Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan berjudul “Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia”. Dari data tersebut ditemukan sebanyak delapan persen atau sekitar 71 ribu perempuan usia 15-49 tahun (usia subur) memilih childfree.
Childfree berarti individu atau pasangan yang memilih tidak punya anak secara biologis maupun proses adopsi. Hal ini bukan disebabkan oleh fertilitas, tetapi murni karena pilihan. Ada banyak faktor yang menyebabkan individu atau pasangan memilih untuk childfree, termasuk alasan psikologis.
Prevalensi childfree di Indonesia meningkat selama beberapa tahun terakhir. Menurut data SUSENAS, prevalensinya pada 2019 sebesar 7 persen.
Pada 2020 sempat menurun menjadi 6,3 persen. Kemudian pada 2021 meningkat kembali menjadi 6,5 persen. Angkanya melonjak tajam menjadi 8,2 persen pada 2022.
“Melihat prevalensi perempuan childfree dalam empat tahun terakhir yang cenderung naik, prevalensi perempuan yang tidak ingin memiliki anak kemungkinan juga akan meningkat di tahun berikutnya,” tulis BPS dalam laporannya.
Anggapan tentang childfree
Fenomena childfree sempat dipopulerkan oleh influencer bernama Gita Savitri atau dikenal dengan Gita Sav. Kala itu, Gita Sav sempat diserang sejumlah netizen ketika membagikan pengalamannya yang memilih childfree.
Kolom komentar yang seharusnya menjadi ruang diskusi justru menjadi arena pertarungan ideologi. Ada netizen yang menyebut keputusan childfree sangat bertentangan dengan pandangan tradisional yang menganggap fungsi sosial perempuan adalah pengasuhan anak.
Di Indonesia, masyarakat masih memandang bahwa ketika ada laki-laki dan perempuan yang menikah, maka mereka harus punya anak. Jika tidak punya anak maka akan dianggap sebagai aib keluarga.
Mengutip Magdalene, ini tidak terlepas dari warisan imajinasi Ibuisme Negara yang tercipta pada rezim Orde Baru.
Aktivis sekaligus penulis perempuan, Julia Suryakusumah menyebut bahwa ekspektasi gender yang tercipta sejak Orde Baru tersebut masih berlanjut dan memengaruhi publik hingga saat ini.
Dalam kerangka tersebut, kontribusi perempuan terhadap masyarakat diukur dari partisipasinya dalam reproduksi dan pengasuhan. Jadi, gagasan childfree dianggap sebagai penolakan budaya dan tanggung jawab keluarga.
Alasan di balik keputusan childfree
Keputusan childfree juga acapkali dihubungkan dengan child phobia atau pedo phobia yang berarti fobia terhadap anak kecil. Padahal ada alasan-alasan lain yang lebih krusial, diantaranya:
-
Kondisi finansial
Salah satu aspek yang paling penting dalam rumah tangga adalah finansial. Membesarkan dan merawat anak bukan perkara mudah. Butuh kesiapan finansial yang matang agar anak bisa mendapatkan pendidikan dan perawatan yang layak.
Akhir-akhir ini, biaya hidup pun semakin mahal. Bagi perempuan yang mendukung childfree, apabila kondisi finansialnya belum stabil tentu memiliki ketakutan tersendiri jika memiliki anak.
Mereka beranggapan bahwa memiliki anak dapat memengaruhi ketidakstabilan ekonomi dan beban finansial dalam keluarga.
-
Kesiapan mental untuk menjadi orang tua
Menjadi orang tua memang perlu kesiapan mental. Kondisi mental yang tidak stabil membuat perempuan yang memilih childfree merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik.
Mereka takut tidak bisa membesarkan anak dengan baik. Mengingat pola asuh sangat penting untuk tumbuh kembang anak.
-
Memiliki masalah kondisi fisik
Alasan lain perempuan memilih childfree adalah memiliki masalah kondisi fisik tertentu seperti penyakit bawaan atau kronis. Karena penyakit tersebut, perempuan tidak bisa atau tidak mampu memiliki anak.
-
Trauma masa kecil
Trauma masa kecil dapat menjadi salah satu faktor perempuan yang memilih childfree. Hal ini bisa timbul dari pola asuh keluarga di masa lalu yang memberi dampak negatif pada anak, terutama pada psikologisnya. Sebab, apa yang dilihat semasa kecil dapat memengaruhi pilihannya ketika dewasa.
-
Alasan personal
Selain alasan-alasan di atas, ada pula alasan personal dari perempuan yang memilih untuk childfree.
Misalnya mereka merasa nyaman dengan kondisi tersebut, ingin fokus mengembangkan diri dan karier, mencapai tujuan hidup tanpa terikat tanggung jawab mengasuh anak, dan lain sebagainya.
Alasan perempuan memilih childfree tidak hanya dimaknai sebagai keputusan yang negatif. Pilihan ini seharusnya mulai dianggap masuk akal di zaman sekarang, di mana kondisi perekonomian yang memburuk, terenggutnya ruang aman perempuan dan anak, dan masih banyak lagi.
