Advertisement

Darurat Militer Korea Selatan Berakhir Setelah Penolakan Parlemen

04 December 2024 19:44 WIB

thumbnail-article

Arsip Foto - Presiden Korea Selatan terpilih Yoon Suk Yeol berbicara dalam konferensi pers di Perpustakaan Majelis Nasional di Seoul, Korea Selatan, Kamis (10/3/2022). Sumber: ANTARA. .

Penulis: Margareth Ratih. F

Editor: Margareth Ratih. F

Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, mengumumkan darurat militer pada malam hari tanggal 3 Desember 2024. Keputusan ini mengejutkan publik dan menimbulkan ketegangan di kalangan masyarakat.

Yoon mengklaim bahwa langkah tersebut diperlukan untuk melindungi negara dari kekuatan komunis Korea Utara dan elemen-elemen anti-negara yang dianggapnya berakar dalam kelompok oposisi. Ia menegaskan, pemerintahannya berkomitmen untuk mempertahankan tatanan demokrasi konstitusional.

Alasan dan konteks di balik keputusan

Pencanangan darurat militer ini terjadi di tengah ketegangan politik yang semakin meningkat di Korea Selatan. Sejak pemilihan anggota Majelis Nasional pada April 2024, di mana partai oposisi memperoleh mayoritas, ketidakpuasan terhadap pemerintahan telah meningkat.

Tuduhan terhadap oposisi yang dianggap bersimpati kepada Korea Utara semakin memperburuk situasi. Penetapan darurat militer memungkinkan pemerintah untuk membatasi kebebasan pers, pertemuan, dan hak-hak sipil lainnya, yang meresahkan banyak pihak.

Setelah pengumuman darurat militer, semua kegiatan politik dilarang, dan kontrol ketat terhadap media diberlakukan. Komando Darurat Militer memerintahkan semua media untuk tunduk pada kendali pemerintah, yang berpotensi membatasi informasi yang disampaikan kepada publik. Langkah ini memicu reaksi keras dari kalangan jurnalis dan aktivis hak asasi manusia.

Ketegangan politik dan reaksi publik

Kehadiran darurat militer menyebabkan gelombang protes di berbagai wilayah Korea Selatan. Warga berkumpul di luar gedung Majelis Nasional, menuntut pencabutan tindakan tersebut. Situasi semakin memanas ketika pasukan militer mencoba memasuki gedung parlementer. Penolakan terhadap darurat militer datang tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari anggota parlemen yang mengecam langkah Yoon sebagai ilegal.

Pejabat oposisi, termasuk Lee Jae-myung, memimpin protes melawan darurat militer, mengklaim bahwa tindakan tersebut tidak sah dan berpotensi membahayakan demokrasi. Mereka mengajak masyarakat untuk bergabung dalam menentang keputusan tersebut, menunjuk pada kemungkinan dampak negatif terhadap transparansi dan akuntabilitas pemerintahan.

Lee Jae-myung, yang merupakan pemimpin Partai Demokrat, menyerukan aksi kolektif untuk menolak langkah tersebut. Ia menegaskan bahwa keadaan darurat tidak dapat diterima dan menyerukan agar rakyat tetap waspada. Banyak anggota parlemen dari partai oposisi berkomitmen untuk melindungi demokrasi dan menolak janji Yoon untuk memberantas kekuatan yang dianggapnya anti-negara.

Pencabutan darurat militer setelah 6 jam

Setelah bertahan selama enam jam, Presiden Yoon akhirnya mencabut darurat militer. Pencabutan ini dilakukan setelah Majelis Nasional memberikan suara melawan tindakan tersebut. Pada pukul 04.30 waktu setempat, kabinet Yoon mengumumkan keputusan untuk menarik kembali status darurat.

Dalam pemungutan suara malam itu, 190 dari 300 anggota parlemen hadir dan semuanya sepakat untuk mencabut keputusan darurat militer. Bersama dengan kritik dari pihak oposisi dan masyarakat, tindakan cepat parlemen menunjukkan adanya ketidakpuasan terhadap langkah yang diambil oleh presiden, yang sebelumnya terlihat tidak mampu mengendalikan situasi.

Dampak keputusan terhadap Kabinet Yoon

Keputusan pencabutan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kredibilitas dan legitimasi kabinet Yoon. Setelah protes besar-besaran serta penolakan dari berbagai lapisan masyarakat, presiden sekarang menghadapi tantangan besar dalam meraih kembali dukungan publik.

Pencabutan darurat militer telah menjadi titik balik bagi pemerintahan Yoon, yang sebelumnya dipandang lemah. Ketidakpuasan terus melonjak di kalangan masyarakat, desakan untuk pemakzulan terhadap presiden mulai menguat, dan ketegangan politik di Korea Selatan semakin nyata.

Masyarakat mengingat praktik otoriter masa lalu di Korea Selatan, di mana darurat militer digunakan untuk menekan gerakan pro-demokrasi. Kekhawatiran ini muncul kembali dan membuat banyak orang khawatir tentang masa depan demokrasi di negara tersebut.

Situasi di Korea Selatan menarik perhatian komunitas internasional. Banyak negara mengamati dengan cermat perkembangan ini, dan beberapa mengungkapkan keprihatinan mendalam atas potensi pelanggaran hak asasi manusia serta gangguan terhadap demokrasi. 

Respons yang cepat dan kuat dari berbagai negara menunjukkan bahwa stabilitas politik di Korea Selatan tidak hanya memengaruhi negara tersebut, tetapi juga berdampak pada kawasan Asia Timur secara keseluruhan.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement