Hizbullah dan Hamas adalah dua kelompok milisi yang terlibat konflik bersenjata dengan Israel. Kedua organisasi tersebut sama-sama menolak keberadaan Israel di tanah Palestina.
Pasca serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023 lalu, eskalasi konflik Israel dengan dua kelompok tersebut terus meningkat.
Hingga kini, gencatan senjata antara Hamas dan Israel belum menunjukkan titik terang. Sementara konflik Israel dengan Hizbullah terus memanas.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, belum lama ini mengatakan bahwa keputusan untuk melakukan perang habis-habisan dengan kelompok milisi Lebanon tersebut akan segera diambil.
Perbedaan Hizbullah dan Hamas
Kendati kedua kelompok ini sama-sama menentang Israel dan memilih angkat senjata untuk mengusir negara Zionis tersebut, namun keduanya merupakan dua organisasi yang berbeda.
Hizbullah, misalnya, berperang dengan Israel tidak semata-mata demi kemerdekaan Palestina yang jadi tujuan yang dicanangkan oleh Hamas.
Berikut perbedaan antara Hizbullah dan Hamas, dua organisasi yang sama-sama memerangi Israel.
1. Konteks pendirian
Sebagai organisasi perlawanan, Hamas dan Hizbullah didirikan pada masa dan tempat yang berbeda.
Hizbullah berbasis di wilayah selatan Lebanon dan didirikan pada 1982. Organisasi ini didirikan di tengah dua peristiwa penting yang terjadi di Lebanon, yakni perang saudara Lebanon dan invasi Israel ke Lebanon.
Sementara itu, Hamas didirikan pada 1987 di tengah peristiwa intifada pertama, yakni peristiwa perlawanan rakyat Palestina atas pendudukan Israel.
Konteks pendirian kedua organisasi tersebut membuat Hamas dan Hizbullah memiliki tujuan yang tidak sama. Walaupun, baik Hizbullah maupun Hamas sama-sama menetapkan Israel sebagai musuh mereka.
Bagi Hamas, Israel merupakan penjajah yang menduduki tanah Palestina dan memaksa mereka angkat kaki dari tanah air mereka sendiri.
Sementara Hizbullah menetapkan Israel sebagai musuh akibat peristiwa pendudukan negara Zionis tersebut di wilayah selatan Lebanon–basis lokasi Hizbullah berdiri. Selain itu, Israel juga dianggap sebagai salah satu kekuatan Barat yang merusak wilayah Timur Tengah.
2. Perkembangan organisasi
Pada masa awal pendirian keduanya, Hamas dan Hizbullah juga menapaki jalan perkembangan yang berbeda.
Ketika didirikan oleh Syekh Ahmed Yassin, Hamas merupakan cabang dari Gerakan Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang berasal dari Mesir.
Pada mulanya Hamas berfokus pada kegiatan kemanuasian seperti pendidikan dan sosial, mereka berokus mendirikan sekolah, lembaga sosial dan klinik di Gaza dan Tepi Barat.
Sementara Hizbullah sejak awal didirikan sebagai kekuatan politik dan militer di selatan Lebanon.
Sebagai organisasi militer, Hizbullah banyak mendapatkan dukungan dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Iran.
Ketika perang saudara Lebanon berakhir pada 1990, Hizbullah terus berkonflik dengan Israel hingga berakhirnya invasi negara Zionis tersebut di selatan Lebanon pada 2000.
Kendati demikian, keduanya kini berkembang menjadi organisasi serupa, yakni sebagai partai politik yang memiliki sayap militer masing-masing.
Sejak 1992, Hizbullah masuk ke parlemen Lebanon dan pada 2018 lalu mendapatkan suara mayoritas.
Sementara Hamas memenangkan pemilihan parlemen pada 2006 dan menguasai wilayah Jalur Gaza sejak 2007.
3. Tujuan organisasi
Latar belakang pendirian yang berbeda membuat Hamas dan Hizbullah memiliki tujuan utama yang juga berbeda, kendati sama-sama menjadikan Israel sebagai salah satu musuh utama.
Perang saudara Lebanon dan juga peristiwa invasi Israel ke selatan Lebanon membuat Hizbullah memiliki dua tujuan utama, yakni menangkal dan mengusir kekuatan Barat di Timur Tengah dan menghancurkan negara Israel.
Sementara fokus utama Hamas adalah pendirian negara Palestina merdeka yang berdaulat di wilayah yang saat ini merupakan Israel, Tepi Barat, dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.
4. Corak keislaman
Perbedaan lain yang menyolok dari kedua organisasi ini adalah aliran Islam yang berkembang di dalamnya.
Kendati Islam sama-sama menjadi hal penting bagi kedua organisasi tersebut, namun Hamas merupakan penganut Sunni, sementara Hizbullah merupakan penganut Syiah.
Perbedaan aliran Islam di dalam kedua organisasi tersebut menjadi salah satu alasan dari perbedaan sikap Hizbullah dan Hamas dengan Iran yang merupakan negara dengan aliran Syiah.
Baik Hamas maupun Hizbullah mendapatkan dukungan dan pasokan senjata dari Iran, namun Hamas dianggap lebih independen dari Hizbullah yang telah dianggap sebagai proksi Iran.
