Kisah Pilu Sutan Sjahrir, Perdana Menteri yang Disebut Mirip Gibran Rakabuming

24 Oktober 2023 06:10 WIB

Narasi TV

Delegasi Indonesia tiba sebelum sidang DK PBB ke-181 (kiri ke kanan): Menteri Luar Negeri RI Agoes Salim; Menteri Keuangan Dr. Soemitro; mantan Perdana Menteri Sutan Sjahrir; dan Menteri Luar Negeri C. Thamboe. (Sumber: Dok. PBB)

Penulis: Elok Nuri

Editor: Rizal Amril

Gibran Rakabuming Raka disebut mirip dengan salah satu Bapak Bangsa Sutan Sjahrir karena masuk ke eksekutif di usia muda. Meski sama-sama muda sebagaimana Sjahrir, apakah Gibran bisa dibilang setara?

Ungkapan mengenai Sjahrir dan Gibran tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto ketika mendeklarasikan putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto.

"Tadi saya cerita ke Pak Prabowo, pada waktu Indonesia merdeka, kepala pemerintahan atau perdana menteri Sutan Sjahrir umurnya pun 36 tahun, jadi muda juga, mas," kata Airlangga dalam Rapimnas II Partai Golkar di Kantor DPP, Sabtu (21/10/2023), dikutip dari CNN Indonesia.

Sutan Sjahrir memang berusia 36 tahun ketika tercatat dalam sejarah sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia. Namun, sebelum menduduki jabatan tersebut, Sjahrir sudah lama dikenal di dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Melansir Majalah Tempo edisi 9-15 Maret 2009, jejak politiknya bahkan telah bermula sejak remaja, ketika ia bersekolah di Algemene Middelbare School (AMS), sekolah menengah kala masa kolonial Belanda.

Lantas, bagaimana rekam jejak Bapak Bangsa yang akrab disapa dengan nama Bung Kecil tersebut?

Profil Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909, ia dilahirkan dari keluarga terpandang di Sumatera. 

Ayahnya adalah seorang penasilah Sultan Deli dan juga Kepala Jaksa di Medan. Ayahnya bernama Mohammad Rasyad dan ibunya bernama Puti Siti Rabiah. 

Sebagai anak dari keluarga terpandang, Sjahrir memiliki kemewahan mengenyam pendidikan Belanda.

Pendidikan menengah-dasarnya diraih dari pendidikan Belanda, seperti Europeesche Lagere School (ELS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan Algemene Middelbare School (AMS).

Menurut keterangan Des Alwi, sebagaimana dikutip dari Majalah Tempo edisi 9-15 Maret 2009, kehidupan Sjahrir ketika mengenyam pendidikan menengah atas di AMS membuka ketertarikannya akan topik kebangsaan.

Bermula dari mendengarkan pidato tokoh pergerakan Dr Cipto Mangunkusumo di salah satu alun-alun di Bandung, Sjahrir kemudian aktif dalam perkumpulan pemuda, ikut mendirikan Jong Indonesie, melakukan debat-debat tentang kebangsaan dengan para pemuda, dan karenanya dimata-matai polisi.

Kuliah yang tak pernah ia selesaikan

Setelah lulus dari AMS di Bandung, Sjahrir memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam.

Ketika bersekolah di AMS, Sjahrir remaja memang mengambil jurusan Barat klasik, jurusan yang biasa dilalui oleh para jaksa kala itu, sebagaimana ayahnya.

Kemudian, pada 1929, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sjahrir menginjakkan kaki di Negeri Kincir Angin tersebut.

Dalam bukunya berjudul Renungan Indonesia (1947) yang diterbitkan jauh setelah kedatangannya ke Belanda, Sjahrir menjelaskan bahwa ia tak henti-hentinya heran ketika pertama kali datang ke Negeri Ratu Wilhelmina tersebut.

"Tak ada yang melebihi keheranan saya ketika tiba di Belanda," tulisnya dalam buku tersebut. "Bulan-bulan pertama selalu terkenang."

Akan tetapi, agaknya keheranan yang mendapat makna spesial dalam benak Sjahrir tersebut bukan ia tujukan pada bagaimana Universitas Amsterdam menjalankan pendidikannya.

Ketimbang bergelut dengan kelas-kelas hukum di universitas tersebut, Sjahrir lebih sering mangkir dan kelayapan di kota untuk melihat pusat kebudayaan dan tempat-tempat berkumpulnya mahasiswa.

Sjahrir muda disebut sering mengikuti diskusi dengan Sociaal Democratische Studenten Club, sebuah perkumpulan mahasiswa berhaluan sosial demokrat di Amsterdam yang berafiliasi dengan Partai Sosialis Demokrat Belanda (SDAP).

Kuliah Sjahrir di Amsterdam kian terbengkalai dan ia kemudian memutuskan untuk pindah dan mendaftar ke Leiden School of Indology, sekolah yang diajar oleh tokoh intelektual ternama Belanda seperti Ch. Snouck Hurgronje.

Berbeda dengan kuliahnya di Universitas Amsterdam, Sjahrir lebih menata diri ketika bersekolah di Leiden School of Indology.

Masa-masa kuliahnya di sana ia lakukan sembari tetap aktif bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa berhaluan kiri.

Sjahrir juga tercatat pernah bekerja untuk Sekretariat Federasi Buruh Transpor Internasional untuk mendapat uang saku setelah tak lagi menerima kiriman dari ayahnya.

Pekerjaan sambilan tersebut turut mempererat hubungan Sjahrir dengan kaum buruh di sana.

Akan tetapi, kendati Sjahrir memiliki kehidupan yang lebih tertata untuk menyelesaikan studinya di Leiden, pada akhirnya, ia tak pernah menyelesaikannya.

Sjahrir pulang ke Tanah Air pada pertengahan November 1931 ketika kuliahnya belum sempat ia selesaikan. 

Hal tersebut, ia lakukan setelah seniornya di Perhimpunan Indonesia dan kawan diskusinya di jurnal De Socialist, Mohammad Hatta, memintanya pulang.

Rekam jejak era gerakan kemerdekaan

Sutan Sjahrir turun langsung dalam gerakan kemerdekaan Indonesia ketika ia kembali ke Tanah Air pada pertengahan November 1931.

Ketika Soekarno diasingkan Belanda karena aktivitasnya di PNI, Sjahrir diminta Hatta untuk terlibat langsung dalam gerakan kemerdekaan di Indonesia.

Di Indonesia, Sjahrir menjadi Ketua Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru atau PNI Pendidikan).

PNI Baru adalah sebuah partai yang baru dibentuk dan Sjahrir bekerja untuk mempersiapkan partai tersebut untuk kedatangan Hatta yang akan menjadi ketua setelahnya.

Setelah Hatta kembali dan menjadi Ketua PNI Baru, keduanya kemudian berhasil membuat partai tersebut menjadi salah satu motor politik gerakan kemerdekaan Indonesia.

Keduanya juga mengasuh surat kabar Daulat Ra’jat yang berperan penting dalam persebaran ide kebangsaan kala itu.

Upaya tersebut berbuah keduanya ditangkap Belanda dan diasingkan ke Boven Digoel, Papua, pada Desember 1934.

Total, Sjahrir dan Hatta diasingkan selama delapan tahun oleh Belanda, dua tahun di Boven Digoel dan enam tahun di Banda Neira, Maluku.

Berakhirnya pengasingan Sjahrir dan Hatta sebenarnya lebih dikarenakan kekalahan blok Sekutu atas Jepang pasca peristiwa Pearl Harbour pada Desember 1941.

Jepang yang mengambil alih kepemimpinan Hindia-Belanda membuat Sjahrir-Hatta kembali ke Pulau Jawa.

Dari Banda Neira, Sjahrir-Hatta dibawa ke Sukabumi dan di kompleks polisi Sukabumi tersebut keduanya bertemu dengan Sastra, kawan ketika menjalankan PNI Baru yang sudah dibubarkan.

Dalam buku Mengenang Sjahrir (1980) yang dihimpun dan disunting Rosihan Anwar, Sastra menyatakan bahwa ia, Sjahrir, dan Hatta menentukan siasat untuk menyikapi kedatangan Jepang.

Dalam pertemuan ketiganya tersebut, sebuah siasat ditentukan. Hatta akan berpura-pura menjadi kolaborator Jepang dan membersamai Soekarno, sementara Sjahrir bergerak di akar rumput untuk mempersiapkan kemerdekaan dari bawah tanah.

“Kalau Bung Hatta ditanyai tentang Sjahrir, dia bilang Sjahrir terganggu pikirannya dan agak sinting,” tulis Sastra dalam buku Mengenang Sjahrir.

Sejak pertemuan tersebut, Sjahrir kemudian hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menjalin jaringan pro-kemerdekaan di Pulau Jawa.

Berkat kegiatan Sjahrir di bawah tanah tersebut, jaringan kemerdekaan menguasai ladang minyak di Surabaya dan membangun Koperasi Rakyat Indonesia sebagai kedok persiapan kemerdekaan di Bandung.

Setelah Soekarno kembali dari pembuangan, siasat tersebut terus dijalankan oleh Sjahrir, sampai ketika Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dilakukan.

Jadi perdana menteri dan siasat diplomasi

Pada 14 November 1945, setelah intrik perpindahan sistem presidensial ke parlementer, Sutan Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menteri Indonesia ketika berusia 36 tahun.

Tak hanya posisi perdana menteri, Sjahrir juga ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri dan Dalam Negeri sekaligus.

Jabatan tersebut diemban Sjahrir secara singkat. Tercatat, ia menjadi Perdana Menteri hanya dalam dua tahun hingga 1947.

Akan tetapi, kontribusi Sjahrir dalam waktu yang singkat tersebut tak bisa dipandang remeh.

Ia berhasil membuat Belanda menandatangani perjanjian Linggarjati pada 25 Maret 1947.

Ia juga menjalankan politik luar negeri dengan India melalui bantuan pasokan beras di tengah blokade Belanda untuk menghimpun dukungan publik internasional.

Puncaknya, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I, perjanjian Linggarjati yang diusahakan Sjahrir mengharuskan penyelesaian konflik dibawa ke PBB.

Sjahrir bertolak ke Amerika Serikat pada 14 Agustus 1947 untuk mengikuti sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Success, AS.

Dalam sidang tersebut, Bung Kecil membacakan pidato yang oleh New York Tribune Herald disebut sebagai “salah satu yang paling menggetarkan di Dewan Keamanan”.

Pidato tersebut, meski tidak dipandang berhasil pada mulanya, menjadi pintu masuk dukungan komunitas internasional kepada Republik Indonesia.

Pada 30 Juli 1947, India dan Australia mengajukan surat permintaan agar konflik Indonesia-Belanda dibahas dalam rapat Dewan Keamanan PBB. Rapat tersebut kemudian mendelegitimasi aksi Belanda melakukan serangan ke Indonesia.

Kisah pilu akhir hidup Sutan Syahrir

Sikap "galak" Sjahrir yang tak segan mengkritik semua kubu yang ia pandang salah membuatnya tak disukai banyak pihak.

Pada 1948, ketika Sjahrir tak lagi menjadi Perdana Menteri, ia kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PSI ikut dalam Pemilu 1955 namun tidak dapat berbicara banyak setelah hanya memperoleh 1,99 persen suara.

PSI yang dipimpin Sjahrir kemudian menjadi oposisi pemerintah dan kerap melayangkan kritik tajak ke pemerintahan Soekarno. Buntutnya, PSI dibubarkan Soekarno pada 1960.

Dua tahun pasca pembubaran PSI, Sjahrir ditangkap pada 1962 karena dianggap ikut serta dalam gerakan makar dan ditangkap di penjara Madiun, Jawa Timur.

Akan tetapi, tak lama mendekam di penjara Madiun, Bung Kecil jatuh sakit.

Kondisi kesehatan Sjahrir tersebut membuatnya harus dibawa ke rumah sakit di luar negeri untuk mendapatkan perawatan intensif. Setelah mendapatkan lampu hijau dari Soekarno, Bung Kecil dilarikan ke Zurich, Swiss.

Swiss menjadi tempat terakhir Sjahrir menghela napas. Pada 9 April 1966, ia dinyatakan meninggal dunia karena serangan stroke.

Sutan Sjahrir, yang punya andil besar dalam kemerdekaan Indonesia, harus menghembuskan napas terakhirnya di negeri yang jauh dari Tanah Air yang ia perjuangkan.

NARASI ACADEMY

TERPOPULER

KOMENTAR