Profil Shinta Ratri, Transpuan Pejuang HAM dengan Segudang Penghargaan

2 Februari 2023 19:02 WIB

Narasi TV

Foto mendiang Shinta Ratri dalam akun Instagram pribadinya. (Sumber: Instagram/shintaratri17)

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Shinta Rathi, seorang transpuan yang juga pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Waria Al Fatah Yogyakarta, meninggal dunia. Shinta meninggal di RSUD Wirosaban pada Rabu (01/02//2023) karena serangan jantung.

Manajer Program Yayasan Kebaya, Rulli Mallay, menjelaskan bahwa Shinta sempat dilarikan ke Rumah Sakit Hidayatullah karena sakit perut.

"Sama dokter IGD katanya boleh pulang. Habis itu dirawat di rumah dua hari," kata Rully, dikutip dari Kompas.com.

Semasa hidupnya ia dikenal begitu vokal dalam memperjuangkan hak-hak transpuan, salah satunya adalah hak beribadah.

Profil Shinta Ratri

Shinta Ratri lahir pada 15 Oktober 1962, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pengrajin di Kotagede.

Memiliki nama lahir Tri Santoso Nugroho, Shinta mengenyam Pendidikan di di SMPN 9 dan SMAN 5 Yogyakarta. 

Setelah meluluskan jenjang sekolah menengahnya, ia pun melanjutkan pendidikannya di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.

Perjalan Shinta memperjuangkan hak beribadah transpuan lewat ponpes Al Fatah dimulai sejak tahun 2008. 

Bersama beberapa waria lainnya, ia mendirikan ponpes tersebut sebagai tempat ibadah yang aman bagi transpuan.

Pendirian ponpes tersebut tercetus pasca gempa yang mengguncang Yogyakarta pada 2006 silam. Setelah peristiwa memilukan tersebut, banyak waria muslim yang kesulitan untuk melakukan ibadah.

Shinta dan beberapa waria lainnya kemudian menginisiasi pendirian ponpes Al Fatah untuk mengakomodir kebutuhan waria di Yogyakarta tersebut.

Ponpes yang berlokasi di wilayah Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki kegiatan layaknya ponpes pada umumnya yaitu mengaji, salat berjamaah, mengulas dan belajar tafsir Al-Quran.

Jalan terjal meraih hak ibadah

Perjuangan Shinta Ratri selama menjadi pendiri dan pengasuh ponpes Al Fatah tidaklah mudah. Untuk mendapatkan haknya untuk beribadah, tak jarang jalan terjal harus dilalui.

Salah satunya terjadi ketika ponpes Al-Fatah digeruduk kelompok Front Jihad Islam (FJI) pada 2016 lalu.

Melansir Tempo.co, Jumat siang, 19 Februari 2016, belasan orang dari FJI menggeropyok ponpes Al-Fatah. 

Kelompok FJI menuding jika kegiatan pesantren yang dipimpin oleh Sinta ini mengajarkan aliran yang sesat, mereka meminta pesantren Al Fatah dibubarkan dan menyuruh  untuk bertaubat serta kembali menjadi laki-laki.

Peristiwa tersebut membuat ponpes Al-Fatah sempat ditutup oleh pemerintah Yogyakarta dengan alasan tidak berizin dan meresahkan masyarakat. 

Akan tetapi, Shinta Ratri dan waria lainnya tidak menyerah. Mereka kembali membuka lagi ponpes Al-Fatah pada Juni 2016 setelah mendapatkan dukungan berbagai pihak dan jaminan keamanan dari polisi.

Tidak hanya itu Sinta dan para santri Al Fatah kerap mendapat pengakuan buruk seperti dituduh menyebarkan hal-hal negatif, seperti pernikahan sesama jenis, tempat mabuk berkedok pesantren, hingga ajaran sesat. 

Berkat kesabaran dan keteguhannya tersebut, Shinta Ratri menerima banyak penghargaan seperti penghargaan dari Front Line Defenders, organisasi internasional untuk perlindungan pembela HAM berbasis di Irlandia di tahun 2019. 

Penghargaan tersebut biasa diberikan kepada pembela HAM berisiko tinggi mendapatkan kekerasan

Tidak tanggung-tanggung Shinta juga dinobatkan sebagai pejuang HAM di kawasan Asia Pasifik. 

Tahun 2022 ia juga kembali meraih penghargaan dalam bidang keanekaragaman dan pembangunan berkelanjutan dari lembaga Casa Asia yang berbasis di Spanyol.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR