5 Tipe Stress Language yang Jarang Diketahui Orang

22 Mei 2024 16:05 WIB

Narasi TV

Keenan Costance / Pexels

Penulis: Rusti Dian

Editor: Indra Dwi

Tahukah kamu bahwa stress juga memiliki “bahasa” yang harus dipahami? Istilah ini dikenal dengan stress language. Ketika kamu memahami stress language, maka kamu bisa menghadapi masalah tersebut. Apa saja tipe-tipe stress language? Simak penjelasan berikut ini!

Selama ini istilah yang familiar adalah love language alias bahasa cinta. Love language memudahkan seseorang untuk memahami dan meningkatkan komunikasi dengan diri sendiri maupun orang terdekat.

Tidak hanya cinta saja yang memiliki bahasa, memahami bahasa stress juga akan memudahkan dalam menjalani hidup.  Stress language atau bahasa stress adalah cara seseorang menggambarkan pikiran dan perasaan saat merasa stress atau sedang menghadapi masalah. 

Konsep stress language diungkapkan oleh pakar kesehatan Chantal Donnelly. Menurutnya, stress language menjadi cara untuk mengeksplorasi perilaku pasangan saat sedang kesulitan atau kewalahan.

Jika kamu memahami stress language, kamu bisa mengontrolnya dengan baik ketika sedang menghadapi masalah. Memahami stress language juga dapat menciptakan ketentraman diri sendiri maupun saat berhubungan dengan orang lain.

Tipe stress language

Berikut tipe stress language menurut Chantal Donnelly:

  • The Exploder (Peledak)

Seorang the exploder cenderung akan meledak-ledak ketika sedang menghadapi stress. Ia akan marah, bahkan sampai menuding orang lain atas kesulitan yang sedang dihadapinya.

Stress language ini biasa disebut sebagai respons fight-or-flight (melawan atau lari). Apapun situasinya, the exploder merespons masalah sebagai sebuah krisis. Ia akan marah, paranoid, dan memiliki keinginan untuk menyerang di tengah-tengah percakapan.

  • The Imploder (Pengebom)

The imploder akan mengalami kesulitan untuk berkontak mata dengan orang lain, termasuk mengekspresikan emosinya. Ia cenderung akan memendam stressnya sendiri dan bersembunyi dari orang lain. Perilaku the imploder sering disalah artikan sebagai bentuk pengabaian akan masalah.

  • The Fixer (Pemecah Masalah)

The fixer memang terdengar dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Namun, pada suatu waktu, the fixer akan mengomel, melampaui batas, dan tidak percaya akan kemampuan seseorang.

Ia akan segera bertindak dan memperbaiki sesuatu, bahkan di saat tidak ada yang perlu diperbaiki sekalipun. Ia lebih banyak bertindak seperti orang tua dibanding pasangan atau orang yang setara.

  • The Denier (Penyangkal)

The denier akan menganggap bahwa stress adalah kelemahan. Ia bisa terlihat sebagai orang yang optimis, tetapi buta akan kenyataan bahwa stress adalah sesuatu yang wajar. 

Biasanya, the denier akan mengatakan “saya akan baik-baik saja, tidak apa-apa”. Perasaan stress yang dialami akan dipendam. Hingga suatu saat nanti, ia tidak mampu menahan itu, maka ia akan menjadi orang yang meledak-ledak.

  • The Numb-er (Mati Rasa)

The numb-er akan menjadikan pelarian sebagai strategi menanggulangi stress. Entah itu mengonsumsi alkohol, obat-obatan, game online, belanja, judi, dan lain sebagainya. The numb-er cenderung akan melakukan sesuatu yang tampak berlebihan dan tidak sehat.

Itu tadi lima bentuk stress language manusia. Apakah kamu telah mengidentifikasi mana yang menjadi stress language-mu?

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR