Khulafaur Rasyidin memiliki peran penting dalam perkembangan peradaban Islam, baik saat Nabi Muhammad saw. masih hidup maupun setelah beliau wafat.
Melansir NU Online, khulafaur rasyidin adalah empat orang khalifah yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat.
Empat tokoh pimpinan kaum muslimin yang memiliki gelar khulafaur rasyidin adalah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Tugas seorang khulafaur rasyidin
Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, Rasulullah mewarisi kekuasaan Islam yang besar di dunia.
Selama hidupnya, Nabi Muhammad saw. tidak hanya menjalankan tugas sebagai rasul, tetapi juga sebagai pemimpin umat Islam.
Pada masa-masa tersebut, Rasulullah memiliki dua tugas, yakni tugas kenabian dan tugas kenegaraan.
Meskipun tugas kenabian telah selesai setelah wafatnya Nabi Muhammad dan tak dapat digantikan oleh orang lain, namun tugas kenegaraan perlu diwariskan.
Maka khulafaur rasyidin kemudian bertugas menggantikan kepemimpinan Rasulullah dalam masalah kenegaraan yaitu sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan dan pemimpin agama.
Tugas khulafaur rasyidin sebagai kepala negara adalah mengatur kehidupan rakyatnya agar tercipta kehidupan yang damai, adil, makmur, aman, dan sentosa.
Sedangkan sebagai pemimpin agama, khulafaur rasyidin bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan.
Khulafaur rasyidin dan kisah hidupnya
Berikut kisah hidup empat tokoh khulafaur rasyidin berdasarkan urutan kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.
1. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)
Abu Bakar Ash-Shiddiq bernama lengkap Abdullah ibn Abi Quhaifah Attamini. Pada era pra-Islam, ia memiliki nama Abdullah ibnu Ka’bah yang kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah.
Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama. Julukan “Abu Bakar” (Bapak Pemagi) disematkan kepadanya karena dari pagi-pagi betul memeluk agama Islam (termasuk yang pertama jadi umat Nabi Muhammad).
Gelar ash-Shiddiq diberikan kepada Abu Bakar karena ia selalu membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa, terutama Isra’ Mi’raj.
Oleh karenanya, Nabi Muhammad sering kali menunjuk Abu Bakar untuk mendampinginya di saat penting atau jika berhalangan, dan Rasul tersebut mempercayainya sebagai pengganti untuk menangani tugas-tugas keagamaan.
Masa awal pemerintahan Abu Bakar sebagai khalifah banyak diguncang oleh pemberontakan orang-orang murtad yang mengaku-ngaku menjadi nabi dan enggan membayar zakat, karena hal inilah khalifah lebih memusatkan perhatiannya memerangi para pemberontak, maka dikirimlah pasukan untuk memerangi para pemberontak ke Yamamah.
Dalam insiden itu banyak penghafal Al-Qur’an yang meninggal dan nantinya hal ini menjadi salah satu alasan munculnya ide mendokumentasikan Al-Qur’an yang sebelumnya diturunkan melalui hafalan.
Abu Bakar awalnya hanya berniat untuk mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an agar tidak saling berpencar, namun Umar bin Khattab mengusulkan agar Al-Qur’an dicatat dalam mushaf-mushaf agar tidak hilang dan pada akhirnya Abu Bakar menyetujuinya.
Abu bakar menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Selain menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam tubuh umat islam, Abu Bakar juga mengembangkan wilayah Islam ke luar Arab.
Dalam kepemimpinannya, Abu Bakar melaksanakan kekuasaannya sebagaimana pada masa Rasulullah, bersifat sentral dengan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang terpusat di tangan khalifah.
2. Khalifah Umar Ibnu al-Khathab (13-23 H / 634-644 M)
Dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw., Umar bin Khattab merupakan anak dari pasangan bernama Khattab dan Khotimah.
Umar dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy dan menjadi khalifah kedua setelah Abu Bakar As Siddiq.
Khalifah kedua itu dinobatkan sebagai khalifah pertama yang sekaligus memangku jabatan panglima tertinggi pasukan islam, dengan gelar khusus amir al-mukminin (panglima orang-orang beriman).
Pada masa umar bin Khattab, kondisi politik dalam keadaan stabil, usaha perluasan wilayah Islam mendapatkan hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa Umar bin Khattab meliputi Semenanjung Arabiah, Palestina, Syria, Irak, Persia, dan Mesir.
Umar Bin Khattab wafat karena ditikam ketika sedang melakukan salat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah, budak milik al-Mughirah bin Syu’bah yang diduga mendapat perintah dari kalangan Majusi.
Umar dikenal seseorang yang pandai dalam menciptakan peraturan, karena tidak hanya memperbaikinya, tetapi juga mengkaji ulang terhadap kebijakan yang telah ada.
Khalifah Umar juga telah juga menerapkan prinsip demokratis dalam kekuasaan yaitu dengan menjamin hak yang sama bagi setiap warga negara.
Khalifah Umar terkenal seorang yang sederhana bahkan ia membiarkan tanah dari negeri jajahan untuk dikelola oleh pemiliknya bahkan melarang kaum muslimin memilikinya, sedangkan para prajurit menerima tunjangan dari Baitul Mal, yaitu dihasilkan dari pajak.
3. Khalifah Ustman ibn Affan (23-35 H / 644-656 M)
Nama lengkapnya ialah Utsman bin Affan ibn abdil Ash bin Umayyah dan ia memiliki darah kaum Quraisy dalam dirinya. Ia memeluk Islam lantaran ajakan Abu Bakar, dan menjadi salah seorang sahabat dekat Nabi.
Masa pemerintahannya adalah yang terpanjang dari semua khalifah di zaman khulafaur rasyidin, yaitu 12 tahun.
Ustman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid di Madinah.
Prestasi yang terpenting bagi Khalifah Utsman adalah menulis kembali Al-Qur’an yang telah ditulis pada zaman Abu Bakar yang pada waktu itu disimpan oleh Khafsoh binti Umar.
Situasi politik pada masa akhir pemerintahan Utsman semakin mencekam dan timbul pemberontakan-pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Utsman.
Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada hari Jumat tanggal 17 Dzulhijjah 35 H/655 M ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat membaca Al-Qur’an.
4. Khalifah Ali bin Abi Thalib (35-40 H / 656-661 M)
Peristiwa pembunuhan Utsman mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara.
Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain mempercayakan Ali Bin Abi thalib menjadi khalifah.
Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikitpun dalam pemerintahannya yang dikatakan stabil.
Persoalan pertama yang dihadapi Ali adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman dan mereka menuntut terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim.
Bersamaan dengan itu, kebijakan-kebijakan Ali Juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus. Muawiyah yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.
Peristiwa yang terkenal dalam masa Ali adalah terjadinya perang antara kubu Ali dan kubu Muawiyah. Perang tersebut terjadi di daerah bernama Siffin, sehingga perang ini disebut sebagai perang Siffin.
