Pratiwi Sudarmono, Astronot Perempuan Pertama dari Asia asal Indonesia

12 Januari 2023 15:01 WIB

Narasi TV

Foto Pratiwi Sudarmono dalam sesi pemotretan bersama NASA. (Sumber: Twitter/@aisoffice)

Penulis: Moh. Afaf El Kurniawan

Editor: Rizal Amril

Pratiwi Sudarsono merupakan orang pertama dari Indonesia yang menjadi astronot. Tak hanya menjadi yang pertama di Indonesia, perempuan bergelar doktor bidang kesehatan tersebut juga tercatat dalam sejarah sebagai astronot perempuan pertama dari Asia.

Kisah membanggakan tersebut terjadi pada tahun 1986. Kala itu, Pratiwi Sudarmono bekerja sebagai astronot untuk National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Pada tahun tersebut, perempuan kelahiran tanah Bandung tersebut mendapatkan misi menerbangkan pesawat luar angkasa untuk membawa satelit yang direncanakan akan mengorbit ke bumi.

Kala itu, kabar Pratiwi Sudarmono yang akan terbang ke luar angkasa beredar luas secara internasional. Namun, misi tersebut kemudian dibatalkan oleh NASA karena adanya kecelakaan.

Jadi astronot walau tidak bergelar astronom

Bernama lengkap Pratiwi Pujilestari Sudarsono, astronot pertama Indonesia ini lahir pada 31 Juli 1953. Dalam buku Indonesia Destinies (2009) karya Theodore Friend, Pratiwi Sudarmono menceritakan bahwa ia lahir dalam keluarga ningrat Solo.

Sebagai perempuan ningrat, Pratiwi berkisah bahwa jalan menuju cita-citanya sebagai astronot begitu sulit.

Dalam perjalanannya, ia memilih untuk mengikuti studi kedokteran di Universitas Indonesia (UI) dan menerima predikat master pada 1977, alih-alih mengikuti studi astronomi.

Setelah lulus S2 di UI, Pratiwi bekerja sebagai staf pengajar dan peneliti di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UI.

Pada 1980-an, Pratiwi kemudian melanjutkan studinya di Research Institute For Microbial Diseases, Osaka University.

Pratiwi Sudarmono kemudian meraih gelar doktor bidang kedokteran pada 1984 dari Osaka University.

Setahun berselang, pada 1985, mimpi masa kecil Pratiwi Sudarmono untuk menjadi astronot terbuka lebar. Kala itu, Indonesia menjalin kerja sama dengan NASA dalam misi Space Shuttle Columbia STS-61-H yang akan dilakukan pada 24 Juni 1986. 

Misi tersebut bertujuan untuk membawa tiga satelit komersial, yaitu Skynet 4A, Westar 6S, dan Palapa B3. Satelit yang disebut terakhir merupakan milik Indonesia.

Nama Pratiwi Sudarmono dipilih dari 207 kandidat yang akan diikutkan dalam misi tersebut.

Gagal berangkat karena insiden memilukan

Pratiwi Sudarmono dijadwalkan akan terbang ke luar angkasa pada 24 Juni 1986, namun misi tersebut dibatalkan oleh NASA. 

Pembatalan tersebut terjadi karena insiden meledaknya pesawat Space Shuttle Challenger pada 28 Januari 1986, lima bulan sebelum keberangkatan Pratiwi Sudarmono.

Space Shuttle Challenger meledak di udara setelah hanya 73 detik lepas landas dari Cape Canaveral, Florida, AS. Insiden ini menewaskan ketujuh astronot di dalamnya dan ditayangkan secara internasional.

Tragedi memilukan ini mendorong NASA untuk membatalkan sederet misi penerbangan luar angkasa lainnya, termasuk penerbangan Columbia Shuttle milik Pratiwi, yang dijadwalkan berangkat pada 24 Juni 1986.

Demikian informasi seputaran Pratiwi Sudarmono, sosok perempuan pertama di Indonesia bahkan Asia yang dipilih NASA untuk bergabung dalam misi penerbangan luar angkasa. 

Meski gagal berangkat, namun capaian Pratiwi Sudarmono merupakan capaian yang membanggakan untuk publik Indonesia.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR