Anak Korban Bullying di Bekasi Diamputasi, Keluarga Tak Kunjung Dapat Keadilan

1 November 2023 13:11 WIB

Narasi TV

Ilustrasi perundungan. Sumber Freepik.

Penulis: Rusti Dian

Editor: Margareth Ratih. F

Seorang siswa di Tambun, Bekasi menjadi korban bullying hingga kakinya harus diamputasi. Siswa berinisial F (12) sebelumnya didiagnosis kanker tulang akibat benturan keras saat terjatuh.

Bullying atau perundungan terhadap F terjadi saat masih duduk di kelas 6 SDN 09 Jatimulya, Bekasi pada Februari 2023. Perundungan dilakukan oleh kelima temannya saat jam istirahat sekolah.

“Jam setengah 10 dia diajak keluar jajan, lalu di perjalanan terjadilah aksi sleding itu oleh salah satu temannya,” ujar ibu F, Diana Novita pada Selasa (30/10/2023).

Mengutip kumparan, Diana menjelaskan kronologi perundungan terhadap F. Ketika F terjatuh, teman-temannya mulai mengejeknya untuk tidak mengadu ke ibu dan jangan menangis.

“Lalu ditinggalkanlah F sendiri, mereka lanjut jajan,” jelas Diana.

Akibat sledingan tersebut, korban mengalami memar pada bagian kaki. Saat itu, korban masih bisa kembali beraktivitas di kelas untuk melanjutkan proses belajar. Teman-temannya juga melihat kondisi F yang tengah kesakitan.

Sepulang dari sekolah, F tak bercerita kepada Diana. Selang tiga hari, barulah F mengaku merasa sakit di bagian kaki saat berjalan. Diduga terdapat luka dalam akibat sledingan tersebut.

Proses perawatan kaki F terbilang cukup panjang. Ibunya sempat membawanya ke klinik untuk pemeriksaan, hingga akhirnya berada di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta untuk pengobatan.

“Di-rontgen dan dirujuk ke proses MRI RS lengkap ya, dan MRI didiagnosis infeksi dalam,” ucapnya.

Hasil MRI keluar dan menyatakan bahwa kaki kiri F harus diamputasi. Ini adalah jalan terakhir yang harus diambil lantaran kondisi F yang kian menurun. Pasca diamputasi, kondisi F masih belum stabil karena masih di bawah pengaruh obat.

“Memang kanker, iya ada pemicunya karena terjatuh, benturan,” pungkasnya.

Guru: sudah biasa

Menanggapi kasus perundungan terhadap F, Wakil Kepala Sekolah SDN 09 Jatimulya, Sukaemah mengaku tak pernah melihat adanya aksi perundungan terhadap F. Menurutnya, aksi saling ejek di kalangan kelas 6 SD adalah hal yang biasa.

“Mungkin kalau bercanda-bercandaan ‘ah lu jelek, ah lu hitam’ mungkin ya namanya sudah kelas 6, sudah biasa kayaknya juga,”ucapnya.

Sukaemah bersikeras apa yang dialami F hanya sebuah candaan saja, bukan bentuk perundungan. Sukaemah juga tak pernah mendapat laporan terkait perundungan terhadap F. Apalagi F dikenal sebagai anak pintar, cerdas, dan soleh.

“Mereka bercanda-bercanda, main terus jajan. Jadi kalau untuk perundungan kayaknya terlalu jauh,” pungkasnya.

Bullying bukan bercanda

Perundungan bukanlah bentuk bercanda, keduanya memiliki batasan yang jelas. Dalam bercanda, semua pihak harus merasa senang dan menikmati tanpa ada yang tersakiti.

Sementara dalam perundungan terlihat adanya ketimpangan relasi antara pelaku dan korban. Pelaku adalah pihak yang merasa lebih kuat, sedangkan korban adalah pihak yang lemah.

Peristiwa ini termasuk dalam school bullying atau perundungan di sekolah. Secara definitif berarti perilaku agresif berulang oleh seseorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Tindakan ini sering ditemui dalam dunia pendidikan di Indonesia. Ada berbagai macam bentuk perundungan mulai dari fisik, verbal, non-verbal langsung, non-verbal tidak langsung, cyberbullying, hingga pelecehan seksual.

Dampak perundungan dapat berakibat fatal. Secara psikologis, anak akan mengalami trauma sepanjang hidupnya. Mereka bisa menjadi pribadi yang tertutup karena dibayangi rasa takut. Dampak secara fisik seperti yang terjadi pada F pun bisa menghambat perkembangannya. 

Diana sebagai orang tuanya terus berupaya agar F mendapat keadilan, termasuk dengan melaporkan kejadian ke Polres Metro Bekasi. Sayangnya, laporan tak kunjung direspons, baik oleh kepolisian maupun pihak sekolah.“Saya tidak mendapatkan keadilan dan jalan keluar dari pihak sekolah maupun keluarga pelaku atas aksi bullying dan dampaknya yang sedang dialami anak saya,”ucap Diana.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR