Profil Salva Kiir, Presiden Sudan Selatan yang Tangkap Enam Jurnalis karena Mengompol

11 Januari 2023 18:01 WIB

Narasi TV

Presiden Sudan Selatan Salva Kiir berbicara dalam konferensi pers di Gedung Negara di Juba, Sudan Selatan 28 Maret 2022. REUTERS/Jok Solomun/File Foto

Penulis: Moh. Afaf El Kurniawan

Editor: Rizal Amril

Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir Mayardit, belakangan menjadi sorotan publik internasional setelah menangkap jurnalis yang kedapatan membuat berita tentang dirinya yang mengompol di sebuah acara.

Menukil Reuters, Pemerintahan Salva Kiir telah menangkap 6 jurnalis Sudan Selatan, yakni Joseph Oliver, Mustafa Osman, Victor Lado, Jacob Benjamin, Cherbek Ruben, dan Joval Toombe.

Oleh pemerintah Sudan Selatan, keenam jurnalis tersebut diduga mengetahui alur beredarnya video Salva Miir mengompol di media sosial.

Lantas, siapakah Salva Kiir, presiden yang menangkap enam jurnalis karena ketahuan mengompol? 

Profil Salva Kiir

Salva Kiir Mayardit adalah Presiden pertama Sudan Selatan. Dia sebelumnya menjabat sebagai Presiden Sudan Selatan dan Wakil Presiden Pertama Sudan dari 2005 hingga 2011.

Salva Kiir Mayardit merupakan warga lokal Sudan Selatan yang lahir pada 13 September 1951. Rekam jejak Salva Kiir Mayardit erat dengan perang saudara yang terjadi antara Sudan dengan Sudan Selatan.

Pada akhir 1960-an, ketika Salva Kiir masih belia, ia bergabung dengan Anyanya, sebuah kelompok militer pembebasan Sudan Selatan dalam Perang Saudara Sudan yang bergejolak sejak 1956.

Kiir terlibat secara langsung dalam perang saudara berkepanjangan tersebut.

Hingga tahun 1972, ketika perjanjian perdamaian Addis Ababa diteken kubu Sudan dan Sudan Selatan, Salva Kiir masih tergabung dalam tentara pembebasan Sudan Selatan dan tercatat berpangkat bintara.

Ketika Sudan kembali memanas pasca kebijakan Islamisasi pemimpin Republik Sudan, Ja'afar Nimeiri, perang saudara kembali pecah pada 1983.

Situasi tersebut membuat Kiir kembali turun ke medan perang. Ia kemudian bergabung dengan Tentara Pembebasan Sudan Selatan (SPLA) bersama tokoh-tokoh mantan anggota Anyanya lain.

Dalam organisasi militer pimpinan John Garang de Mabior tersebut, Kiir menduduki posisi penting dalam upaya pembebasan Sudan Selatan.

Pengalaman Kiir yang telah masuk organisasi militer sejak usia belia membuat John Garang menunjuk Kiir sebagai sebagai kepala sayap militer SPLA.

Salva Kiir bersama SPLA kemudian berhasil memaksa Republik Sudan meneken perjanjian damai menyeluruh pada 9 Januari 2005.

Perjanjian tersebut juga memandatkan Republik Sudan untuk melangsungkan referendum bagi publik Sudan Selatan.

Memimpin Wilayah Otonom Sudan Selatan

Perjanjian damai 2005 memaksa Republik Sudan untuk membuat wilayah otonom Sudan Selatan. Salva Kiir kemudian ditunjuk menjadi Wakil Presiden Wilayah Otonom Sudan Selatan bersama John Garang sebagai presidennya.

Namun, belum lama wilayah otonom Sudan Selatan berdiri, John Garang mengalami kecelakaan helikopter pada 30 Juli 2005.

Sebagai gantinya, Salva Kiir kemudian ditunjuk sebagai Wakil Presiden Sudan pertama dan Presiden Wilayah Otonom Sudan Selatan.

Setelah menjadi pemimpin Wilayah Otonom Sudan Selatan, Kiir populer sebagai pemimpin yang berasal dari sayap militer SPLM dan sikap pro-pemisahan Sudan-Sudan Selatan yang tegas.

Menjadi Presiden Sudan Selatan pertama

Pada tahun 2010, Wilayah Otonom Sudan Selatan melangsungkan pemilu untuk memilih pemimpin wilayah tersebut.

Salva Kiir Mayardit, yang memiliki peluang untuk maju ke pemilu Republik Sudan kala itu, memilih untuk ikut mencalonkan diri dalam pemilu Wilayah Otonom Sudan Selatan.

Dalam pemilu 2010, Salva Kiir berhasil menang dan menjadi Presiden Wilayah Otonom Sudan Selatan untuk kedua kalinya.

Setahun berselang, ketika Sudan Selatan berhasil memerdekaan diri dari Republik Sudan sepenuhnya lewat referendum pada 2011, Kiir diangkat sebagai Presiden Sudan Selatan pertama dalam sejarah berdirinya negara tersebut.

Salva Kiir dan perang saudara Sudan Selatan

Dua tahun menjadi Presiden Sudan Selatan, pada Desember 2013, Salva Miir mengambil kebijakan untuk melangsungkan perang saudara melawan wakilnya, Riek Machtar.

Kiir menuduh Riek Machtar tengah berencana melakukan kudeta. Tuduhan tersebut dibantah oleh Machtar dan dari sinilah perang saudara bermula.

Riek Machtar kemudiam membuat Gerakan Pembebasan Sudan Selatan - Perjuangan (SPLM-in-Opposition).

Bentrokan kemudian terjadi antara SPLM pimpinan Salva Kiir dengan SPLM-in-Opposition pimpinan Riek Machtar.

Perang tersebut berlangsung hingga tahun 2015 dan diperkirakan memakan 300.000 korban jiwa dan 400.000 lainnya harus mengungsi ke negara lain.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR