Emotional Branding: Pengertian, Tujuan, dan Strategi yang Bisa Kamu Adaptasi

5 Juni 2024 20:06 WIB

Narasi TV

Ilustrasi sekelompok pekerja tengah berdiskusi tentang emotional branding. (Sumber: Freepik/tirachardz)

Penulis: Elok Nuriyatur Rosyidah

Editor: Rizal Amril

Kamu sedang menjalankan bisnis? Selain strategi pemasaran kamu juga harus memikirkan kepuasan dan pengalaman konsumen terhadap brand kamu.

Untuk mendapatkan kepuasan pelanggan, kamu bisa menciptakan emotional branding terhadap bisnismu.

Emotional branding adalah salah satu strategi yang biasa digunakan untuk menghubungkan suatu brand dengan emosi pelanggan. 

Marc Gobe dalam bukunya yang berjudul Emotional Branding: The new paradigm for connecting brands to people (2001) menjelaskan emotional branding sebagai cara perusahaan atau sebuah merek mendekatkan diri secara emosional kepada pelanggannya.

Hal tersebut dapat dilakukan perusahaan atau merek dengan cara menganut nilai-nilai yang berkemungkinan juga dianut oleh pelanggan. 

Misalnya, sebuah perusahaan yang menganut nilai-nilai khas anak muda yang energik, serba cepat, dan memiliki mobilitas tinggi yang tergambar dalam produk dan iklan-iklannya.

Faktor emosi itulah yang nantinya akan memperkuat hubungan suatu merek dengan pelanggannya.

Ding & Tseng dalam jurnalnya yang berjudul “On the relationships among brand experience, hedonic emotions, and brand equity” (2015), bahkan menulis bahwa praktisi pemasaran perlu lebih memperhatikan faktor emosi pelanggan ketimbang keterkenalan merek dan produk.

Hal tersebut dikarenakan kedekatan emosional antara pelanggan dengan nilai yang dibawa oleh perusahaan atau sebuah merek dapat meningkatkan loyalitas pelanggan terhadap produk.

Strategi emotional branding dapat menunjukkan keunikan dan kelebihan produk dibanding kompetitor, strategi ini dianggap lebih efektif untuk menarik minat pelanggan dari pada harus menjual brand produk yang murah.

Tujuan emotional branding

Emotional branding memiliki banyak tujuan untuk membangun bisnis, berikut adalah ulasan lengkapnya

1. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan

Tujuan pertama diciptakannya emotional branding adalah untuk menjaga hubungan baik antara brand dan pelanggan. 

Jika ini diterapkan dengan baik maka akan ada hubungan berkelanjutan sehingga menjaga pelanggan untuk tetap menikmati produk yang dibuat.

2. Memberikan rasa kepuasan pada pelanggan

Kepuasan pelanggan merupakan kunci agar konsumen memberikan kepercayaan pada produk yang kamu ciptakan.

Dengan memberikan kepuasan, sebuah brand atau merek memiliki peluang besar untuk menjadi tempat utama pelanggan ketika membutuhkan produk kamu di lain kesempatan.

3. Menciptakan loyalitas pelanggan

Tujuan terakhir mengapa kamu perlu menciptakan emotional branding adalah untuk menciptakan loyalitas pelanggan. 

Dengan loyalitas pelanggan, produk yang kamu buat akan memiliki pasar sendiri yang berkemungkinan besar akan membeli setiap produk baru yang kamu buat.

Strategi emotional branding untuk produk kamu

Emotional branding dapat membangun loyalitas pelanggan, dengan catatan kamu bisa menerapkan lima strategi berikut ini

1. Memanfaatkan isu sosial

Isu sosial menjadi salah satu strategi yang bisa kamu manfaatkan untuk membuat emotional branding.

Kamu bisa memanfaatkan berbagai isu sosial untuk diterapkan dalam brand milikmu. Sebagai contoh, kamu bisa menampilkan diri sebagai brand yang peduli akan isu anti-rasisme.

Kamu bisa memberi tahu para pelanggan bahwa brand milikmu mendukung penghapusan diskriminasi berbasis rasial melalui iklan, produk, atau bagaimana perusahaanmu berjalan.

2. Menggunakan lokalitas

Selain isu sosial, kamu juga bisa mengambil lokalitas sebagai strategi emotional branding kamu.

Sebagai contoh, kamu bisa mengaitkan budaya pelanggan dengan produk yang kamu punya, sehingga mereka akan merasa produkmu sebagai salah satu bagian dari budaya yang dilakukan.

3. Inspirasi

Inspirasi bisa dibangun untuk membangun emotional branding. Orang senang dengan kisah inspiratif yang menggugah.

Kamu bisa menerapkan hal ini seperti misalnya menggunakan slogan-slogan yang mengajak pelanggan untuk berusaha sebaik mungkin, seperti yang dilakukan oleh banyak brand olahraga.

4. Aspirasi

Kamu juga bisa ciptakan branding dengan mengambil aspirasi para konsumen, mulai dari perasaan seolah-olah cita-cita mereka terwakilkan oleh produk kamu.

Caranya mulailah membangun kisah yang menghidupkan mimpi konsumen sehingga mereka merasa lebih dekat dengan brand kamu.

5. Menjadi preferensi, bukan sekadar pilihan

Strategi terakhir adalah dengan membuat strategi pemasaran yang berorientasi mempengaruhi preferensi seseorang.

Buatlah para pelangganmu percaya pada branding melalui kredibilitas, kualitas, dan nilai-nilai yang diusung oleh brand milikmu.

Ketika telah menjadi preferensi, orang akan cenderung mengedepankan brand milikmu ketimbang merek-merek yang lain.

Strategi ini seringkali dilakukan oleh brand teknologi dengan mencitrakan produk sesuai preferensi orang.

Contohnya, ketika kamu adalah seorang pekerja yang kesehariannya membutuhkan mobilitas tinggi, kamu sudah punya acuan untuk membeli produk teknologi tertentu yang sudah terkenal tahan banting, memiliki daya baterai yang awet, dan lain sebagainya.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR