Apa Itu Hustle Culture? Definisi, Penyebab, Dampak, & Cara Menghindari

20 Mei 2024 20:05 WIB

Narasi TV

Kebiasaan lembur yang terlalu sering merupakan salah satu ciri hustle culture, REUTERS/Yuriko Nakao.

Penulis: Yohana Nabilla Wuryanto

Editor: Rizal Amril

Hustle culture atau budaya gila kerja adalah sebuah budaya atau kebiasaan seseorang untuk terus bekerja dan hanya beristirahat dengan waktu yang relatif singkat. Budaya tersebut ada karena keyakinan sebagian orang bahwa dirinya akan sukses apabila bekerja terus menerus.

Dilansir dari Oxford Learner Dictionary, budaya ini mulai muncul pada tahun 1970, dimana perkembangan industri semakin maju, dan pekerja pada saat itu dituntut untuk melakukan pekerjaan mereka secara cepat dan tepat. Lebih lanjut, hustle culture semakin parah dengan adanya perkembangan teknologi, ketika perusahaan atau instansi mulai menerapkan sistem email dan administrasi digital bagi pekerjanya.

Definisi Hustle Culture

Hustle culture sering diartikan sebagai budaya kerja keras yang berlebihan, di mana individu merasa harus terus produktif dan mencapai kesuksesan dengan bekerja tanpa henti. Hal ini didorong oleh keyakinan bahwa kerja keras yang ekstrem adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan pengakuan.

Penyebab Hustle Culture

Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap munculnya hustle culture antara lain:

  • Tekanan Sosial: Media sosial seringkali menggambarkan gambaran orang-orang yang sukses dengan gaya hidup sibuk dan produktif, menciptakan tekanan bagi orang lain untuk mengikuti jejak mereka.
  • Ketidakamanan Ekonomi: Ketidakpastian ekonomi dan persaingan kerja yang ketat membuat banyak orang merasa harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pekerjaan atau mencapai kemajuan karier.
  • Pergeseran Budaya Kerja: Budaya kerja modern yang semakin menuntut dan terhubung secara digital dapat mengaburkan batas antara kehidupan kerja dan pribadi, membuat orang sulit untuk melepaskan diri dari pekerjaan.

Dampak Negatif Hustle Culture

Hustle culture dapat memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental, termasuk:

  • Kelelahan Kronis: Bekerja berlebihan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan, yang dapat berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup secara keseluruhan.
  • Stres dan Kecemasan: Tekanan terus-menerus untuk bekerja dan mencapai hasil dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan, yang dapat memicu masalah kesehatan mental lainnya.
  • Masalah Kesehatan Fisik: Kurang tidur, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik yang seringkali menyertai hustle culture dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes.
  • Gangguan Hubungan Sosial: Mengorbankan waktu untuk keluarga, teman, dan kegiatan sosial dapat menyebabkan isolasi dan merusak hubungan interpersonal.

Ciri Hustle Culture

Hustle culture tanpa disadari sering terjadi di kehidupan pekerja, baik itu yang berstatus pekerja tetap hingga magang. Salah satu ciri dari hustle culture adalah terus memikirkan pekerjaan bahkan di waktu senggang.

Sebagai seorang pekerja, memang sudah sepatutnya untuk bertanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Namun hal tersebut akan berdampak buruk apabila seorang pekerja selalu memikirkan pekerjaan, bahkan di waktu senggang. Sehingga waktu senggang akan berkurang dan tidak terasa.

Ciri yang kedua adalah jarang merasa puas dengan pekerjaan yang dilakukan. Sadar atau tidak, sebagai seorang pekerja ada kalanya merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan tampak sia-sia dan tidak berarti. Hal tersebut bila dirasakan secara terus menerus dapat menyebabkan rasa lelah dalam bekerja hingga burn out

Lebih lanjut, ciri yang ketiga adalah merasa bersalah ketika mengambil atau mengajukan jatah cuti. Mengambil jatah cuti untuk bersantai dan bersenang-senang memang bukanlah suatu kesalahan, bahkan beberapa instansi yang memang memberikan kesempatan pada karyawannya untuk cuti. Namun, hal tersebut tidak akan berlaku bagi pekerja yang berada dalam budaya hustle culture. Bagi pekerja yang berada dalam budaya hustle culture, mengambil cuti akan menimbulkan rasa bersalah, karena mereka akan meninggalkan tugas dan tanggung jawab mereka untuk dikerjakan oleh orang lain. Sehingga rasa bersalah tersebut muncul.

Cara Menyikapi Hustle Culture

Hustle culture apabila terus menerus terjadi, tentu akan berdampak buruk bagi pekerja, seperti burn out, kesehatannya terganggu, keseimbangan antara bekerja dan kehidupan biasa mulai hilang, hingga depresi. Lalu apa yang dapat kita lakukan apabila terjebak dalam budaya hustle culture?

Cara pertama yang dapat diambil adalah berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain. Berhenti membandingkan pencapain yang diraih dengan pencapain orang lain, merupakan salah satu cara yang dapat diambil untuk menghindari hustle culture. Dengan tidak membandingkan diri sendiri, maka kita dapat lebih fokus dengan pencapaian yang telah diraih dan lebih menghargai pencapaian tersebut. 

Mencari dan menekuni hobi di luar pekerjaan juga dapat menjadi salah satu cara agar terhindar dari hustle life. Dengan menekuni  hobi di luar pekerjaan, seseorang akan mendapatkan suatu hiburan baru, sehingga tidak selalu berkutat dengan pekerjaan dan tanggung  jawab yang diemban. 

Menetapkan target realistis juga bisa menjadi salah satu solusi. Hustle culture dapat terjadi akibat adanya target yang tinggi, oleh karena itu menetapkan target realistis dapat membantu kita untuk menghindari hustle culture. Lebih baik mengerjakan sesuatu secara lambat namun pasti, dibandingkan secara cepat namun dengan hasil yang kurang memuaskan .

 

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR