Kemerdekaan Palestina Sering Dikaitkan dengan Kiamat, Benarkah?

2 November 2023 11:11 WIB

Narasi TV

Peserta aksi membawa poster dan bendera saat aksi solidaritas Palestina di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/10/2023). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nz/am.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel tak kunjung menunjukkan tanda akan berakhir. Dalam Islam, kemerdekaan Palestina sering dikaitkan dengan kiamat, namun apakah hal tersebut benar?

Melansir laman Muhammadiyah, anggapan bahwa kemerdekaan Palestina merupakan salah satu pertanda kiamat biasanya merujuk pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Meskipun telah tersebar secara luas, para ulama meragukan kesahihan hadis tersebut.

Salah satu alasan keraguan tersebut, dikarenakan hadis yang mengaitkan kemerdekaan Palestina dengan kiamat memiliki perbedaan dengan hadis-hadis lainnya.

Untuk penjelasan lengkap mengenai hadis tersebut, simak ulasannya berikut ini.

Apabila Palestina merdeka, maka akan kiamat?

Mengutip dari laman Muhammadiyah narasi yang menyebutkan jika Palestina Merdeka mak tanda kimat akan kimat itu merujuk pada hadist riwayat Abu Dawud.

Hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, dan menjadi dasar anggapan perihal kemerdekaan Palestina dan kiamat, merupakan hadis yang menjelaskan mengenai kedatangan sosok khilafah di Baitul Maqdis (Yerusalem/Palestina).

Dalam hadis tersebut, kemunculan sosok khilafah tersebut akan diikuti oleh gempa bumi dan bencana besar. Hal tersebut disebut sebagai pertanda bahwa kiamat sudah dekat.

Berikut adalah isi hadisnya:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي ضَمْرَةُ أَنَّ ابْنَ زُغْبٍ الْإِيَادِيَّ، حَدَّثَهُ قَالَ: نَزَلَ عَلَيَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَوَالَةَ الْأَزْدِيُّ، فَقَالَ لِي: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَغْنَمَ عَلَى أَقْدَامِنَا فَرَجَعْنَا، فَلَمْ نَغْنَمْ شَيْئًا، وَعَرَفَ الْجَهْدَ فِي وُجُوهِنَا فَقَامَ فِينَا، فَقَالَ:  اللَّهُمَّ لَا تَكِلْهُمْ إِلَيَّ، فَأَضْعُفَ عَنْهُمْ، وَلَا تَكِلْهُمْ إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَيَعْجِزُوا عَنْهَا، وَلَا تَكِلْهُمْ إِلَى النَّاسِ فَيَسْتَأْثِرُوا عَلَيْهِمْ. ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي، أَوْ قَالَ: عَلَى هَامَتِي، ثُمَّ قَالَ:  يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَابِلُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِي هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

Artinya: “Kami diberitahu oleh Ahmad bin Salih, yang diberitahu oleh Asad bin Musa, yang diberitahu oleh Muawiyah bin Salih, yang memberi tahu saya, bahwa Ibn Zughb al-Iyadi mengisahkan kepada saya, ia berkata: ‘Abdullah bin Hawala al-Azdi datang kepadaku dan berkata: ‘Rasulullah saw. mengutus kami untuk menjarah dengan harapan mendapatkan harta rampasan, tetapi kami kembali tanpa berhasil mendapatkan apa pun.” 

“Kemudian, Rasulullah saw. melihat kelelahan yang terpancar di wajah kami, lalu berdiri di tengah-tengah kami dan berdoa: ‘Ya Allah, janganlah Engkau menimpakan beban kepada mereka yang mereka tidak sanggup memikulnya. Dan janganlah Engkau menimpakan beban kepada diri mereka sendiri sehingga mereka menjadi lemah. Dan janganlah Engkau menyerahkan mereka kepada orang-orang lain sehingga orang lain akan memanfaatkan mereka.’”

“Kemudian, Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas kepalaku, atau dia mungkin mengatakan ‘hamah’ (leher/kepala), lalu dia berkata: ‘Wahai Ibn Hawala, ketika kamu melihat khilafah telah turun ke Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu akan mendekat gempa bumi, bencana besar, dan masalah besar. Pada hari itu, saat Kiamat akan lebih dekat bagi manusia daripada jarak ini antara tanganku dan kepalamu.’ Abu Dawud berkata: ‘Abdullah bin Hawala adalah dari Homs.'” (HR. Abu Dawud).

Hadis yang diragukan

Merujuk pada catatan Syekh Syuaib Al-Arnaout, disebutkan bahwa hadis ini dianggap lemah. Hal ini dikuatkan juga dengan pendapat para perawi hadis yang meragukan hadis tersebut.

Nama Muawiyah bin Salih, yang ada dalam periwayatan hadis tersebut, memang dianggap sebagai perawi yang cukup kuat, namun beberapa hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan olehnya masih diragukan.

Selain itu alasan lain dari keraguan akan hadis ini juga terletak pada ketidakpastian status Abdullah bin Zughb (atau Zughb bin Abdullah) dalam riwayat hadis ini. 

Ketidakpastian tersebut menciptakan keraguan tentang kesahihan hadis di kalangan ulama.

Hal ini juga dikuatkan dengan ulama hadis yang menganggapnya sebagai perawi yang kurang dikenal dan tidak terpercaya, selain itu adanya variasi dalam penamaan dan atribusi perawi dalam riwayat hadis ini yang menciptakan keraguan akan isi hadis.

Tak hanya diragunakan dari aspek asal muasal periwayatan hadis, hadis ini juga dianggap tidak sesuai dengan sunah Rasulullah saw. yang telah dikenal dan diterima oleh umat Islam.

Hal tersebut dikarenakan hadis ini berisi ramalan mengenai kejadian-kejadian di masa depan. Oleh karenanya dianggap tidak cocok dengan karakter hadis-hadis yang lain.

Hari kiamat adalah hak prerogatif Allah Swt.

Adapun soal kepastian hari kiamat bukan menjadi urusan manusia, tetapi urusan Allah. Nabi Muhammad saw. hanya memberikan informasi perihal tanda-tanda kiamat.

Perihal kepastian hari datangnya kiamat telah disebutkan dalam surah Al-A’raf ayat 187 berikut ini:

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya, “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘bilakah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sungguh pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sungguh, pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,’" (Surat Al-A'raf ayat 187).

Mengutip laman NU Online, ayat di atas menegaskan bahwa tidak seorangpun mengetahui kapan waktu terjadinya kiamat. 

Bahkan Nabi Muhammad saw. pun tidak tahu kapan persisnya hari kiamat akan datang. Informasi mengenai hal tersebut hanya Allah Swt. yang mengetahuinya.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR