Bareskrim Polri Tolak Laporan Baru Keluarga Korban Kanjuruhan

11 April 2023 15:04 WIB

Narasi TV

Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022). Polda Jatim mencatat jumlah korban jiwa dalam kerusuhan tersebut sementara sebanyak 127 orang. (Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto/zk)

Penulis: Jay Akbar

Editor: Akbar Wijaya

Bareskrim Mabes Polri menolak laporan baru perwakilan keluarga korban tragedi Kanjuruhan terkait perlindungan anak karena 44 dari 135 korban meninggal dunia berstatus perempuan dan anak.
 
Muhammad Yahya, Staf Hukum Kontras selaku perwakilan keluarga korban mengatakan laporan baru ini diajukan karena sidang tragedi Kanjuruhan tidak menerapkan pasal perlindungan anak namun hanya Pasal 359 dan 360 mengenai kealpaan yang mengakibatkan kematiaan.
 
"Di sini niatnya kami ingin membuat laporan baru mengenai hal tadi, cuma sayangnya setelah berdiskusi panjang lebar dan alot dengan pihak kepolisian, dari SPKT juga itu menolak laporan yang kami ajukan,” kata Yahya kepada wartawan di gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (11/4/2023).
 
Yahya datang ke Bareskrim Polri bersama lima orang perwakilan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang anaknya meninggal dunia. Namun, saat audiensi dengan penyidik, hanya satu keluarga korban yang diizinkan masuk ruang SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu).
 
Ia mengatakan kedatangan para keluarga korban untuk menuntut keadilan atas tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang menewaskan 135 orang, tetapi tidak ada pihak yang bertanggung jawab dihukum atas peristiwa tragis tersebut.
 
"Alasan laporan kami ditolak karena tidak membawa cukup alat bukti. Sebetulnya itu tidak berlandaskan hukum yang di mana-mana dalam hukum acara pidana pun juga proses pembuktian itu nantinya ada di penyelidikan ditemukan atau tidak,” kata Yahya.
 
Daniel Siagian dari LBH Pos Malang yang mendampingi keluarga korban menyebut proses penegakkan hukum kasus Kanjuruhan masih jauh dari keadilan.
 
Ia mencontohkan dua orang tersangka divonis bebas dan satu tersangka divonis ringan.
Menurut Daniel, Bareskrim Polri hendaknya lebih proaktif melakukan pengembangan kasus guna mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan, tidak hanya melibatkan pasal-pasal ringan seperti Pasal 359 dan Pasal 360, melainkan harus mengacu pada akar permasalahan dari tindak pidana yang terjadi 1 Oktober 2023 itu.
 
"Sudah jelas tanggal 1 Oktober 2022 aparat melakukan kekerasan yang bersifat menggunakan kekerasan luar biasa dan harusnya Bareskrim menindaklanjuti aparat keamanan dalam hal ini personel Brimob yang melakukan penembakan gas air mata ke bagian tribun stadion," ujarnya.
 
Sementara itu, Kartini (52), ibu salah satu korban tragedi Kanjuruhan mengaku masih berat mengikhlaskan kematian putrinya dalam tragedi tersebut. Ia kecewa dengan putusan hukum yang diberikan.
 
Menurut Kartini putrinya berangkat ke Stadion Kanjuruhan untuk menonton pertandingan sepak bola karena sangat menyukai sepak bola, namun justru pulang dalam keadaan meninggal dunia.
 
"Kami tidak ingin ke depannya ada ibu-ibu yang merasakan seperti saya. Harusnya perhatian ini ke depannya jangan terulang lagi," ucap Kartini dengan suara menahan tangis.
 
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Ahmad Ramadhan membenarkan kedatangan keluarga korban tragedi Kanjuruhan ke Bareskrim Polri.
 
Ia menyebut ada lima orang perwakilan keluarga korban tragedi Kanjuruhan yang datang didampingi pengacara dan LBH Kontras dengan tujuan membuat laporan polisi terkait dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak, sebagaimana diatur dalam Pasal 80 UU Perlindungan Anak.
 
Setelah dilakukan konsultasi oleh petugas piket Dittipidum Bareskrim Polri, petugas itu tidak memberikan rekomendasi untuk penerbitan laporan polisi.
 
"Karena proses hukum masih berjalan (kasasi) sehingga belum berkekuatan hukum tetap (inkrah)," kata Ramadhan.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR