Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) baru saja mengumumkan lima aturan baru sebagai langkah tegas dalam memerangi rasisme yang telah lama membayangi dunia sepak bola.
Aturan baru tersebut dirilis Presiden FIFA, Gianni Infantino, dalam Kongres FIFA ke-74 di Bangkok, Thailand, pada 17 Mei 2024 lalu.
Infantino menyebut bahwa rasisme adalah masalah serius yang telah meresap ke dalam masyarakat dan sepak bola.
“Rasisme adalah sesuatu yang buruk. Ini adalah momok yang ada di masyarakat kita. Dan telah disusupkan ke dalam sepak bola. Sudah terlalu lama kami tidak mampu menghadapinya dengan cara yang tepat. Kita perlu berdiri dan melawan rasisme dan mengalahkan rasisme secara bersama-sama," ujar Infantino.
Untuk itu, FIFA kemudian merilis aturan baru berisi lima pilar anti-rasisme. Lima pilar tersebut nantinya akan menjadi panduan pemberlakuan aturan anti-rasisme dalam sepak bola.
Lima pilar anti-rasisme FIFA
Lima aturan FIFA tentang rasisme mengatur tentang sanksi, mekanisme pelaporan tindakan rasisme, dan upaya edukasi anti-rasisme yang diterapkan secara global.
Berikut adalah lima pilar yang diumumkan oleh FIFA untuk memerangi rasisme:
1. Sanksi bagi pihak pelaku rasisme
Dalam aturan baru ini, pihak tim yang melakukan aksi rasisme dapat kehilangan pertandingan.
Selain itu, tim yang menerima tindakan rasis dari pihak lain juga diperbolehkan untuk keluar dari pertandingan tanpa mendapat sanksi.
Ini adalah langkah drastis untuk menunjukkan bahwa tindakan rasisme tidak akan ditoleransi.
2. Mekanisme pelaporan di tengah pertandingan
Selain ketentuan sanksi, FIFA juga akan memperkenalkan mekanisme pelaporan insiden rasisme yang dapat digunakan oleh pemain di tengah pertandingan.
Mekanisme ini nantinya juga akan mengatur isyarat khusus bagi wasit untuk menerapkan prosedur berupa penghentian, penundaan, dan meninggalkan pertandingan ketika terjadi rasisme.
3. Mendorong rasisme jadi pelanggaran pidana
Selain menindak insiden rasisme selama pertandingan, FIFA juga akan mendorong setiap negara anggotanya untuk mengakui rasisme sebagai pelanggaran pidana.
FIFA berharap dorongan tersebut akan membuat pelaku rasisme dikenakan pasal pidana dan bersalah di depan hukum.
4. Edukasi anti-rasisme
Selain merumuskan aturan pemberian sanksi, FIFA juga akan melakukan edukasi secara global tentang larangan melakukan tindakan rasisme.
Edukasi tersebut nantinya akan dilakukan FIFA melalui kerja sama dengan sekolah dan pemerintah negara-negara di dunia untuk menanamkan nilai anti-rasisme sejak dini.
5. Panel anti-rasisme pemain
Lima pilar anti-rasisme FIFA juga akan melibatkan para mantan pemain sepak bola untuk mendapatkan nasihat.
Untuk menerapkannya, FIFA nantinya akan membuat panel anti-rasisme berisi mantan pemain sepak bola terkenal yang bertugas untuk memantau dan memberi masukan tentang penerapan kebijakan ini di seluruh dunia.
Diharapkan jadi langkah kolektif
Infantino menyatakan bahwa rasisme harus dihapuskan dari sepak bola. Dengan penerapan lima pilar ini di 211 Asosiasi Anggota FIFA, diharapkan rasisme dapat dikalahkan secara kolektif.
Ia menekankan bahwa rasisme tidak memiliki tempat dalam komunitas sepak bola, dan pelaku rasisme harus dikeluarkan dari dunia sepak bola.
Baca Juga:Fakta Menarik Sosok Santo Suruh
Emanuel Adebayor, mantan pemain Timnas Togo dan bintang Real Madrid, berharap inisiatif ini dapat mengakhiri rasisme di seluruh dunia. Ia berbagi pengalamannya menghadapi rasisme di lapangan dan mengungkapkan keyakinannya bahwa langkah ini akan membawa perubahan positif.
“Saat saya bermain, (menghadapi rasisme) itu sulit. Kami semua melalui momen-momen ini dan hari ini, kami bisa melakukan perubahan,” ujar mantan bintang Real Madrid dan Arsenal tersebut yang hadir dalam Kongres FIFA di Bangkok.
Dalam Kongres FIFA tersebut, sebuah video yang memperlihatkan sejumlah tokoh sepak bola terkenal, termasuk Pierluigi Collina, Briana Scurry, Arsene Wenger, dan Harry Kane, melakukan gerakan menyilangkan tangan ditampilkan sebagai isyarat global untuk menunjukkan terjadinya insiden rasisme selama pertandingan.
