Advertisement

Benarkah Anggapan jika Palestina Merdeka, Dunia akan Kiamat?

06 June 2024 23:14 WIB

thumbnail-article

Warga Palestina memegang bendera Palestina selama protes atas ketegangan di Masjid Al-Aqsa Yerusalem, di pos pemeriksaan Huwara, dekat Nablus di Tepi Barat yang diduduki Israel 29 Mei 2022. (Sumber: REUTERS/Raneen Sawafta) .

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Perang Israel-Palestina tak kunjung usia dan semakin memanas setelah Israel terus memperluas serangannya ke Rafah di bagian paling selatan Jalur Gaza. 

Hingga kini, Israel belum terlihat akan menghentikan operasi militernya di Gaza kendati seruan untuk menghentikan konflik telah disuarakan di berbagai belahan dunia.

Akan tetapi, di kalangan muslim Indonesia, konflik Palestina dan Israel seringkali dikaitkan dengan serangkaian hadis tentang kiamat.

Anggapan tersebut menyebutkan jika Palestina akan terus berkonflik dengan Israel hingga kiamat datang. Dampak dari anggapan tersebut adalah kekhawatiran jika Palestina menang, maka kiamat segera datang.

Lantas apakah anggapan ini benar adanya? Akankah hadis memang menjelaskan demikian?

Benarkah Palestina merdeka, dunia akan kiamat?

Melansir NU Online, anggapan tentang kedatangan kiamat setelah Palestina menang agaknya merujuk pada hadis-hadis yang menjelaskan akhir zaman dan kondisi bumi Syam.

Syam merupakan nama sebuah wilayah yang ditafsirkan sebagai wilayah Palestina kini.

Pada umumnya, hadis-hadis tersebut bersifat futuristik dan berisi ramalan akan masa depan. 

Salah satu hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim berikut:

لَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Artinya, “Senantiasa ada sekelompok dari umatku berperang di atas perintah Allah, menang terhadap musuh mereka, orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka hingga hari kiamat datang dan mereka masih dalam kondisi seperti itu.” (HR. Muslim)

Dalam hadis di atas, tak ada keterangan tempat yang spesifik. Namun, hadis di atas memiliki dua versi.

Versi kedua dari hadis tersebut adalah yang muncul dalam riwayat Imam Ahmad. Dalam riwayat Imam Ahmad tersebut, hadis ini memiliki informasi tambahan berupa di wilayah mana hadis itu dimaksudkan.

 لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَعَدُوِّهِمْ قَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلَّا مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيْنَ هُمْ؟ قَالَ: بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْنَافِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

Artinya, “Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran atas musuh mereka, orang yang menyelisihi mereka tidak membahayakan mereka kecuali apa yang menimpa mereka berupa kesulitan hidup sampai datang kepada mereka ketentuan Allah dan mereka demikian.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah dan mereka di mana?” Beliau bersabda, “Baitul Maqdis dan sekitarnya.” (HR. Ahmad)

Ada perbedaan signifikan antara riwayat Muslim dan Ahmad, di mana salah satunya menyebut Baitul Maqdis sementara yang lain tidak.

Dalam ilmu hadis, redaksi hadis yang memiliki lebih dari satu versi umumnya akan berimplikasi pada kualitas hadis tersebut, yang mana kadar sahihnya dapat dipertanyakan.

Hadis yang menjelaskan kondisi hari akhir yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad di atas juga tak luput menjadi pembahasan.

Hadis riwayat Ahmad di atas pernah dikomentari oleh al-Haitsami yang menyatakan bahwa ia menganggap para perawi dalam riwayat Ahmad tersebut kredibel semuanya. 

Namun, komentar lain disampaikan oleh al-Dzahabi dalam al-Mizan. Ia berkomentar bahwa ia hanya mengetahui satu orang dalam sanad tersebut, yaitu ‘Amrun bin ‘Abdullah al-Hadhrami.

“Aku tidak mengetahui siapa saja yang meriwayatkan darinya kecuali Yahya bin Abi ‘Amrin.” (Nabil Manshur, Anis al-Sari, [Beirut: Muassasah al-Samahah, 2005], jilid XI, hal. 1545).

Selain hadis yang muncul dalam riwayat Muslim dan Ahmad di atas, terdapat pula hadis lain yang juga sering dijadikan rujukan untuk menganggap kemenangan Palestina sebagai salah satu tanda kiamat.

Salah satu hadis tersebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berikut:

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنِي ضَمْرَةُ أَنَّ ابْنَ زُغْبٍ الْإِيَادِيَّ، حَدَّثَهُ قَالَ: نَزَلَ عَلَيَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَوَالَةَ الْأَزْدِيُّ، فَقَالَ لِي: بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَغْنَمَ عَلَى أَقْدَامِنَا فَرَجَعْنَا، فَلَمْ نَغْنَمْ شَيْئًا، وَعَرَفَ الْجَهْدَ فِي وُجُوهِنَا فَقَامَ فِينَا، فَقَالَ: اللَّهُمَّ لَا تَكِلْهُمْ إِلَيَّ، فَأَضْعُفَ عَنْهُمْ، وَلَا تَكِلْهُمْ إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَيَعْجِزُوا عَنْهَا، وَلَا تَكِلْهُمْ إِلَى النَّاسِ فَيَسْتَأْثِرُوا عَلَيْهِمْ. ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِي، أَوْ قَالَ: عَلَى هَامَتِي، ثُمَّ قَالَ: يَا ابْنَ حَوَالَةَ، إِذَا رَأَيْتَ الْخِلَافَةَ قَدْ نَزَلَتْ أَرْضَ الْمُقَدَّسَةِ فَقَدْ دَنَتِ الزَّلَازِلُ وَالْبَلَابِلُ وَالْأُمُورُ الْعِظَامُ، وَالسَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ أَقْرَبُ مِنَ النَّاسِ مِنْ يَدِي هَذِهِ مِنْ رَأْسِكَ

Artinya: "Kami diberitahu oleh Ahmad bin Salih, yang diberitahu oleh Asad bin Musa, yang diberitahu oleh Muawiyah bin Salih, yang memberi tahu saya, bahwa Ibn Zughb al-Iyadi mengisahkan kepada saya, ia berkata: 'Abdullah bin Hawala al-Azdi datang kepadaku dan berkata: 'Rasulullah saw. mengutus kami untuk menjarah dengan harapan mendapatkan harta rampasan, tetapi kami kembali tanpa berhasil mendapatkan apa pun.” 

“Kemudian, Rasulullah saw. melihat kelelahan yang terpancar di wajah kami, lalu berdiri di tengah-tengah kami dan berdoa: 'Ya Allah, janganlah Engkau menimpakan beban kepada mereka yang mereka tidak sanggup memikulnya. Dan janganlah Engkau menimpakan beban kepada diri mereka sendiri sehingga mereka menjadi lemah. Dan janganlah Engkau menyerahkan mereka kepada orang-orang lain sehingga orang lain akan memanfaatkan mereka.'” 

“Kemudian, Rasulullah saw. meletakkan tangannya di atas kepalaku, atau dia mungkin mengatakan 'hamah' (leher/kepala), lalu dia berkata: 'Wahai Ibn Hawala, ketika kamu melihat khilafah telah turun ke Baitul Maqdis (Yerusalem), maka saat itu akan mendekat gempa bumi, bencana besar, dan masalah besar. Pada hari itu, saat Kiamat akan lebih dekat bagi manusia daripada jarak ini antara tanganku dan kepalamu.' Abu Dawud berkata: 'Abdullah bin Hawala adalah dari Homs'." (HR. Abu Dawud)

Meskipun dalam hadis di atas Rasulullah saw. menyebutkan wilayah, yakni Baitul Maqdis, namun hadis ini merupakan salah satu hadis yang barangkali belum dapat kita pahami sepenuhnya.

Hal tersebut lantaran Rasulullah saw. menjelaskan ciri-ciri akhir zaman dengan serangkaian peristiwa yang bisa saja terjadi dari satu masa ke masa yang lain. Oleh karenanya, sulit untuk menyimpulkan terjadinya kiamat dari hadis tersebut.

Akan tetapi, meskipun terdapat hadis yang menjelaskan kondisi akhir zaman seperti dua hadis di atas, namun Allah Swt. sebenarnya telah memberikan jawaban atas pertanyaan kapan hari kiamat akan datang.

Jawaban tersebut adalah kapan persisnya kiamat datang adalah informasi yang hanya diketahui oleh Allah Swt. dan bukan manusia. Hal tersebut terdapat pada Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 63 berikut:

 يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا 

Artinya, “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.” (QS Al-Ahzab [33]:63).

Syekh Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat “boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat” di atas sebagai ancaman pada orang yang menginginkan sesuatu secara instan dan buru-buru (al-musta’jalun) dan juga sebagai bungkaman terhadap orang-orang musyrik yang keras kepala. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, [Beirut: Dar al-Fikr, 1418], jilid XXII, hal. 115).

Jadi dapat disimpulkan, memang terdapat hadis yang menjelaskan pertempuran antara Islam dan Yahudi sebagai tanda akhir zaman dalam Islam, namun hal tersebut tak serta merta dapat kita pahami sebagai konflik Palestina-Israel yang hingga kini berlangsung.

Terlebih, datangnya kiamat yang membawa kehancuran seluruh alam semesta adalah peristiwa yang hanya Allah Swt. yang tahu.

Oleh karenanya tidak perlu ada kekhawatiran dalam menolong saudara-saudara kita di Palestina dengan dukungan doa dan harta yang disalurkan pada lembaga resmi dan terpercaya.

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement