Pengertian Ghadab dan Cara Meredamnya Menurut Islam

28 Agustus 2023 19:08 WIB

Narasi TV

Ilustrasi ghadab. (Sumber: Pexels/Liza Summer)

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Pernahkah kamu mengenal istilah ghadab? Ghadab merupakan salah satu sifat tercela dalam Islam.

Istilah ghadab berasal dari bahasa Arab ghadhiba-yaghdhibu-ghadhaban yang berarti temperamental atau sifat mudah marah.

Marah merupakan salah satu sifat alamiah yang ada dalam diri manusia, beberapa orang bisa mengendalikan namun beberapa yang lain belum mampu mengendalikannya.

Sifat amarah ini merupakan salah satu sikap yang dapat memicu pada keburukan-keburukan, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam salah satu hadis Nabi Muhammad saw. yang berbunyi:

إِنَّ الغَضَبْ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِوَإِنَّمَا نُطْقَا النَّارُ بالا ، فإذا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأُ

Artinya: "Sesungguhnya amarah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudu." (HR Abu Daud).

Allah melarang umatnya untuk memiliki sikap ghadab atau pemarah, hal itu berdasarkan dalil yang tercantum dalam surat Al-Qur’an surah Al A’raf ayat 200 berikut:

وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia maha mendengar dan maha mengetahui.” (Q.S. Al-A’raf ayat: 200).

Faktor pemicu ghadab

Sebagai sebuah sifat tercela, ghadab dapat dikenali agar dihindari. Berikut faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya sifat ghadab:

  • Memiliki sikap bangga terhadap diri dan tidak suka diremehkan.
  • Karena perselisihan paham dan perdebatan.
  • Bercanda yang terlalu berlebihan.
  • Mengumpat atau berkata tidak sopan.
  • Bermusuhan dengan orang lain.
  • Merasa lelah yang berlebihan.
  • Reaksi hormon biasanya pada perempuan yang sedang dalam masa pre-menstrual syndrome (PMS).

Cara menahan ghadab

Mengutip dari laman NU Online, terdapat dua cara yang dapat meredam sikap pemarah, hal tersebut berdasarkan penjelasan Syekh Jamaluddin al-Qasimi sebagai berikut.

1. Selalu berusaha menambah ilmu

Menurut Syekh Jamaluddin al-Qasimi, ilmu dapat menjadi tameng untuk menghindari sifat ghadab.

Hal tersebut dapat terjadi karena melalui ilmu kita akan benar-benar memahami mengapa Allah Swt. dan Rasulullah saw. tidak menyukai sifat ghadab.

الْأَوَّلُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِيمَا وَرَدَ فِي فَضْلِ كَظْمِ الْغَيْظِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ وَالِاحْتِمَالِ، فَيَرْغَبَ فِي ثَوَابِهِ، وَتَمْنَعُهُ الرَّغْبَةُ فِي الْأَجْرِ عَنِ الِانْتِقَامِ، وَيَنْطَفِئُ عَنْهُ غَيْظُهُ.

“Pertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.”

2. Selalu ingat Allah Swt.

Cara kedua untuk menghindari sifat ghadab adalah dengan selalu mengingat Allah Swt. dan dalil mengenai amarah.

Allah Swt. sendiri tidak menyukai umatnya yang pemarah, oleh karenanya kita dapat meredam kemarahan dengan selalu mengingat Allah Swt. 

الثَّانِي: أَنْ يُخَوِّفَ نَفْسَهُ بِعِقَابِ اللَّهِ لَوْ أَمْضَى غَضَبَهُ، وَهَلْ يَأْمَنُ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَحْوَجُ مَا يَكُونُ إِلَى الْعَفْوِ

“Kedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.”

3. Memikirkan konsekuensi amarah

Cara ketiga adalah dengan menyadari bahwa amarah mendatangkan konsekuensi yang buruk terhadap diri sendiri.

Sebagai contoh, ketika kita marah terhadap orang lain, kita tak jarang justru menjadi yang paling terbebani rasa marah kita sendiri daripada orang lain yang kita marahi.

الثَّالِثُ: أَنْ يُحَذِّرَ نَفْسَهُ عَاقِبَةَ الْعَدَاوَةِ وَالِانْتِقَامِ، وَتَشَمُّرَ الْعَدُوِّ لِمُقَابَلَتِهِ، وَالسَّعْيِ فِي هَدْمِ أَغْرَاضِهِ، وَالشَّمَاتَةِ بِمَصَائِبِهِ، وَهُوَ لَا يَخْلُو عَنِ الْمَصَائِبِ، فَيُخَوِّفُ نَفْسَهُ بِعَوَاقِبِ الْغَضَبِ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ لَا يَخَافُ مِنَ الْآخِرَةِ. 

“Ketiga, menakut-nakuti dirinya tentang akibat dari permusuhan dan pembalasan, bagaimana sergapan musuh untuk membalasnya, menggagalkan rencana-rencananya serta bahagianya musuh saat ia tertimpa musibah, padahal seseorang tidak bisa lepas dari musibah-musibah. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak.”

4. Memikirkan buruknya diri sendiri saat marah

Ekspresi marah turut memengaruhi raut muka kita. Oleh karenanya, selalu ingat bagaimana rupa kita ketika marah.

الرَّابِعُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي قُبْحِ صُورَتِهِ عِنْدَ الْغَضَبِ، بِأَنْ يَتَذَكَّرَ صُورَةَ غَيْرِهِ فِي حَالَةِ الْغَضَبِ، وَيَتَفَكَّرَ فِي قُبْحِ الْغَضَبِ فِي نَفْسِهِ، وَمُشَابَهَةِ صَاحِبِهِ لِلْكَلْبِ الضَّارِي وَالسَّبُعِ الْعَادِي، وَمُشَابَهَةِ الْحَلِيمِ الْهَادِي التَّارِكِ لِلْغَضَبِ لِلْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْحُكَمَاءِ، وَيُخَيِّرَ نَفْسَهُ بَيْنَ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِالْكِلَابِ وَالسِّبَاعِ وَأَرَاذِلِ النَّاسِ، وَبَيْنَ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِالْعُلَمَاءِ وَالْأَنْبِيَاءِ فِي عَادَتِهِمْ؛ لِتَمِيلَ نَفْسُهُ إِلَى حُبِّ الِاقْتِدَاءِ بِهَؤُلَاءِ إِنْ كَانَ قَدْ بَقِيَ مَعَهُ مُسْكَةٌ مِنْ عَقْلٍ

“Keempat, berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari. Berilah pilihan untuk dirimu, apakah lebih memilih serupa dengan anjing, binatang buas dan manusia-manusia hina; ataukah memilih untuk menyerupai ulama dan para nabi di dalam kebiasaan mereka? Agar hatinya condong untuk suka meniru perilaku mereka jika ia masih menyisakan satu tangkai dari akal sehat.”

5. Ingat bahwa amarah berasal dari godaan setan

Cara kelima adalah dengan mengingat bahwa amarah berasal dari tipu daya setan.

Sesungguhnya, kita memiliki kekuatan untuk memilih tidak marah, namun bujuk rayu setan yang membuat kita merasa ingin marah.

Mengingat hal tersebut dapat membuat kita menjauhi bujuk rayu setan untuk selalu meluapkan rasa marah dalam setiap situasi.

الْخَامِسُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي السَّبَبِ الَّذِي يَدْعُوهُ إِلَى الِانْتِقَامِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ كَظْمِ الْغَيْظِ، مِثْلَ قَوْلِ الشَّيْطَانِ لَهُ: إِنَّ هَذَا يُحْمَلُ مِنْكَ عَلَى الْعَجْزِ وَالذِّلَّةِ وَتَصِيرُ حَقِيرًا فِي أَعْيُنِ النَّاسِ فَيَقُولُ لِنَفْسِهِ: «مَا أَعْجَبَكِ! تَأْنَفِينَ مِنَ الِاحْتِمَالِ الْآنَ، وَلَا تَأْنَفِينَ مِنْ خِزْيِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا تَحْذَرِينَ مِنْ أَنْ تَصْغُرِي عِنْدَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ» . 

“Kelima, berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah, semisal ketika dalam hati terdapat bujuk rayu setan; ‘Sesungguhnya orang ini membuatmu lemah dan rendah serta menjadikanmu hina di mata manusia’, maka jawablah dengan tegas di hatimu ‘Aku heran denganmu. Kamu sekarang mencemoohku karena menahan diri, sedangkan kamu tidak mencemooh dari kehinaan di hari kiamat. Kamu tidak khawatir dirimu akan hina di sisi Allah, para malaikat dan para Nabi’.”

6. Ingat menahan amarah adalah kebaikan

Cara keenam adalah selalu mengingat bahwa menahan amarah adalah salah satu hal terpuji.

Mungkin, menahan amarah bukan hal yang terlihat gagah di mata manusia, namun sangat terpuji di mata Allah Swt.

فَمَهْمَا كَظَمَ الْغَيْظَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكْظِمَهُ لِلَّهِ، وَذَلِكَ يُعَظِّمُهُ عِنْدَ الله  

“Ketika ia menahan amarah, maka seyogyanya menahan amarah karena Allah. Yang demikian itu bisa membuatnya agung di sisi Allah.” 

7. Selalu mengamalkan hal baik

Cara terakhir adalah dengan selalu mengamalkan kebaikan, seperti berzikir yang dapat digunakan untuk menahan amarah.

Selain berzikir, salah satu amalan yang dapat dilakukan ketika marah adalah berwudu, sebagaimana hadis Rasulullah saw.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR