Pertandingan Liga 1 Masih Digelar Malam, TGIPF: Ternyata yang Penting Bisnisnya Bukan Keselamatan

18 Desember 2022 16:12 WIB

Narasi TV

Petugas medis memindahkan jenazah korban kerusuhan Stadion Kanjuruhan di RSUD Saiful Anwar, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menyebutkan tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang mengakibatkan sebanyak 131 orang meninggal dunia. ANTARA FOTO/R D Putra/Zk/rwa.

Penulis: Agung Pratama S.

Editor: Akbar Wijaya

Liga 1 musim 2022/2023 resmi bergulir lagi sejak Senin (5/12/2022) setelah selama lebih dari dua bulan berhenti karena tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022) malam lalu.

Namun beberapa pertandingan menjadi sorotan karena masih menerapkan jadwal malam. Memasuki pekan ke-14 sejumlah laga digelar malam:

  • Madura United Fc Vs Bali United digelar 18:15 WIB di Stadion Manguwoharjo, Sleman, DIY.
  • Persita Tangerang Vs Rans Nusantara FC digelar 18.00 WIB di Stadion Sultan Agung, Bantul, DIY.
  • PSIS Semarang Vs Persija Jakarta digelar 20.15 WIB di Stadion Manguwoharjo, Sleman, DIY.
  • Persis Solo Vs Ps Barito Putra digelar 18.00 WIB di Stadion Sultan Agung, Bantul, DIY.
  • Dewa United FC Vs Persib Bandung digelar 20.15 WIB di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah.

Pertandingan malam menjadi salah satu isu krusial dalam temuan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Dalam investigasinya TGIPF menyebut salah satu sebab jatuhnya ratusan korban dalam tragedi itu adalah karena faktor pertandingan antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya digelar malam hari.

Dalam surat FIFA tertanggal 5 Oktober 2022 kepada Presiden Jokowi terkait tragedi Kanjuruhan juga disinggung soal pentingnya aspek jam pertandingan terhadap faktor keamanan dan keselamatan.

Dalam poin keempat dari lima poin yang disampaikan FIFA kepada Presiden Jokowi disampaikan bahwa kick off dilaksanakan tidak terlalu malam. FIFA mengatakan paling lambat kick off dilaksanakan pukul 17.00 atau jam 5 sore.

Selain itu, terkait jadwal pertandingan FIFA merekomendasikan bahwa pertandingan dilakukan pada akhir pekan yakni pada sabtu dan minggu.

FIFA menjelaskan penjadwalan serta waktu pertandingan harus dilakukan dengan tujuan untuk menghindari waktu pertandingan yang dapat meningkatkan profil risiko pertandingan.

FIFA juga berpandangan jadwal pertandingan sebelum malam berpengaruh terhadap mobilitas suporter yang dapat mengurangi beban terhadap transportasi umum. Sehingga para suporter masih dapat mengakses transportasi sesudah pertandingan selesai.

Selain itu, jadwal pertandingan yang terkonsolidasi secara baik atau sebelum malam lebih memungkinkan bagi personel keamanan berkoordinasi dengan baik demi terciptanya pelaksanaan pertandingan yang kondusif.

Ketika terjadi tragedi Kanjuruhan, pertandingan big match antara Arema FC vs Persebaya Surabaya tersebut dilaksanakan pukul 20.00 WIB.

Abaikan Rekomendasi FIFA dan TGIPF

Akmal Marhali, anggota TGIPF sekaligus Koordinator Save Our Soccer (SOS) menilai pertandingan Liga 1 yang kembali bergulir mengabaikan sejumlah rekomendasi FIFA dan TGIPF.

Ia menangkap kesan pemerintah terburu-buru mengambil keputusan padahal rekomendasi belum sepenuhnya dijalankan PSSI.

“Terkesan pemerintah tidak siap untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal ini apa yang disampaikan presiden soal transformasi, sejauh mana transformasi PSSI ini yang ingin dilakukan pemerintah, ini kan tidak jelas dari pemerintah sendiri,” ujar Akmal kepada Narasi, Jumat (16/12/2022).

Akmal menilai tidak ada kejelasan soal wacana transformasi sepak bola Indonesia yang sempat didengungkan pemerintah usai tragedi Kanjuruhan. Pasalnya pemerintah juga tidak membentuk tim atau menunjuk satu lembaga yang khusus bertugas mengawasi transformasi seperti dipidatokan presiden.

Melihat kondisi yang terjadi sekarang Akmal merasa kerja-kerja TGIPF dan janji transformasi sepak bola Indonesia sama sekali tidak bermakna.

Sayangnya, sekarang mau ke mana kita menyampaikan dan melaporkan ini semua, siapa yang melakukan pengawasan dan sebagainya terhadap rencana transformasi sepak bola Indonesia dan perbaikan-perbaikan lainnya,” ucap Akmal.

Pertandingan Tanpa Penonton Bukan Ukuran Perbaikan

Tidak adanya penonton bukan pembenaran untuk mengabaikan rekomendasi TGIPF dan FIFA soal pertandingan sebaiknya diselenggarakan sebelum malam.

Ia menilai masih adanya pertandingan Liga 1 yang digelar malam menunjukkan pembenahan sepak bola Indonesia tidak pernah dilakukan secara konsisten baik oleh federasi seperti PSSI maupun pemerintah.

“Jangan sampai semuanya hanya menjadi ‘macan ompong di atas kertas,’ tidak ada gunanya sama sekali hingga ini akan menjadi preseden buruk bagi sepak bola Indonesia ke depannya,” ucap Akmal.

Jika melihat jadwal Liga 1 pada pekan ke 15, terdapat tiga dari tujuh pertandingan yang jadwal kick off-nya digelar di luar rekomendasi FIFA.

Pertandingan Rans Nusantara VS Bhayangkara FC dilaksanakan pukul 18.00 WIB, Barito Putera vs Persikabo 1973 dilaksanakan pukul 18.15 WIB, dan pertandingan PSIS Semarang vs PSS Sleman dilaksanakan pukul 18.00 WIB. 

Bahkan pada jadwal pekan ke-16, terdapat tiga pertandingan yang digelar pada pukul 20.15 WIB.

Pertandingan tersebut antara Bali United Vs PSS Sleman, Persikabo 1973 Vs Persik Kediri, dan Persija Jakarta Vs Dewa United.

Pertandingan pekan ke-16 yang dilaksanakan sesuai rekomendasi FIFA hanya ada tiga: Persebaya Surabaya Vs Persis Solo, Rans Nusantara Vs Borneo FC, serta Arema FC Vs Madura United yang dilaksanakan pukul 15.00 WIB.

Lebih Penting Bisnisnya

Melihat jadwal-jadwal pertandingan tersebut Akmal berpendapat PSSI dan pemerintah lebih mementingkan aspek bisnis daipada keselamatan, keamanan, dan perbaikan sepak bola.

“Ternyata yang lebih penting saat ini adalah bisnisnya, bukan kemudian kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pascatragedi Kanjuruhan. Yang penting kompetisi jalan, yang penting bisnisnya jalan, tanpa mengindahkan keputusan-keputusan atau rekomendasi-rekomendasi yang telah diberikan, baik itu yang lewat FIFA maupun lewat pemerintah (TGIPF),” ucap Akmal.

Bagi Akmal pertandingan yang tetap dilaksanakan malam membuat rekomendasi dari FIFA dan rencana transformasi menjadi terkesan sia-sia.

Di sisi lain pertandingan malam menurut Akmal juga tidak bagus terhadap kondisi kesehatan pemain. Padahal salah satu dalil Liga 1 digulirkan lagi adalah dalam rangka memperkuat pemain yang membela timnas.

“Kalau mau bicara tentang kepentingan timnas, apa urgensinya kompetisi dibikin stripping gini? Ini akan membuat pemain kelelahan dan sangat merugikan tim nasional” jelas Akmal.

Suporter Kecewa Liga Digelar Sebelum Pengusutan Tuntas

Mimit Tarmidzi, kelompok suporter Madura United Kconk kecewa dengan bergulirnya liga sebelum tragedi Kanjuruhan diusut tuntas

“Seharusnya kompetisi 2022/2023 dibubarkan. Hal ini supaya menjadi catatan untuk ke depannya bahwa ada musim di Liga Indonesia yang merenggut nyawa 135 orang,” kata Cak Mimit kepada Narasi.

Kekecewaan juga disampaikan suporter Aremania Ibrahim Ricky Herdianto yang menjabat sebagai Ketua Korwil Embrant (Embong Brantas).

“Kecewanya dua, yang pertama kecewa kenapa kok masih dimainkan, yang kedua kalau bener-bener main tolong jangan pakai sistem bubble,” ucap Riki panggilan akrabnya.

Riki merasa pelaksanaan liga lebih baik dengan sistem biasa home dan away agar masyarakat dan kelompok suporter bisa mendukung klub kesayangannya.

Riki pun mengatakan sebagai Aremania ia tidak keberatan dengan sanksi larangan untuk mendukung Arema secara langsung di stadion. Namun menurutnya dengan sistem bubble justru memubuat citra Aremania semakin buruk karena semua suporter harus menanggung akibat dari tragedi Kanjuruhan.

Riki mengatakan Aremania masih fokus menyuarakan usut tuntas tragedi Kanjuruhan agar dapat memberi keadilan terhadap para korban. Ia mengaku kecewa dengan sikap manajemen Arema FC yang dinilai belum satu suara dengan para Aremania terkait persoalan ini.

Husin Ghozali atau Cak Conk, Koordinator Green Nord ini sepakat dengan adanya usut tuntas. Namun ia juga menekankan harus adanya introspeksi dari para suporter untuk menciptakan iklim sepak bola Indonesia yang lebih baik.

“Sepakbola Indonesia kedepan harus berubah, harus lebih baik, harus lebih seha. Semuanya harus berubah” ucapnya.

Cak Conk menambahkan bahwa revolusi yang terjadi juga harus ada di tubuh PSSI itu sendiri. Ia mengharapkan PSSI diisi orang-orang baru yang memang memahami sepakbola.

“Federasi ini tetep potong satu generasi ini. Tidak ada orang federasi yang umpamanya menjabat lagi. Satu generasi ini potong, setelah KLB ini enggak ada orang-orang lama-lama itu,” katanya.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR