India Lockdown karena Virus Nipah, Berikut Apa Saja yang Perlu Diketahui dari Penyakit ini

18 September 2023 15:09 WIB

Narasi TV

Warga memasang tanda bertuliskan "Zona penahanan Nipah" di barikade, yang dipasang untuk memblokir jalan setelah pihak berwenang menyatakan daerah itu sebagai zona penahanan, untuk mencegah penyebaran virus Nipah di desa Ayanchery di distrik Kozhikode, Kerala, India, 13 September 2023. REUTERS/Stringer

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Munculnya wabah penyakit akibat virus Nipah terjadi di wilayah Negara Bagian Kerala, India dalam dua minggu terakhir.

Melansir Reuters, Pemerintah Negara Bagian Kerala menutup sejumlah sekolah, perkantoran, dan transportasi publik sejak Rabu (13/9) minggu lalu.

Per Rabu (13/9), sebanyak dua orang dewasa dan seorang anak kecil tengah dirawat di rumah sakit karena terinfeksi virus Nipah, sementara sebanyak 700 orang dilaporkan telah menjalani tes medis.

Lonjakan kasus wabah virus Nipah di Kerala ini merupakan yang keempat kalinya terjadi di wilayah tersebut sejak 2018 lalu.

Nipah merupakan virus langka dan berbahaya yang dapat menyebabkan demam, muntah-muntah, dan gangguan pernapasan pada manusia yang terinfeksi. 

Dalam beberapa kasus, virus ini bahkan dapat menyebabkan memicu terjadinya kejang dan encephalitis (radang otak) yang menyebabkan penderitanya koma.

Mengenal virus Nipah

Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di kawasan Sungai Nipah di Malaysia. Kala itu, virus ini menginfeksi babi ternak dan manusia yang melakukan kontak dengannya.

Lonjakan kasus virus Nipah tersebut kemudian menyebar ke wilayah Malaysia dan Singapura.

Sejauh ini, persebaran virus Nipah di dunia terjadi di wilayah-wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Berdasarkan laman Infeksi Emerging Kemenkes RI, penyakit virus Nipah termasuk dalam penyakit zoonosis. Kelelawar buah merupakan host alami virus ini.

Penyakit virus Nipah tergolong sebagai penyakit dengan tingkat kematian tinggi, yakni 40 persen hingga 75 persen.

Rerata tersebut didapatkan berdasarkan kemampuan wilayah setempat melakukan penyelidikan epidemiologi, surveilans, dan manajemen klinis kasus.

Menurut studi, virus ini tak hanya bersemayam dalam kelelawar buah sebagai host alaminya.

Virus Nipah juga dapat menjangkit sejumlah hewan seperti babi, kuda, kambing, domba, kucing, dan anjing.

Hingga kini, belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk menangkal virus Nipah. Perawatan medis yang dapat dilakukan hingga kini adalah menyediakan layanan pendukung kesehatan pada pasien saja.

Oleh karenanya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan virus Nipah dalam daftar penyakit yang perlu segera diteliti dalam konteks darurat (Prioritizing diseases for research and development in emergency contexts). 

Pola penyebaran infeksi virus Nipah

Infeksi virus Nipah umumnya terjadi dari hewan ke hewan, hewan ke manusia, dan manusia ke manusia.

Melansir laman Pemerintah Kerajaan Inggris, Dalam kasus penyebaran virus Nipah pada 1998 di Malaysia, virus ini pertama kali menginfeksi babi ternak yang kemudian menyebar di antara babi-babi yang diternakkan.

Babi yang terinfeksi tersebut kemudian menginfeksi manusia yang melakukan kontak dengan babi tersebut (terpapar urin dan sekresi pernapasan babi yang terinfeksi).

Penularan infeksi virus Nipah pada hewan ke manusia juga ditemukan pada kasus lonjakan infeksi virus ini di Filipina pada 2014 lalu.

Pada 2014 lalu, wabah virus Nipah di Filipina terjadi setelah manusia mengonsumsi daging kuda yang telah terinfeksi.

Tenaga kesehatan yang merawat pasien infeksi virus Nipah secara intens juga dilaporkan dapat tertular penyakit ini.

Peneliti juga menemukan RNA virus Nipah di dalam air mani seseorang yang menerima pengobatan infeksi virus Nipah.

Penemuan tersebut membuat peneliti menduga adanya potensi penularan melalui aktivitas seksual manusia.

Gejala infeksi virus Nipah

Gejala yang timbul akibat infeksi virus Nipah dapat bervariasi dari tanpa gejala (asimptomatis), infeksi saluran napas akut (ISPA) ringan atau berat, hingga ensefalitis fatal.

Gejala awal virus ini bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.

Biasanya penderita akan merasakan pusing, mengantuk, dan kesadaran yang gampang berubah dan tanda-tanda neurologis yang menunjukkan ensefalitis akut.

Untuk kasus yang parah, penderita akan mengalami ensefalitis dan kejang, terkadang juga bisa menyerang gangguan pernafasan akut.

Gejala tersebut biasanya terjadi setelah masa inkubasi selama 4-14 hari setelah terpapar virus Nipah. Namun, dalam kasus-kasus yang khusus, gejalan dapat timbul setelah masa inkubasi hingga 45 hari.

Cara agar tidak tertular virus Nipah

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko penularan virus ini, berikut adalah beberapa caranya

  • Hindari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
  • Cuci tangan dengan bersih dan teratur.
  • Menggunakan masker.
  • Memakai sarung tangan saat menangani hewan yang sakit.
  • Konsumsi makanan sehat dan bergizi.
  • Tidak mengonsumsi nira/aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengontaminasi sadapan aren/nira pada malam hari. Oleh karenanya perlu dimasak sebelum dikonsumsi.
  • Cuci & kupas buah secara menyeluruh.
  • Buang buah yang telah tergigit kelelawar.
  • Hindari kontak dengan hewan ternak (seperti babi, kuda) yang kemungkinan terinfeksi virus Nipah. Apabila terpaksa harus melakukan kontak, maka menggunakan APD.
  • Bagi petugas pemotong hewan, sarung tangan dan pelindung diri harus digunakan sewaktu menyembelih atau memotong hewan yang terinfeksi virus Nipah. Hewan yang terinfeksi virus Nipah tidak boleh dikonsumsi.
  • Konsumsi daging ternak secara matang.
  • Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat serta petugas laboratorium yang mengelola spesimen pasien terinfeksi, menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) dengan benar.
  • Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti membersihkan tangan secara teratur dan menerapkan etika bersin.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR