dan diare.
Seiring berkembangnya virus dalam tubuh, gejala yang dirasakan penderita penyakit virus Marburg dapat semakin parah, seperti gagal hati, delirium, syok, pendarahan dalam, dan disfungsi multi-organ.
Bagaimana mencegah infeksi virus Marburg?
Sampai sekarang, belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit virus Marburg. Umumnya pengobatan pada pasien penyakit ini lebih bersifat suportif dan mengobati gejala.
Vaksin Ebola yang telah ditemukan dianggap berpotensi dapat melindungi diri dari virus ini, namun efektivitasnya belum teruji secara klinis.
Oleh karenanya, langkah pencegahan adalah hal yang paling mungkin dan efektif dilakukan. Terdapat sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit virus Marburg, berikut di antaranya:
- Mencegah kontak dengan kelelawar reservoir virus Marburg. Penggunaan alat pelindung diri (APD) sangat disarankan jika terpaksa pergi ke habitat kelelawar tersebut.
- Mengonsumsi daging yang matang.
- Menghindari kontak dengan orang yang diduga atau terkonfirmasi terinfeksi.
- Mencuci tangan secara rutin.
- Menunda perjalanan ke wilayah yang tengah dilanda wabah virus Marburg.
