ADVERTISEMENT

Al-Qur'an Dibakar dan Dirobek di Negara Eropa, Mengapa Simbol Islam Kerap Jadi Kambing Hitam?

1 Februari 2023 03:57

Narasi TV

Para pengunjuk rasa melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, Senin (30/1/2023), untuk mengecam pembakaran salinan al-Qur'an oleh politisi garis keras Swedia, Rasmus Paludan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc

Penulis: Rahma Arifa

Editor: Akbar Wijaya

Dalam dua pekan terakhir, Stram Kurs Rasmus Paludan sudah dua kali membakar al-Quran di depan gedung Kedutaan Besar Turki. Aksi Paludan diikuti perobekan al-Qur'an di Den Haag, Belanda, oleh seorang bernama Edwin Wagensveld, pada 22 Januari 2023.

“Akan ada aksi yang sama di berbagai kota, saatnya menjawab ketidak hormatan dari Islam dengan ketidak hormatan” kata Wagensveld seraya merobek halaman al-Qur'an dalam video unggahannya (23/1/2023).

Tindakan provokatif Paludan dan Wagensvel terhadap simbol suci umat Islam menuai kecaman berbagai kalangan.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu menyatakan pemerintah Swedia turut bersalah atas pelecehan agama Islam sebab pihak kepolisian Swedia memberikan izin resmi atas protes yang dilakukan oleh Paludan.

Ankara juga membatalkan rencana kedatangan Menteri Pertahanan Swedia, Pal Jonson, yang sebelumnya telah dijadwalkan.

Kecaman atas aksi Paludan juga terjadi di negara lain. Ratusan umat muslim di berbagai negara mayoritas Islam melakukan demonstrasi di depan kantor Kedutaan Besar Swedia.

Di Jakarta, ratusan warga mendatangi kantor Kedubes Swedia pada Senin (30/1/2023) sebagai bentuk kecaman atas aksi Paludan. Pemrotes terlihat membakar foto Palusan dengan bendera Swedia, Denmark dan Belanda.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri RI memanggil Duta Besar Swedia untuk Indonesia Marina Berg untuk membahas kejadian tersebut.

Aksi protes juga dilakukan di Malaysia. Sekitar 1000 orang mendatangi Kedutaan Besar Swedia yang dinilai bungkam terhadap pelecehan simbol suci umat Islam yang telah dilakukan Paludan.

Perdana Meneteri Malaysia Anwar Ibrahim mendesak pemerintah Swedia untuk menindak lanjut Paludan.

Begitu pula di Pakistan, Irak, Iran dan Lebanon. Ribuan masa melakukan unjuk rasa atas aksi Paludan seraya mengangkat al-Qur'an.

Sebanyak 12.000 massa dari Partai Tehreek-e-Labiak Pakistan melakukan aksi di Lahore, Pujab. Aksi juga dilakukan di Tehran dan Beirut dimana ratusan pemrotes membakar bendera Swedia.

Garis Politik Paludan dan Wagensveld

Ini pun bukan pertama kalinya Wagensveld dan Paludan merusak al-Qur'an. Pada Oktober 2022 silam, Wagensveld sempat diamankan aparat setelah membakar al-Qur'an dalam sebuah aksi di Kota Rotterdam.

Wagensveld juga pernah diamankan aparat karena meneriakkan penghinaan pada Nabi Muhammad dalam aksinya pada November 2022. 

Paludan dan Wagensveld, merupakan politisi dari partai sayap kanan di masing-masing negara.

Paludan yang dikenal dengan sikap anti-Islam dan anti-imigran berasal dari partai sayap kanan Denmark, Stram Kurs atau Garis Keras.

Sedangkan Wagensveld merupakan pemimpin organisasi anti-Islam, Patriorik Eropa Melawan Islamisasi atau PEGIDA.

PEGIDA, organisasi yang dimulai dari grup komunitas Facebook, telah menjalar menjadi jaringan anti-Islam Eropa yang kerap melangsungkan protes besar untuk menolak kedatanggan pencari suaka di Eropa karena dianggap sebagai upaya islamisasi.

Protes ke Turki Tolak Swedia Jadi Anggota NATO

Paludan berjanji akan terus melakukan aksi pembakaran al-Qur'an setiap minggunya sampai Swedia dan Denmark diterima masuk ke dalam NATO.

“Setelah dia (Presiden Erdogan) membiarkan Swedia menjadi anggota NATO, saya berjanji tidak akan membakar al-Qur'an di luar kedutaan Turki. Kalau tidak, saya akan melakukannya setiap hari Jumat pukul 14.00” kata Paludan dikutip Al Jazeera (28/1/2023).

Aksi provokasi islamofobik Paludan didasari penjegalan Turki atas keinginan Swedia dan Denmark untuk bergabung ke NATO. Kedua negara skandinavia tersebut secara resmi melamar keanggotaan NATO sejak Mei 2022 silam.

Alasan Turki kedua negara dianggap aktif melindungi dan mendukung persenjataan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan kelompok Kurdis-Syria, Satuan Perlindungan Rakyat (YPG), organisasi militer yang dicap sebagai teroris oleh rezim Erdogan.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mensyaratkan Swedia dan Finlandia untuk memulangkan aktivis PKK/YPG dari negaranya jika ingin mendapatkan restu Ankara untuk masuk NATO.

Islam sebagai Kambing Hitam

Menurut sejarawan Amerika Richard Wollin, politisi sayap kanan kerap menjadikan Islam sebagai kambing hitam politik Eropa.

Menurutnya, narasi ‘islamisasi Eropa’ turut dihembuskan politisi sayap kanan demi memupuk ketakutan masyarakat Eropa akan komunitas imigran.

Dengan ini, pembentukan sentimen anti-Islam diiringi dengan menyudutkan sumber permasalahan sosial kepada masyarakat imigran dan Islam sebagai agama ‘pendatang’. 

“Serangan kepada muslim dan Islam di Eropa kontemporer merepresentasikal manuver ‘tipikal’ dari sisi demagog politik yang menghindar dari tanggung jawab atas permasalahan politik yang gagal diselesaikan. Dengan ini, mereka menyalahkan orang-orang dari etnis ataupun agama ‘lain’” kata Wollin dikutip Tehran Times (3/4/2023).

Pengerahan politik sayap kanan dilakukan dengan ‘politik ketakutan’ (politics of fear) melalui antagonisme Islam.

Islamofobia lantas menjadi bentuk govermentality atau alat kekuasaan. Akibatnya, sentimen anti-Islam menjadi manuver dan strategi mobilisasi bagi politikus sayap kanan.

Ini yang lantas menjadikan simbol budaya dan ajaran Islam sebagai sasaran dari aksi reaksioner masyarakat atas kegagalan pemerintah dalam berbagai masalah sosial.

Dengan ini, aksi islamofobik di Swedia dan Denmark pekan lalu merupakan sebagai bentuk demagog politik sayap kanan negara-negara Eropa.

Sensitifitas Turki atas sentimen agama pun menjadi titik bakar yang disasar oleh Paludan dalam aksi pembakaran al-Qur'an.

ADVERTISEMENT

NARASI ACADEMY

ADVERTISEMENT

TERPOPULER

ADVERTISEMENT

KOMENTAR

ADVERTISEMENT