Al-Qur’an menceritakan kisah Nabi Daud AS diawali dari bagaimana ia mampu mengalahkan bala pasukan tentara dengan jumlah yang besar, padahal jika dirinya dikisahkan berperawakan kecil.
Perawakan fisik memanglah bukan sebuah batasan asalkan nyali telah berdiri kokoh di jiwa. Frasa itu menggambarkan secara garis besar kisah dari Nabi Daud AS, bagaimana dengan fisiknya yang kecil namun nyali yang besar mampu menjadi seorang kesatria pemberani yang bahkan pada akhirnya menjadi raja.
Bagaimana sebaiknya kita memaknai dan mengamalkan kisah Nabi Daud AS? Apakah dengan menjadi berani kita bisa sesuka hati menerobos apapun di depan kita?
Jagoan Ketapel dengan Nyali Besar
Al-Qur’an mengisahkan peperangan yang terjadi di antara dua tokoh: Jalut dan Thalut. Dikisahkan saat pasukan Thalut hendak menuju medan perang, mereka singgah pada suatu sungai dan pemimpin pasukan tersebut berkata ‘jangan ada yang minum dari sungai ini, kalau terpaksa teguk saja’. Namun, sebagian besar pasukannya justru minum dari sungai tersebut.
“Itu dinilai oleh pimpinan pasukan bahwa ini tidak wajar jadi tentara. Tidak disiplin. Disuruh pulang [pasukan Thalut], maka tinggal pasukannya sedikit,"terang Quraish Shihab.
Kondisi jumlah pasukan yang tidak imbang antara Jalut dan Thalut membuat perang tersebut diputuskan dengan sistem duel (1 vs 1). Hal tersebut atas permintaan dari Jalut yang kemudian meminta seorang perwakilan dari Thalut untuk maju melawannya.
Namun, saat itu tidak ada satupun perwakilan dari Thalut yang berani untuk maju mewakili pasukannya. Hingga, sang raja pun berikrar siapapun yang berani untuk maju akan dinikahkan dengan putrinya.
“Daud maju, yang pendek dan kecil ini. Tapi, dia ahli ketapel. Dari jauh dia tembak, kena kepalanya [musuhnya] dan langsung mati. Pasukannya [Jalut] kocar-kacir dan menanglah Daud. Setelah raja meninggal, dia diangkat menjadi raja. Maka, memimpinlah dia negara itu dengan segala keahlian dan keistimewaannya,” jelas Quraish Shihab.
Tidak Hanya Nyali, Jiwapun Besar Dimilikinya
Keberanian dan nyali besar yang dimiliki oleh Nabi Daud AS meninggalkan decak kagum, tapi pembelajaran yang kita dapat petik darinya tidak hanya sebatas pada itu.
Saat ia didaulat sebagai raja, terdapat kisah menarik yang dapat kita maknai dan amalkan dalam konteks kehidupan saat ini. “Daud itu raja, tapi dia tidak mengambil sepeserpun dari harta negara untuk kepentingan dirinya. Karena itu Nabi Daud bekerja sendiri di waktu dia tidak bertugas” terang Quraish Shihab.
Selisih Pendapat Dua Nabi
Quraish Shihab turut menjelaskan sebuah kisah menarik yang terjadi di zaman Nabi Daud AS, di mana dua nabi–Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS–berbeda pendapat terhadap suatu peristiwa.
“Dua orang berselisih, petani dan pengembala. Sang pengembala memiliki kambing masuk di pagar dan makan harta pertanian milik petani. Mereka mengadu pada Nabi Daud dan berkatalah ‘kalau begitu, ganti rugi mu kasih dia kambingmu.’ Hal tersebut didengar oleh Nabi Sulaiman dan berkata ‘kasih dia sementara kambingnya, dia bisa ambil susunya, anaknya, dan kalau sudah sempurna [ganti ruginya] maka ia bisa mengembalikan kambing itu’” ujar Quraish Shihab.
Kisah perbedaan pendapat ini menjadi menarik untuk kita cermati dan maknai, sebab bahkan Nabi yang dijaga secara langsung oleh Tuhan pun masih bisa untuk berbeda pendapat antar sesama nabi. Sedangkan, dewasa ini para ulama yang memiliki pendapat berbeda seringkali dibenturkan oleh narasi yang jauh dari kata ‘arif’.
Mau tahu lebih banyak tentang kisah-kisah lainnya?
Saksikan Shihab & Shihab edisi Ramadan berikutnya, tayang setiap hari jelang waktu berbuka puasa di Indosiar dan Vidio.com setiap harinya. Shihab & Shihab menemani kamu menantikan waktu berbuka puasa dengan dialog antara Quraish Shihab dan Najwa Shihab membahas kisah-kisah menarik dan berharga dalam Al-Qur’an.
Sampai jumpa menjelang waktu berbuka!
