Advertisement

Sosok Nabi Khidir dan Kisahnya Bersama Nabi Musa yang Abadi dalam Al-Qur’an

16 November 2023 17:55 WIB

thumbnail-article

Ilustrasi Al-Qur'an yang didalamnya termuat kisah pertemuan Nabi Khidir dan Nabi Musa. (Sumber: Pexels/Alena Darmel) .

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Sosok Nabi Khidir menjadi nabi yang cukup dikenal oleh umat Islam terutama mukjizat yang dimilikinya. 

Kisah hidup Nabi Khidir as. terukir dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hadis Rasulullah saw., dan dari sana kita dapat meneladani sikap Nabi Khidir dalam menjalankan perintah Allah Swt.

Akan tetapi, sosok Nabi Khidir populer di kalangan Islam bukan saja karena ketaatan dan juga mukjizat yang diberikan Allah Swt. kepada dirinya.

Sebagai nabi utusan Allah Swt., Nabi Khidir populer karena sering dianggap masih hidup hingga kini dan hidup dengan menyembunyikan identitasnya sebagai seorang utusan Allah Swt.

Bagaimana hal tersebut dapat terjadi dan siapakah sebenarnya Nabi Khidir?

Sosok Nabi Khidir

Mengutip buku Menyimak Kisah dan Hikmah Kehidupan Nabi Khidir karangan Moh Fathor Rois, Nabi Khidir dijelaskan sebagai “Putra Malkan” yang berarti merupakan keturunan Nabi Nuh as. dari jalur Sam dengan Kunyah Abul Abbas.

Dalam penjelasan lain, disebutkan bahwa Nabi Khidir memiliki nama asli Balya bin Malkan bin Faligh bin 'Abir bin Salikh bin Arfakhsad bin Sam bin Nuh Al-Khidir.

Dalam buku Muhammad Alwi Fuadi dengan judul Nabi Khidir, dikisahkan bahwa Nabi Khidir dilahirkan di sebuah gua. Ketika Khidir masih bayi, ibunya selalu memberikan susu kambing segar setiap hari.

Suatu ketika, Khidir diambil oleh seorang penggembala dan dididik hingga beranjak dewasa. 

Khidir kemudian tumbuh menjadi anak yang cerdas dalam hal tulis menulis dan membaca suhuf atau lembaran-lembaran yang diturunkan oleh Nabi Ibrahim.

Oleh karenanya, Nabi Khidir merupakan nabi yang diberikan mukjizat berupa kemampuan untuk memahami ilmu lebih dari siapapun. 

Akan tetapi, meskipun Nabi Khidir digambarkan sebagai orang yang berilmu, tetapi dirinya tetap tunduk kepada Allah Swt. dan tidak merasa congkak hanya karena lebih tahu daripada manusia lainnya.

Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

Salah satu kisah yang menggambarkan sosok Nabi Khidir adalah kisah mengenai pertemuan Nabi Musa as. dengan Nabi Khidir as.

Pertemuan tersebut bahkan diabadikan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an di surah Al-Kahfi.

Waktu dan tempat pertemuan kedua nabi utusan Allah Swt. tersebut tidak diketahui secara pasti. Namun, terdapat sebuah hadis yang menjelaskan latar belakang pertemuan tersebut.

Dalam hadis tersebut,  Ibnu Abbas mendengar Ubai bin Ka’ab berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda: 

“Musa berdiri khutbah di hadapan Bani Israil, kemudian ia ditanya, ’Siapa Manusia yang paling pintar?’ Musa menjawab, ‘Saya’”. Atas jawaban tersebut Allah Swt. mencela Nabi Musa yang tidak mengembalikan ilmu kepada Allah Swt. Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Musa bahwasannya “seorang hamba-Ku berada di tempat bertemunya dua laut dia lebih pintar daripadamu.” Kemudian nabi Musa bertanya, “Bagaimana aku dapat bertemu dengannya?” Allah Swt. berfirman, “Ambillah seekor ikan lalu tempatkan ia di wadah. Maka, di mana engkau kehilangan ikan itu, di sanalah dia.” (HR. Bukhari).

Hadis di atas disebut sebagai awal mula pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir, yakni teguran Allah Swt. atas sikap Nabi Musa yang mengaku sebagai manusia paling pintar dan alim.

Mendengar jawaban Nabi Musa as. tersebut, Allah Swt. menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak patut berkata demikian karena terdapat manusia yang lebih pintar darinya dan Nabi Musa hanya tidak mengetahuinya saja.

Manusia yang dimaksud dalam firman Allah Swt. tersebut adalah Nabi Khidir as. yang diberikan mukjizat berupa kepandaian untuk memahami ilmu di dunia.

Mendengar teguran tersebut, Nabi Musa as. kemudian bertekad untuk mencari Nabi Khidir dan bertemu dengannya secara langsung.

Pertemuan keduanya sendiri dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Al Kahfi ayat 60-82 sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى  اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا.

60. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.”

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ سَرَبًا

61. “Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.”

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتٰىهُ اٰتِنَا غَدَاۤءَنَاۖ لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هٰذَا نَصَبًا

62. “Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, “Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

قَالَ اَرَاَيْتَ اِذْ اَوَيْنَآ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِنِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَۖ وَمَآ اَنْسٰىنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗۚ وَاتَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ عَجَبًا

63. “Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.”

قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِۖ فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا قَصَصًاۙ

64. “Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.”

وَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

65. “Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”

قَالَ لَهٗ مُوسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

66. “Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”

قَالَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

67. “Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.”

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا

68. “Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

قَالَ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا

69. “Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.”

قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا ࣖ

70. Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.”

فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا

71. “Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”

قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

72. Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا

73. Dia (Musa) berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰٓى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙقَالَ اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً؈ۢبِغَيْرِ نَفْسٍۗ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُكْرًا ۔

74. “Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”

قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

75. Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”

قَالَ اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْۚ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا

76. “Dia (Musa) berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.”

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَتَيَآ اَهْلَ قَرْيَةِ ِۨاسْتَطْعَمَآ اَهْلَهَا فَاَبَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ ۗقَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

77. “Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”

قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَۚ سَاُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا

78. “Dia berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.”

اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَاۗ وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

79. “Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”

وَاَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ اَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا ۚ

80. “Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.”

فَاَرَدْنَآ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا

81. “Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).”

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚفَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗ ࣖ

82. “Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

Apa Komentarmu?

Tulis komentar

ARTIKEL TERKAIT

VIDEO TERKAIT

KOMENTAR

Latest Comment

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama mengirimkan komentar untuk bertukar gagasan dengan pengguna lainnya

TERPOPULER

Advertisement
Advertisement