Diresmikan SBY dan Dihentikan BRIN, Berikut Sejarah dan Cara Kerja InaTEWS, Alat Pemantau Tsunami

1 Februari 2023 14:02 WIB

Narasi TV

InaTEWS buoy yang ditempatkan di Perairan Gunung Anak Krakatau pada 2019 silam. Sumber: bppt.go.id.

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghentikan program pemantauan tsunami (Ina-TEWS). Alat tersebut diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melindungi masyarakat Indonesia dari tsunami. Kini, alat tersebut tidak lagi beroperasi karena dihentikan oleh BRIN.

SBY meresmikan Tsunami Early Warning System (TEWS) pada 11 November 2008. Sistem peringatan dini terhadap bencana tsunami tersebut merupakan kemajuan dan wujud kesiapsiagaan untuk mengurangi dampak dari bahaya gempa bumi dan tsunami.

TEWS diciptakan setelah Aceh dihantam gempa dan tsunami paling mematikan pada tahun 2004. Peristiwa tersebut menewaskan lebih dari 200.000 orang. Setahun setelah itu, Indonesia mencanangkan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) pada pertengahan 2005. 

InaTEWS merupakan proyek nasional yang dikoordinasi langsung oleh Kementerian Riset dan Teknologi dengan menggandeng beberapa lembaga seperti BMKG, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Mengenal alat buoy

InaTEWS menggunakan alat bernama buoy. Buoy merupakan alat terapung pendeteksi tsunami. Alat ini akan mengawasi dan mencatat perubahan tingkat air laut di samudera. 

Buoy tsunami dipasang di beberapa titik di Indonesia seperti Laut Jawa, Sumatera, Flores, Maluku, dan Banda. Sayangnya, buoy tsunami ini sempat tidak berfungsi karena rusak dan hilang sejak 2012 hingga 2018. Akhir 2019, pemerintah meluncurkan Ina-Buoy terbaru yang dilengkapi sensor pendeteksi tekanan bawah air laut. Empat buoy pun kembali dipasang di Pantai Selatan Jawa Timur, Pantai Selatan Jawa Tengah, Selat Sunda, dan Pelabuhan Benoa Bali.

Peran BPPT membuat buoy ini diapresiasi oleh Kepala BMKG tahun 2021, Dwikorita Karnawati. Pasalnya, buoy buatan BPPT ini dilengkapi teknologi Ocean Bottom Unit (OBU) yang diletakkan di dasar laut. Alat itulah yang bisa mendeteksi ada atau tidaknya gelombang tsunami.

Selain mengembangkan alat observasi gempa dan tsunami, tugas BPPT juga memelihara peralatan tersebut, meneliti, mengembangkan, mengkaji, serta membuat inovasi teknologi. BPPT sempat khawatir apabila buoy diintegrasikan dalam BRIN akan mengalami penurunan.

Tak hanya Ina-Buoy, beberapa alat yang dimiliki InaTEWS di antaranya adalah Indonesia Coastal Acoustic Tomography (Ina-CAT), Indonesia Tsunami Observation Center (Ina-TOC), dan Indonesia Cable Based Tsunameter (Ina-CBT).

Cara kerja InaTEWS

InaTEWS memiliki dua sistem pemantauan yaitu di darat yang terdiri dari jaringan seismometer broadband dan Global Positioning System (GPS), dan sistem pemantauan di laut yang terdiri dari buoy, tide gauge, CCTV, kabel bawah laut, dan radar tsunami yang sedang dalam tahap pengembangan.

Pembagian tugas dalam InaTEWS ini adalah BMKG yang akan mengoperasikan jaringan seismometer, akselerometer, CCTV, dan radar tsunami. Kemudian BIG (Badan Informasi Geospasial) mengoperasikan GPS dan tide gauge. BPPT mengoperasikan buoy dan kabel bawah laut. Sedangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mengoperasikan radar tsunami.

Dengan menggunakan Decision Support System (DSS), InaTEWS mampu mengolah informasi dari sistem pemantauan darat dan laut tentang resiko tsunami setelah gempa. Setelah data tersebut diverifikasi, peringatan dini tsunami dapat dikeluarkan oleh BMKG.

Hanya perlu waktu lima menit bagi BMKG mengeluarkan peringatan dini ancaman tsunami setelah gempa bumi terjadi diikuti beberapa kali berita pemutakhiran dan ancaman tsunami berakhir. Inilah yang membuat BMKG mampu mengeluarkan status “awas”, “siaga”, dan “waspada”

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR