Advertisement

Mengenali Depresi Pascamelahirkan: Ibu Rentan dan Butuh Dukungan

20 January 2025 23:25 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi depresi pascamelahirkan. (Foto: Freepik) .

Penulis: Rizal Amril

Editor: Rizal Amril

Depresi pascamelahirkan (post-partum depression, PPD) adalah kondisi kesehatan mental yang dapat terjadi pada ibu setelah melahirkan. Kondisi ini sering kali tidak terdiagnosis karena stigma yang melekat dan keengganan untuk mengungkapkan gejala yang dialami.

Barangkali, kita lebih sering mendengar istilah "baby blues" untuk menyebut kekalutan yang dirasakan ibu pascamelahirkan.

Namun, PPD berbeda dari “baby blues”. Depresi pascamelahirkan merupakan keadaan yang lebih serius dari "baby blues" yang didefinisikan sebagai rasa kalut yang sejenak hadir pada ibu setelah melahirkan.

Berbeda dari "baby blues" yang sifatnya lebih sebentar, PPD ditandai dengan kesedihan yang persisten, penurunan harga diri, gangguan tidur, kecemasan, serta kesulitan dalam membangun ikatan dengan bayi.

Stigma yang melekat pada penderita depresi pascamelahirkan kerap membuat ibu yang merasakannya cenderung tidak menjelaskan rasa kalut yang ia alami.

Padahal, ibu di Indonesia rentan mengalami PPD. Menukil laman Sehat Negeriku Kemenkes, data BKKBN pada 2024 menyebutkan jika 57% ibu di Indonesia mengalami gejala "baby blues", kondisi depresi yang lebih ringan dari depresi pascamelahirkan.

Data tersebut dapat dijadikan gambaran betapa rentannya ibu di Indonesia mengalami baby blues yang tak tertangani dan berubah menjadi depresi.

Sejauh ini, belum data kasus depresi pascamelahirkan di Indonesia. Namun, jurnal "Faktor Risiko Depresi Pasca Persalinan di Negara-negara Asia Tenggara" (2021) yang ditulis Ajeng Khalisyah, dkk. memperkirakan prevalensi depresi pascamelahirkan di Indonesia dapat mencapai 50-70%.

Berikut seluk beluk depresi pascamelahirkan yang disarikan dari Pospartum Depression (2024) yang ditulis Carlson K, dkk. dan diterbitkan Perpustakaan Kedokteran Nasional milik AS (NIH).

Berdampak tak hanya pada ibu, tetapi juga bayi

Dampak PPD tidak hanya terasa pada individu yang mengalaminya tetapi juga berpengaruh terhadap bayi dan fungsi keluarga.

Orang tua yang mengalami PPD mungkin kesulitan dalam memberi perhatian dan perawatan yang dibutuhkan bayi.

Hal ini dapat mengganggu perkembangan ikatan emosional antara orang tua dan anak, yang sangat penting bagi perkembangan psikologis dan emosional bayi.

Selain itu, PPD yang tidak ditangani juga dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik orang tua, meningkatkan risiko untuk masalah lain dalam hubungan dan pengasuhan.

Gejala postpartum depression yang terlewatkan

Ada sejumlah gejala PPD yang kerap terlewat dari kepekaan orang-orang di sekeliling ibu yang menghadapinya.

Gejala-gejala ini penting diketahui orang di sekeliling ibu pascamelahirkan, karena depresi dapat diatasi, salah satunya, lewat dukungan orang lain.

1. Tanda-tanda emosi yang harus diperhatikan

Ada berbagai tanda emosional yang bisa mengindikasikan adanya PPD yang sering kali terlewatkan.

Ibu mungkin merasa kehilangan minat dalam aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami perasaan putus asa, atau merasa tidak berharga.

Gejala lain termasuk kecemasan yang berlebihan, perasaan kesepian, dan ketidakmampuan untuk merasakan kebahagiaan.

Penting untuk menyadari bahwa perasaan ini bukanlah hal yang normal dan memerlukan perhatian medis.

2. Perubahan perilaku dan pola tidur

Perubahan dalam perilaku sehari-hari dan pola tidur sering kali menjadi petunjuk bahwa seseorang mungkin mengalami PPD.

Ibu bisa mengalami kesulitan tidur, baik itu insomnia atau tidur berlebihan. Pola makan juga dapat terganggu, yang mungkin berujung pada penurunan berat badan atau kenaikan berat badan yang signifikan.

Ketidakmampuan untuk merasa berenergi atau selalu merasa lelah juga harus diperhatikan, karena ini bisa menjadi indikasi bahwa orang tua memerlukan dukungan lebih.

3. Kesulitan dalam menjalin ikatan dengan bayi

Satu gejala yang paling sering terlewatkan adalah kesulitan dalam menjalin ikatan dengan bayi.

Orang tua yang mengalami PPD mungkin merasa terasing dari bayi mereka atau merasa tidak terhubung.

Ini bisa muncul sebagai rasa cemas saat merawat bayi atau keengganan untuk melakukan kontak fisik.

Kesulitan ini dapat menyebabkan dampak negatif pada perkembangan emosional bayi serta membuat orang tua merasa bersalah lebih dalam.

Menyadari dan menangani ketidakmampuan ini penting untuk memastikan kesehatan mental bagi orang tua dan perkembangan positif bagi bayi.

Faktor risiko yang memengaruhi

Dialaminya PPD kerapkali dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:

1. Faktor personal dan obstetrik

Faktor personal dan obstetrik dapat berperan signifikan dalam perkembangan PPD.

Misalnya, perempuan yang memiliki riwayat masalah kesehatan mental sebelumnya, termasuk depresi atau kecemasan, lebih berisiko mengalami PPD setelah melahirkan.

Selain itu, komplikasi selama kehamilan atau kelahiran, seperti kelahiran prematur atau bayi dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian ekstra, juga bisa meningkatkan risiko.

Kehamilan yang tidak direncanakan seringkali juga menjadi faktor stres tambahan yang dapat memicu gejala PPD.

2. Peran dukungan sosial

Dukungan sosial memainkan peran penting dalam pencegahan dan manajemen PPD.

Ibu yang memiliki jaringan dukungan yang baik dari keluarga dan teman cenderung lebih mampu mengatasi tantangan yang muncul setelah kelahiran.

Kurangnya dukungan sosial, baik secara emosional maupun praktis, bisa menjadi faktor pemicu.

Ibu yang merasa terisolasi atau sendirian dalam menjalani peran baru sering kali lebih rentan terhadap kondisi ini.

3. Riwayat kesehatan mental dalam keluarga

Riwayat kesehatan mental dalam keluarga juga merupakan faktor risiko penting. Jika ada anggota keluarga yang memiliki riwayat masalah kesehatan mental, risiko seseorang untuk mengalami PPD bisa meningkat.

Bertautnya faktor genetik dengan lingkungan dapat menciptakan kerentanan yang lebih besar untuk pengembangan kondisi ini. Oleh karena itu, penting bagi perempuan yang memiliki riwayat keluarga tersebut untuk bewaspada dan mencari dukungan jika mereka mulai merasakan gejala PPD.

*Jika Anda ibu yang baru melahirkan dari merasakan gejala di atas atau Anda mendapati orang di sekeliling Anda mengalami gejala di atas, sangat disarankan untuk menghubungi layanan kesehatan mental terdekat. PPD adalah kondisi serius dan mengalaminya bukan berarti jadi ibu yang jahat.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement