Niat dan Tata Cara Sholat Ghaib, Serta Perbedaannya dengan Salat Jenazah

19 Oktober 2023 16:10 WIB

Narasi TV

Siswa dan guru MI NU Matholibul Ulum Gebog, Kudus, Jawa Tengah melaksanakan sholat ghaib pada Rabu (23/11/2022) untuk mendoakan korban gempa Cianjur. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho.

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Niat dan tata cara sholat ghaib berbeda dengan salat jenazah meskipun sama-sama dilakukan untuk menyolatkan seseorang yang telah meninggal.

Melansir NU Online, sholat ghaib dan sholat jenazah memiliki tata cara yang serupa. 

Letak perbedaan kedua salat tersebut terletak pada niat serta sebab mengapa salah satu salat dilakukan.

Salat jenazah dilaksanakan ketika terdapat orang muslim yang meninggal di sekitar kita. Pelaksanaannya sendiri berhukum fardu kifayah, artinya harus dilakukan oleh masyarakat sekitar.

Hal tersebut berarti bahwa salat jenazah mensyaratkan keberadaan orang yang salat dan jenazah yang disalati pada tempat yang sama.

Sementara salat gaib dilaksanakan ketika kita hendak menyalati orang muslim yang meninggal sedangkan kita tidak berada di tempat yang sama.

Atau dengan kata lain, salat gaib merupakan salat untuk jenazah yang terpaut jarak yang jauh dengan kita sehingga tidak bisa menyalati secara langsung.

Biasanya, salat gaib dilakukan ketika terdapat keluarga atau umat muslim yang meninggal akibat bencana, kecelakaan, atau wabah di tempat yang jauh dari kita berada.

Sejarah dan dalil shalat ghaib

Melansir laman Nahdlatul Ulama, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa tata cara salat gaib diajarkan oleh Rasulullah saw. ketika Raja Najasyi Ashhamah bin Abjar sang penguasa negeri Habasyah (sekarang Ethiopia) meninggal dunia.

Raja Najasyi wafat pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah, dan Rasulullah saw. diriwayatkan melakukan salat gaib untuk kematian sang raja.

Hal tersebut dijelaskan dalam dalil yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. berikut:

 أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)   

Artinya, “Sungguh Nabi saw. memberitakan kabar kematian Raja Najasyi di hari kewafatannya, lalu beliau bersama para sahabatnya keluar ke tempat salat, membariskan sahabatnya, dan bertakbir sebanyak empat kali (salat gaib).”

Dalam riwayat lain, pelaksanaan salat gaib juga dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. ketika melakukannya untuk tiga sahabat, yakni Mu’awiyah bin Mu’awiyah al-Muzanni yang wafat di Madinah, serta Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib yang wafat dalam pertempuran Mu’tah melawan kekaisaran Romawi Timur.

Niat sholat ghaib

Sebagaimana telah di jelaskan di atas, perbedaan sholat ghaib dengan sholat jenazah terletak pada niat dan musabab didirikannya salat tersebut.

Niat salat gaib sendiri dapat dilafalkan menurut jenis kelamin dan berapa banyak jenazah yang hendak disalati. Berikut niat salat gaib menurut jenisnya:

1. Niat shalat ghaib untuk jenazah laki-laki:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتِ (فُلَانِ) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى   

Ushallî ‘alâ mayyiti (fulân) al-ghâ-ibi arba’a takbîrâtin fardhal kifayâti imâman/ma’mûman lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Saya menyalati jenazah ‘Si Fulan (sebutkan namanya)’ yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifâyah sebagai imam/makmum karena Allah ta’âlâ.”   

2. Niat shalat ghaib untuk jenazah perempuan:

   أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَةِ (فُلَانَةٍ) الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ  فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى   

Ushalli ‘ala mayyitati ‘fulanah’ al-ghaibati arba’a takbiratin fardhal kifayâti imaman/ma’muman lillahi ta’ala.

Artinya, “Saya menyalati jenazah ‘Si Fulanah (sebutkan namanya)’ yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifâyah sebagai imam/makmum karena Allah ta’âlâ.”

3. Niat shalat ghaib untuk jenazah beberapa jenazah laki-laki dan perempuan:

أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَيْنِ/مَيِّتَتَيْنِ (فُلَانٍ وَفُلَانٍ-فُلَانٍ وَفُلَانَةٍ/فُلَانَةٍ وَفُلَانَةٍ) الْغَائِبَيْنِ/الْغَائِبَتَيْنِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامَا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى   

Ushallî ‘alâ mayyitaini/mayyitataini ‘Fulânin wa Fulânin—Fulân wa Fulânah/Fulanâh wa Fulânah’ al-ghaibaini/al-ghaibataini arba’a takbîrâtin fardhal kifayâti imâman/ma’mûman lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Saya menyalati dua jenazah ‘Si Fulan dan Si Fulan/Si Fulan dan Si Fulanah/Si Fulanah dan Si Fulanah (sebutkan namanya)’ yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifâyah sebagai imam/makmum karena Allah ta’âlâ.”

4. Niat shalat ghaib untuk banyak jenazah sekaligus (korban perang/bencana):

أُصَلِّي عَلَى جَمِيعِ مَوْتَى قَرْيَةِ كَذَا الْغَائِبِينَ الْمُسْلِمِينَ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامَا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى   

Ushallî ‘alâ jamî’i mautâ qaryati kadzâl ghaibînal muslimîna arba’a takbîrâtin fardhal kifayâti imâman/ma’mûman lillâhi ta’âlâ.

Artinya, “Saya menyalati seluruh umat muslim yang jadi korban di desa ‘...’ (sebutkan nama desanya) yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifâyah sebagai imam/makmum karena Allah ta’âlâ.” 

Tata cara sholat ghaib

Tata cara sholat ghaib dilakukan dengan melakukan salat empat rakaat dengan empat takbir tanpa rukuk dan sujud. 

Rakaat pertama diisi dengan takbiratul ihram dan pembacaan surah Al-Fatihah. Rakaat kedua membaca selawat Nabi saw. Rekaat ketiga memohonkan ampun atas jenazah. Sementara rakaat keempat untuk mendoakan keluarga yang ditinggalkan.

Untuk lebih jelasnya, berikut tata cara melakukan salat gaib:

1. Membaca niat

Membaca niat sesuai dengan keadaan jenazah yang hendak disalatkan.

2. Takbir rakaat pertama

Mengucapkan takbiratul ihram dan dilanjutkan dengan membaca surah Al-Fatihah.

3. Takbir kedua dan pembacaan selawat Nabi saw.

Pada takbir kedua, diteruskan dengan membaca selawat Nabi saw., seperti misalnya selawat berikut:

 اللّـٰهُمَّ صَلَّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allahumma sholli alaa muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa shollaita ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Wa baarik ala muhammad wa ala aali muhammad. Kamaa baarokta ala ibroohim wa ala aali ibroohim. Innaka hamidun majiid.

Artinya: "Ya Allah, berilah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.”

“Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berilah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."

4. Takbir ketiga dan doa untuk jenazah

Setelah membaca selawat, kemudian takbir untuk ketiga kalinya dan mendoakan jenazah dengan lafal berikut:

 اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa ‘afihi wa’fu anhu (untuk Jenazah laki-laki).
Allahummaghfirlaha, warhamha, wa ‘afihi wa’fu anha (untuk Jenazah perempuan).

Artinya: “Ya Allah ampuniah dia, berilah dia rahmat dan sejahterakan serta maafkanlah dia.” 

5. Takbir keempat dan pembacaan doa untuk keluarga 

Setelah mendoakan jenazah, salat dilanjutkan dengan takbir keempat dan diikuti dengan pembacaan doa untuk keluarga yang ditinggalkan dengan lafal berikut.

 اللهم لاتحرمنا أجره ولاتفتنا بعده واغفرلنا وله 

Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu waghfirlana walahu.

Artinya: “Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya yang akan sampai kepada kami, dan jangan Engkau memberi fitnah kepada kami sepeninggalnya serta ampunilah kami dan dia.”

6. Salam 

Setelah rakaat keempat, salat ditutup dengan melakukan salam sembari berdiri. 

Salam dilakukan dengan menolehkan kepala ke sisi kanan terlebih dahulu.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR