Secara umum, hipertensi primer dan sekunder merupakan klasifikasi penyakit tekanan darah tinggi berdasarkan faktor penyebabnya. Memahami ini penting untuk mencegah hipertensi terjadi.
Sebagai suatu kondisi medis, hipertensi didefinisikan sebagai keadaan ketika tekanan darah berada pada tingkat yang lebih dari tingkat normal.
Sebagai gambaran, tekanan darah normal menurut Kemenkes adalah kurang dari 120/80 mmHg, sementara kategori pra-hipertensi berada pada rentang 120-139 mmHg untuk sistolik dan 80-89 mmHg untuk diastolik.
Hipertensi menjadi salah satu masalah serius karena kondisi ini merupakan salah satu faktor penyebab penyakit-penyakit seperti jantung dan stroke.
Lantas, apa bedanya hipertensi primer dan sekunder, serta apa yang bisa dilakukan jika didiagnosis hipertensi? Berikut penjelasannya.
Perbedaan hipertensi primer dan sekunder
Mengutip P2PTM Kemenkes, hipertensi primer, yang juga dikenal sebagai hipertensi esensial, adalah kondisi tekanan darah tinggi yang terjadi tanpa penyebab yang jelas.
Menurut data yang ada, hipertensi primer menyumbang sekitar 90% dari semua kasus hipertensi yang terdiagnosis.
Penyebab hipertensi primer tidak dapat ditentukan secara spesifik, tetapi beberapa faktor yang berkontribusi termasuk genetika, pola makan, kurangnya aktivitas fisik, dan stres.
Seiring bertambahnya usia, risiko seseorang mengalami hipertensi primer juga meningkat.
Sementara itu, hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu.
Kondisi ini menyumbang sekitar 10% dari total kasus hipertensi. Dalam hal ini, hipertensi dapat dianggap sebagai gejala dari penyakit yang lebih serius.
Beberapa penyebab umum hipertensi sekunder termasuk penyakit ginjal, gangguan kelenjar tiroid, dan kelainan pada kelenjar adrenal.
Sebagai contoh, hiperaldosteronisme, yang merupakan kondisi di mana kelenjar adrenal memproduksi terlalu banyak hormon aldosteron, dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Penanganan dan manajemen hipertensi
Jika Anda terdiagnosis hipertensi, terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Berikut beberapa di antaranya:
1. Pendekatan pengobatan hipertensi primer
Pengobatan hipertensi primer biasanya melibatkan perubahan gaya hidup dan penggunaan obat antihipertensi.
Perubahan gaya hidup seperti diet seimbang rendah garam, peningkatan aktivitas fisik, dan pengelolaan stres merupakan langkah pertama yang dianjurkan.
Jika langkah-langkah ini tidak berhasil, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu mengontrol tekanan darah.
2. Pengelolaan hipertensi sekunder
Dalam pengelolaan hipertensi sekunder, sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari.
Misalnya, jika hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal, maka perawatan akan difokuskan pada pengelolaan penyakit ginjal tersebut.
Ini mungkin melibatkan penggunaan obat, terapi diet, atau bahkan prosedur medis tergantung pada kondisi spesifik yang menyebabkannya.
3. Perubahan gaya hidup yang dianjurkan
Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga sangat penting dalam manajemen hipertensi.
Mengurangi konsumsi garam, menghindari alkohol berlebihan, berhenti merokok, dan menjalani pola hidup yang aktif dengan olahraga teratur dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Dengan melakukan peningkatan kecil namun signifikan dalam gaya hidup, individu dapat mengurangi risiko hipertensi dan menjaga kesehatan jangka panjang.
