Profil Sayyed Ali Khamenei dari Kehidupan Awal hingga Aktivitas Politiknya

24 Mei 2024 13:05 WIB

Narasi TV

Antara

Penulis: Afaf El Kurniawan

Editor: Indra Dwi

Pada tanggal 16 Juli 1939, Sayyed Ali Khamenei, lahir di kota suci Masyhad, provinsi Khorasan. Sebagai putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang cendekiawan Islam yang dikenal dengan kesederhanaannya, Sayyed Ali tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan hidup sederhana.

Meskipun ayahnya adalah tokoh agama terkemuka, keluarga mereka hidup dalam keterbatasan. Mereka sering hanya memiliki roti dan kismis untuk makan malam, dan rumah mereka yang kecil hanya memiliki satu kamar dan ruang bawah tanah yang gelap.

Ketika ada tamu yang datang untuk berkonsultasi dengan ayahnya, keluarga terpaksa pindah ke ruang bawah tanah sementara kunjungan berlangsung. Bertahun-tahun kemudian, badan amal membantu mereka memperluas rumah dengan dua kamar tambahan.

Pendidikan Dasar dan Lanjutan

Sayyed Ali mulai belajar di maktab, sekolah dasar tradisional, pada usia empat tahun bersama kakak laki-lakinya, Mohammad.

Setelah itu, ia melanjutkan ke sekolah Islam yang baru didirikan di Masyhad. Dorongan orang tua, terutama ayahnya, sangat berperan dalam keputusan Sayyed Ali untuk melanjutkan pendidikan di seminari teologi di Masyhad.

Di bawah bimbingan ayahnya dan beberapa ulama besar, ia mempelajari logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam dalam waktu singkat, hanya lima tahun. Ia kemudian melanjutkan studi lanjutnya yang disebut darse kharij dengan ulama terkenal seperti Ayatollah Agung Milani.

Studi di Najaf dan Qum

Pada usia delapan belas tahun, Sayyed Ali memulai studi tingkat lanjutnya. Pada tahun 1957, ia berziarah ke tempat-tempat suci di Irak dan belajar di Najaf di bawah bimbingan ulama terkemuka seperti Ayatollah Hakim dan Ayatollah Shahrudi.

Namun, atas permintaan ayahnya, ia kembali ke Iran pada tahun 1958 dan melanjutkan studinya di Qum hingga tahun 1964, di mana ia mendapat manfaat dari ajaran ulama besar seperti Ayatollah Borujerdi, Imam Khomeini, dan Allamah Tabatabai.

Ketika ayahnya kehilangan penglihatan pada salah satu matanya, Sayyed Ali kembali ke Masyhad untuk merawatnya dan melanjutkan studi dengan bimbingan Ayatollah Milani dan ulama lainnya.

Setelah menyelesaikan studinya, ia mulai mengajar berbagai mata pelajaran agama kepada mahasiswa seminari dan universitas.

Aktivitas Politik

Sayyed Ali Khamenei sangat dipengaruhi oleh Imam Khomeini dalam bidang ide-ide politik dan yurisprudensi Islam. Pada tahun 1952, ketika ia berusia 13 tahun, ia terinspirasi oleh pidato Nawwab Safavi yang menentang kebijakan anti-Islam Shah.

Pada tahun 1962, di Qum, ia bergabung dengan barisan pengikut Imam Khomeini yang menentang rezim Shah yang pro-Amerika dan anti-Islam.

Selama 16 tahun berikutnya, ia terus berjuang melawan rezim Shah melalui berbagai cara, termasuk menghadapi penyiksaan, pemenjaraan, dan pengasingan.

Pada Mei 1963, Imam Khomeini memberikan misi rahasia kepada Sayyed Ali untuk menyampaikan pesan kepada Ayatollah Milani di Masyhad tentang cara mengungkap kejahatan rezim Shah.

Dia ditangkap beberapa kali karena aktivitas politiknya, termasuk di Birjand pada tahun 1963 dan di Teheran pada tahun 1964, di mana ia disiksa dan dipenjara selama dua bulan.

Setelah dibebaskan, ia mengadakan pelajaran tentang Al-Qur'an dan ideologi Islam di Masyhad dan Teheran, yang menarik banyak pemuda revolusioner.

Aktivitas ini menyebabkan ia diawasi ketat oleh SAVAK, badan intelijen Shah, dan ditangkap beberapa kali antara tahun 1972 dan 1975. Meskipun demikian, ia terus mengajar dan menyebarkan ide-ide revolusioner di berbagai kota.

Penangkapan dan Pengasingan

Pada tahun 1975, Ayatollah Khamenei ditangkap untuk keenam kalinya dan dipenjara di Teheran selama beberapa bulan di bawah kondisi yang sangat berat. Setelah dibebaskan, ia dilarang memberikan ceramah atau mengadakan kelas di Masyhad.

Namun, aktivitas rahasianya terus berlanjut hingga ia ditangkap lagi pada tahun 1976 dan diasingkan selama tiga tahun. Pengasingan ini berakhir pada akhir tahun 1978 karena kondisi politik yang berubah, dan ia kembali ke Masyhad beberapa bulan sebelum kemenangan revolusi Islam.

Kemenangan Revolusi Islam

Menjelang kemenangan Revolusi Islam pada 11 Februari 1979, Imam Khomeini membentuk Dewan Revolusi Islam dan menunjuk Ayatollah Khamenei sebagai anggota bersama tokoh penting lainnya.

Dengan demikian, ia pindah ke Teheran untuk mengambil tanggung jawab barunya dan berperan penting dalam membangun Republik Islam Iran setelah jatuhnya rezim Pahlavi.

Dengan perjuangan panjang dan pengorbanan, Ayatollah Khamenei akhirnya menyaksikan keberhasilan revolusi dan pembentukan Republik Islam di Iran, menandai akhir dari penindasan dan awal era baru bagi bangsa Iran.

Topik:

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR