Advertisement

Ibu Menyusui yang Minum Obat Bisa Berpengaruh ke ASI: Fakta atau Mitos?

04 February 2025 19:55 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi ASI. (Foto: Freepik) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Saat seorang ibu menyusui mengonsumsi obat, penting untuk diketahui bahwa sebagian kecil dari obat tersebut dapat masuk ke dalam air susu ibu (ASI).

Rata-rata, sekitar 1% dari dosis obat yang dikonsumsi oleh ibu dapat ditemukan dalam ASI. Walaupun kebanyakan obat yang ada dalam darah ibu tidak memberikan dampak negatif yang signifikan pada bayi, diperlukan perhatian khusus dalam memilih jenis obat yang akan dikonsumsi.

Menurut American Academy of Pediatrics, ibu menyusui sebaiknya hanya mengonsumsi obat ketika benar-benar diperlukan dan menggunakan dosis terendah selama waktu terpendek.

Memahami pengaruh obat terhadap ASI juga penting diketahui oleh orang tua karena risiko, terutama pada bayi yang baru lahir dan prematur.

Bayi baru lahir sangat rentan terhadap pengaruh obat yang masuk ke dalam ASI.

Paparan terhadap obat-obatan tertentu dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya atau meningkatkan risiko komplikasi, terutama pada bayi prematur atau mereka yang menderita penyakit tertentu.

Sebagai contoh, bayi dengan fungsi ginjal yang kurang baik mungkin tidak dapat mengeluarkan obat dari tubuh mereka dengan efisien, sehingga obat dapat terakumulasi dan berdampak negatif pada kesehatan mereka.

Obat yang sebaiknya dihindari

Beberapa jenis obat dikenal memiliki potensi yang lebih tinggi untuk memberikan efek buruk bagi bayi yang disusui.

Ibu menyusui harus berhati-hati terhadap obat-obatan yang dapat menghambat produksi ASI atau berisiko tinggi bagi kesehatan bayi.

Obat-obatan ini termasuk obat kemoterapi, obat untuk gangguan irama jantung, dan beberapa jenis antibiotik.

Beberapa obat tetap harus dihindari, termasuk tetapi tidak terbatas pada:

  • Amiodaron, yakni obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan irama jantung, dapat memiliki efek buruk pada fungsi tiroid bayi.

  • Garam Emas (gold salt), yang digunakan untuk pengobatan rematik, dapat menyebabkan gangguan ginjal dan reaksi kulit pada bayi.

  • Kodein yang dikenal dapat menyebabkan mengantuk dan bradikardi pada bayi.

  • Difenhidramin yang dikenal dapat menyebabkan kolik dan mengantuk pada bayi.

Bagaimana dengan obat herbal dan jamu?

Meskipun banyak orang menganggap obat herbal aman, ibu menyusui sebaiknya tidak mengambil risiko.

Banyak obat herbal belum diteliti dengan baik mengenai efeknya terhadap ASI dan bayi.

Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mulai mengonsumsi obat herbal atau suplemen lainnya.

Penting untuk konsultasi dengan tenaga medis

Sebelum mengonsumsi obat, sangat penting bagi ibu menyusui untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis.

Dokter dapat memberikan saran yang sesuai berdasarkan kondisi kesehatan ibu dan bayi, serta merekomendasikan obat yang lebih aman.

Terkadang, penanganan kondisi tertentu tidak selalu harus dengan obat. Dalam banyak kasus, ada alternatif lain yang bisa dipertimbangkan.

Misalnya, penggunaan kompres hangat, pengobatan non-obat untuk mengatasi gejala yang tidak menyenangkan, atau pendekatan lain yang tidak melibatkan penggunaan obat-obatan berisiko.

Jika penggunaan obat diperlukan, dokter juga dapat membantu memilih obat dengan profil aman untuk ibu dan bayi.

Memilih obat yang bekerja cepat dan tidak terakumulasi dalam ASI juga sangat dianjurkan, untuk meminimalisir potensi efek samping pada bayi.

Tips minum obat saat menyusui

Jika memang sudah diperbolehkan oleh dokter, maka ibu menyusui dapat meminum obat dalam takaran yang sudah diresepkan. Namun, ibu menyusui perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1. Waktu terbaik mengonsumsi obat

Waktu konsumsi obat juga berperan penting. Ibu menyusui disarankan untuk mengonsumsi obat segera setelah menyusui agar konsentrasi obat dalam ASI berkurang pada saat bayi berikutnya menyusui.

Ini akan membantu mengurangi jumlah obat yang terpapar kepada bayi.

2. Memantau reaksi bayi

Setelah mengonsumsi obat, ibu perlu memantau reaksi bayi dengan cermat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan termasuk perubahaan pola menyusui, adanya ruam pada kulit, diare, atau reaksi alergi lainnya.

Jika terdapat gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter.

3. Penanganan jika harus berhenti menyusui

Jika obat yang harus dikonsumsi ibu berisiko tinggi bagi bayi, mungkin dokter merekomendasikan untuk ibu berhenti menyusui.

Dalam situasi seperti ini, ibu disarankan untuk memerah ASI dan membuangnya selama mengonsumsi obat yang berbahaya, serta menggunakan pompa payudara untuk menjaga persediaan ASI.

Penting untuk mendiskusikan rencana menyapih dengan dokter untuk memastikan bahwa bayi tetap mendapatkan nutrisi yang diperlukan karena kesehatan dan keselamatan ibu serta bayi adalah hal yang utama.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement