Profil Anies Baswedan, Catatan Singkat Perjalanan Karier Capres Koalisi Perubahan

12 Desember 2023 19:12 WIB

Narasi TV

Pasangan Capres dan Cawapres nomor urut satu dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan (dua kiri) dan Muhaimin Iskandar (dua kanan) didampingi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hasyim Asy'ari (kanan) dan Anggota Komisioner KPU Idham Holik (kiri) berfoto bersama saat Rapat Pleno Terbuka Pengundian dan Penetapan Nomor Urut Pasangan Capres dan Cawapres Pemilu Tahun 2024 di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (14/11/2023). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/aa.

Penulis: Moh. Afaf El Kurniawan

Editor: Rizal Amril

Anies Rasyid Baswedan merupakan capres yang diusung oleh Koalisi Perubahan yang diisi oleh Partai NasDem, PKS, dan PKB untuk Pemilu 2024.

Sebelum diusung sebagai capres, Anies Baswedan merupakan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Dalam Pemilu 2024, Anies Baswedan berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin sebagai cawapresnya.

Sebelum dikenal sebagai politisi, Anies Baswedan lebih dulu dikenal sebagai seorang cendekiawan lulusan Amerika Serikat.

Profil Anies Baswedan

Lahir dengan nama lengkap Anies Rasyid Baswedan, pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat pada 7 Mei 1969 ini merupakan anak tertua dari tiga bersaudara.

Ayah Anies, Rasyid Baswedan, adalah seorang pengajar di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, sementara ibunya, Aliyah, adalah seorang pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta.

Anies menghabiskan masa kecilnya di Yogyakarta, menyelesaikan pendidikannya di SD IKIP Laboratori II Yogyakarta (sekarang SDN Percobaan 2) pada 1982, SMPN 5 Yogyakarta pada 1985, dan SMAN 2 Yogyakarta pada 1985.

Saat SMA, Anies menjadi Ketua OSIS di SMAN 2 Yogyakarta dan Ketua OSIS seluruh Indonesia. Ia juga mengikuti program American Field Service (AFS) dan bersekolah selama setahun di Senior High School South Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.

Anies melanjutkan pendidikan sarjananya jurusan ekonomi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dari tahun 1989 hingga 1995.

Saat berkuliah, Anies menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM pada tahun 1992. Ia mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines Foundation untuk bidang Asian Studies di Sophia University, Tokyo, Jepang, pada tahun 1993.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi, UGM selama satu tahun. Pada 11 Mei 1996, Anies menikah dengan Fery Farhati Ganis. Dari pernikahan tersebut, Anies dan Fery dikaruniai empat orang anak, yaitu Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam, dan Ismail Hakim.

Anies kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan master di bidang international security and economic policy di University of Maryland, College Park. Dia lulus dari kampus di Amerika Serikat itu pada tahun 1998.

Dia lalu melanjutkan jenjang S3 dengan mengambil jurusan ilmu politik di Northern Illinois University, AS dan lulus pada tahun 2004. Selama di sana, Anies bekerja sebagai asisten riset di The Office of Research, Evaluation, and Policy Studies, Northern Illinois University.

Selanjutnya, dia bekerja sebagai manajer riset di IPC Inc, Bannockburn, Illnois, Amerika Serikat sampai 2005. Namanya mulai menasional setelah menyandang gelar doktor di AS dan kembali ke Indonesia.

Pada 2005, Anies langsung menjabat sebagai peneliti senior di Lembaga Survei Indonesia sampai tahun 2007. Pada tahun yang sama, Anies juga menjabat sebagai Direktur Riset The Indonesian Institute.

Anies kemudian menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina pada 2007. Saat itu, ia menjadi rektor termuda di Indonesia lantaran usianya masih 38 tahun.

Pada 2010, Anies menginisiasi Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk mendorong kemajuan pendidikan di Indonesia dengan mengirimkan para pemuda Indonesia mengajar Sekolah Dasar (SD) di pelosok Indonesia.

Atas gerakan tersebut, Anies masuk ke dalam daftar The 500 Most Influential Muslims pada Juli 2010. Dia juga mendapatkan penghargaan dari The Association of Social and Economic Solidarity with Pacific Countries (PASIAD) di kategori pendidikan pada 2010.

Tak hanya itu, Anies meraih Nakasone Yasuhiro Award pada Juni 2010. Selain itu, dia menjadi 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight Japan pada 2010.

Memasuki tahun 2013, Anies masuk ke dunia politik dengan menjadi peserta konvensi calon presiden dari Demokrat. Dia juga bergabung dengan tim pemenangan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014 sebagai juru bicara kampanye.

Pada 27 Oktober 2014, Anies dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Selama menjabat sebagai menteri, Anies melakukan program kerja untuk mengembalikkan kurikulum pendidikan 2006 serta menerapkan kurikulum 2013 di sekolah terbatas.

Dia juga mengubah Ujian Nasional (UN) bukan sebagai ukuran kelulusan utama. Lebih lanjut, Anies membuat program uji kompetensi serta sertifikasi guru dan menghapus masa orientasi sekolah (MOS) menjadi pengenalan lingkungan sekolah.

Setelah jabatannya selesai pada pertengahan 2016, dia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta bersama Sandiaga Uno untuk masa jabatan 2017-2022. Pasangan tersebut diusung Gerindra, Perindo, dan Partai Idaman.

Anies-Sandi memenangkan kontestasi politik itu melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni. Keduanya pun dilantik untuk memimpin Jakarta pada 16 Oktober 2017.

Selama masa pemerintahannya, Anies melakukan pembatalan perizinan reklamasi tiga belas pulau di Teluk Utara Jakarta. Dia juga membangun Stadion Internasional Jakarta dan merevitalisasi kanal banjir sungai di ibu kota.

Lebih lanjut, Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Anies berhasil menggelar Formula E. Pemprov DKI juga berhasil membangun aplikasi JAKI yang berisikan banyak layanan publik di dalamnya.

Pada 13 November 2023, Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan Anies Baswedan sebagai calon Presiden dalam pemilihan umum 2024. Anies dibersamai dengan Muhaimin Iskandar atau kerap dikenal Cak Imin dengan usungan Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Ummat.

Adapun pasangan tersebut mengusung visi yakni “Indonesia Adil Makmur untuk Semua”. 

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR