Krisis Chad: Puluhan Demonstran Tewas Ditembak Aparat Keamanan

21 Oktober 2022 16:10 WIB

Narasi TV

Demonstrasi di Chad/ Reuters

Penulis: Ani Mardatila

Editor: Akbar Wijaya

Demonstrasi di N'Djamena, Ibu Kota Chad, Afrika Tengah merenggut sedikitnya 50 nyawa termasuk aparat keamanan dan 300 lainnya luka. Korban jatuh dipicu tindakan represif aparat keamanan saat menghadapi demonstran, Kamis (20/10/2022).

Peneliti Amnesty International Abdoulaye Diarra mengatakan saksi mata menyebut polisi menggunakan peluru tajam saat menghadapi demonstran. Padahal demonstran tidak menggunakan senjata.

Sebaliknya, Perdana Menteri Saleh Kebzabo dalam konferensi pers menyebut demonstrasi di negaranya sebagai pemberontakan bersenjata.

"Apa yang terjadi hari ini adalah pemberontakan rakyat bersenjata untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan dan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan ini akan menghadapi keadilan," kata Kebzabo dikutip Reuters, Kamis (20/10/2022).

Pemicu Demonstrasi

Demonstrasi juga terjadi di sejumlah kota lain seperti Doba dan Sarh di Chad Selatan. Krisis politik dipicu tewasnya Presiden Idriss Deby saat perang melawan pemberontak April 2021.

Mahamat Idrris Deby, putra Idrris merebut kekuasaan dan berjanji hanya memimpin selama 18 bulan hingga pemilu selanjutnya.

Tapi 1 Oktober lalu Deby malah mengumumkan rencana penundaan pemilu selama dua tahun. Pada 10 Oktober ia dilantik sebagai presiden Pemerintah Persatuan Nasional yang dipimpin Perdana Menteri Saleh Kebzabo.

Hal ini membuat rakyat dan partai oposisi marah. Demonstrasi pada hari Kamis (20/10/2022) di N'Djamena diadakan untuk menandai tanggal ketika militer pada awalnya berjanji untuk menyerahkan kekuasaan. 

Jurnalis, Musisi, Warga Sipil, dan Polisi Tewas 

Demonstrasi menuntut transisi pemerintah secara demokratis dilakukan pagi-pagi sekali dengan membarikade jalan dan membakar markas partai perdana menteri yang baru.

Seorang jurnalis Chad yang pernah bekerja di Reuters, Oredje Narcisse, dilaporkan tewas terkena peluru.

Korban lainnya ialah seorang polisi yang terluka parah dalam bentrokan, seorang pengunjuk rasa berusia 28 tahun yang ditembak di leher, dan musisi Chad Ray's Kim yang meninggal di rumah sakit.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan ke The Guardian telah melihat 30 orang ditembak, dan beberapa terbunuh.

“Kami turun ke jalan hari ini untuk memprotes secara damai tetapi angkatan bersenjata berpakaian preman mulai menembaki kami. Saya hitung 30 orang terluka, beberapa di antaranya sudah meninggal. Mereka kehilangan banyak darah,” kata pengunjuk rasa yang tidak mau disebutkan namanya.

Lewis Mudge, Direktur Human Right Watch di Afrika Tengah menuntut adanya penyelidikan yang mengakibatkan puluhan orang tewas dalam demonstrasi.

"Jelas bahwa penyelidikan yang tidak memihak diperlukan untuk menentukan apakah pengunjuk rasa menggunakan penjarahan dan kekerasan dan apakah pasukan keamanan secara tidak sah menggunakan kekuatan mematikan di seluruh negeri," kata Lewis pada Jumat, (21/10/2022).

Kerusuhan telah terjadi sesekali di Chad sejak Deby merebut kekuasaan tahun lalu, tetapi kerusuhan ini tampaknya yang paling berdarah.

Chad memiliki sejarah panjang kudeta dan kekacauan politik sejak bebas dari Prancis pada tahun 1960.

Chad juga menjadi salah satu negara termiskin di dunia dan juga memiliki tingkat kelaparan tertinggi. Sekitar dua juta orang menghadapi kekurangan pangan yang parah di sana tahun ini, menurut Program Pangan Dunia.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR