Profil Edward Tirtanata, Pemilik Kopi Kenangan yang Punya 900+ Gerai di Indonesia

7 Mei 2024 14:05 WIB

Narasi TV

Edward Tirtanata. Sumber: The Jakarta Post.

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Kopi Kenangan merupakan salah satu bisnis kopi ternama di Asia Tenggara. Di Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan gerainya. Kesuksesan bisnis ini tidak terlepas dari peran Edward Tirtanata, pemilik Kopi Kenangan. Berikut profil pemilik Kopi Kenangan.

Kopi Kenangan mengusung konsep grab and go alias ambil dan pergi. Nyaris tidak ada tempat nongkrong di sekitaran gerainya. Bisnis kopi ini menjadi unicorn food and beverages pertama di Asia Tenggara usai mendapat pendanaan Seri C tahap pertama senilai 96 juta USD atau setara Rp1,5 triliun.

Per November 2023, Kopi Kenangan telah memiliki 927 gerai yang tersebar di 67 kota di Indonesia. Kopi Kenangan juga telah berekspansi ke luar negeri. Dalam rentang waktu yang sama, Kopi Kenangan sudah memiliki 23 gerai di Malaysia dan 5 gerai di Singapura.

“Kami ingin menunjukkan ke pasar internasional bahwa kopi Indonesia dapat dinikmati bukan hanya sebagai komoditas, tapi juga sebagai sebuah brand yang menghadirkan minuman berkualitas,” ujar Co-Founder dan Group CEO Kenangan Brands, Edward Tirtanata, dikutip dari Kontan.

Ambisi Edward dilakukan penuh perhitungan. Apalagi ia pernah mengalami jatuh bangun di bidang usaha. Dalam mengembangkan bisnis Kopi Kenangan, Edward dibantu oleh James Prananto dan Cynthia Chaerunnisa.

Profil Edward Tirtanata, Pemilik Kopi Kenangan

Edward Tirtanata lahir pada 13 Desember 1988 di Bandung, Jawa Barat. Ia merupakan anak dari keluarga pengusaha pertambangan. Ia menempuh pendidikan dual major yaitu Bachelor of Science dan Finance and Accounting di Northeast University, Amerika Serikat.

Hidupnya berkecukupan dan mapan sejak dini. Semasa muda, Edward bukan pekerja keras dan sering menghabiskan waktu bermain game. Ia mengaku termasuk murid malas saat duduk di bangku SMA di Jakarta Intercultural School.

Keadaan berubah saat Edward merantau ke Amerika Serikat. Saat itu, orang tuanya menelpon bahwa kondisi ekonomi keluarga sedang sulit. Bisnis mereka lesu terdampak krisis ekonomi 2008.

Hal ini lantas menyadarkan Edward untuk lebih bertanggung jawab. Ia belajar ekstra karena mengambil dua jurusan. Usahanya pun membuahkan hasil, Edward lulus dan meraih gelar kehormatan magna cumlaude pada 2010.

Setelah lulus, ia kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan keluarganya. Kala itu, tambang batu bara milik ayahnya sedang naik daun. Bahkan mereka sampai bisa membeli tongkang pertama pada September 2011. Sayangnya, bisnis keluarga mereka memburuk seiring harga batu bara yang semakin anjlok.

Cobaan tersebut membuat Edward berpikir untuk menjalankan bisnis sendiri tanpa mengikuti harga pasar. Ia mencoba berjualan baju, menjadi konsultan, menjual produk secara online, dan masuk dalam dunia komoditas.

Sepak terjang Edward bangun Kopi Kenangan

Bersama James Prananto, mereka membangun bisnis tea shop dengan target pasar kalangan menengah ke atas. Bisnis ini berangkat dari menjamurnya kedai kopi di Indonesia. Secangkir teh Lewis & Carroll Tea (L&C) dibanderol Rp40.000 ke atas.

Sayangnya, market L&C juga tidak menjanjikan karena jumlah yang sedikit. Mereka pun kembali memutar otak untuk membuka bisnis baru. Akhirnya, mereka sepakat untuk membuat usaha kopi dengan harga yang terjangkau.

Edward, James, dan Cynthia membangun bisnis Kopi Kenangan dengan modal Rp150 juta. Sebagian besar dananya diinvestasikan untuk mesin kopi. Mereka membuka gerai pertamanya di Menara Standard Chartered, Kuningan, Jakarta Selatan dan mampu menjual 700 gelas.

“Kuncinya timing-nya tepat. Karena saat itu belum ada bisnis coffee shop seperti sekarang ini,” ujar Edward, dikutip dari Bisnis.com.

Harapannya, Kopi Kenangan bisa menjadi perusahaan multinasional yang dikelola oleh orang-orang profesional, bukan sebatas perusahaan yang diwariskan kepada anak dan cucu.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR