LRT Bali Akan Dibangun di Bawah Tanah, Groundbreaking Ditargetkan Awal Tahun 2024

29 September 2023 11:09 WIB

Narasi TV

Suasana kawasan Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Badung, Bali, Sabtu (25/4/2020). ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Rencana pembangunan light rail transit (LRT) di Pulau Bali disebut akan kembali dihidupkan, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebut groundbreaking atau peletakan batu pertama akan dilakukan pada awal 2024.

“Kita harap groundbreaking early next year, awal tahun depan, kita bisa groundbreaking karena itu studinya sudah lama dilakukan, tapi karena terbentur COVID-19, tadi kita hidupkan lagi,” jelas Luhut setelah rapat terbatas Integrasi Transportasi Publik di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu, (27/9/2023), dikutip dari Antara.

Menurut Luhut pembangunan LRT yang rencananya dibangung di Bandara Ngurah Rai Bali tersebut perlu dibangun demi mengurangi penumpukan penumpang di bandara tersebut.

Jika LRT tidak dibangun, katanya, Bandara Ngurah Rai akan terjadi penumpukan penumpang. Pemerintah memprediksi bandara tersebut akan melayani sekitar 24 juta penumpang per tahun pada tahun 2026.

Luhut juga menyatakan bahwa Presiden Jokowi menghendaki jajaran menteri untuk melakukan studi lanjutan untuk LRT di Pulau Bali. 

Rencananya, studi tersebut dilakukan untuk mencari tahu cara menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan beberapa wilayah wisata seperti kawasan Seminyak dan Canggu.

"Dari lapangan terbang sampai ke Seminyak dan kalau perlu nanti terus sampai ke Canggu itu 20 kilometer dan nanti kita sedang pertimbangkan memasukkan harga tiket 1 dolar AS, 2 dolar  AS, setiap penumpang pakai tidak pakai, sehingga dengan pembiayaan publik juga akan bisa jalan," kata Luhut.

Kebutuhan mempersingkat waktu

Selain kebutuhan untuk mengurangi jumlah penumpang di Bandara Ngurah Rai, pembangunan LRT juga dinilai perlu dilakukan demi mempersingkat waktu perjalanan di Pulau Bali.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian PPN atau Bappenas Ervan Maksum mengungkapkan bahwa perjalanan di Bali untuk sampai Bandara membutuhkan waktu bisa 2-3 jam

“Di Bali ini untuk sampai ke bandara butuh waktu bisa 2-3 jam, dan masalah waktu itu menjadi mahal walaupun Bali itu kecil. Solusinya salah satunya menggunakan kereta untuk mempercepat, kita mengintroduksi LRT,” ujar dia, dilansir dari akun YouTube Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada bernama Pustral UGM pada Senin, 25 September 2023. 

Bagi Ervan, Bali terkenal dengan pariwisata (tourism) yang terbagi beberapa klaster, ada yang di Jimbaran, Seminyak, Kuta, Nusa Dua, dan Sanur.

Akses dari dan menuju ke bandara menjadi salah satu masalah, kata dia, padahal penumpang pesawat yang datang ke Bandara Ngurah Rai itu ada sekitar 58 ribu sehari, sehingga perlu dibangun LRT Bali.

Jika pun nanti dibangun, di Bali juga memiliki syarat di mana bangunan tidak boleh lebih tinggi dari pohon kelapa. Sehingga satu-satunya jalan adalah LRT Bali harus dibangun di bawah tanah.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan mulai mematangkan rencana pengembangan LRT Bali.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Mohamad Risal Wasal, memastikan lembaganya akan menajamkan desain teknis rencana proyek tersebut bersama mitra bisnis dari Korea Selatan. 

"Kami kejar studi kelayakan (feasibility study/FS) LRT Bali agar selesai tahun ini sehingga pembangunannya bisa segera dimulai," ujar dia pada 2 Juni 2023 lalu, dikutip dari Tempo.co. 

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR